Waspada Cuaca Ekstrem di Tengah Euforia Mudik Nataru
- 14 Des 2025 12:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
MUDIK Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diproyeksikan berlangsung dalam situasi cuaca nasional yang lebih berisiko. Pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan perjalanan karena potensi gangguan cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Lonjakan mobilitas masyarakat diperkirakan terjadi bersamaan dengan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi. Koordinasi lintas sektor dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keselamatan perjalanan selama periode libur panjang.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memetakan peningkatan potensi cuaca ekstrem menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kepala BMKG, Teuku Faisal menyampaikan periode tersebut rawan hujan lebat disertai angin kencang di banyak wilayah.
Ia menjelaskan dinamika atmosfer regional mendorong peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Penguatan Monsun Asia disebut menjadi faktor utama meningkatnya hujan pada akhir Desember hingga awal Januari.
“Di bulan Januari nanti itu di seluruh daerah Jawa, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Papua Selatan ini akan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, antara 300 sampai 500 mm per bulan,” kata Teuku Faisal dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah, di Jakarta, Senin (1/12/2025). BMKG mencatat tren peningkatan intensitas hujan mulai terjadi sejak pertengahan Desember di berbagai daerah.
Selanjutnya, Siklon Tropis Picu Hujan Ekstrem hingga Gelombang Tinggi
BMKG juga mewaspadai potensi pertumbuhan bibit siklon tropis di perairan selatan Indonesia. Bibit siklon tersebut berpotensi memicu hujan ekstrem, angin kencang serta gelombang laut tinggi.
“Ini yang harus kita waspadai memasuki nataru bahwa di daerah-daerah Jawa, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Papua Selatan itu berpotensi terjadi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi,” ujar Teuku Faisal. Dampak siklon dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan transportasi laut nasional.
BMKG memetakan wilayah rawan meliputi Sumatera bagian selatan dan selatan Pulau Jawa. Wilayah Bali Nusa Tenggara Maluku hingga Papua juga masuk kategori waspada cuaca ekstrem.
Peringatan cuaca tersebut menjadi dasar mitigasi sektor transportasi dan infrastruktur nasional.
Pemerintah menilai langkah antisipasi perlu dilakukan lebih awal sebelum puncak arus mudik.
Namun, ancaman cuaca ekstrem tidak berdiri sendiri tanpa pengaruh lonjakan pergerakan masyarakat. Tekanan terhadap sistem transportasi nasional diperkirakan meningkat tajam selama periode Nataru.
Selanjutnya, Lonjakan Mobilitas dan Tantangan Transportasi Nasional
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan peningkatan signifikan pergerakan masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi mengatakan lonjakan mobilitas tersebut didominasi penggunaan kendaraan pribadi di jalur darat.
“Moda transportasi yang paling banyak dipilih masyarakat dengan 51,12 juta orang memilih menggunakan mobil pribadi,” kata Dudy Purwagandhi dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI, di Jakarta, Senin (8/12/2025). Jumlah tersebut setara 42,78 persen dari total responden survei nasional Kementerian Perhubungan.
Lonjakan kendaraan pribadi meningkatkan tekanan pada ruas tol dan jalan arteri nasional. Kemenhub juga menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk menjaga kelancaran perjalanan.
Puncak arus mudik diprediksi terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025. Sementara puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada Jumat, 2 Januari 2026.
“Tanggal-tanggal ini selanjutnya akan menjadi fokus pembatasan lalu lintas, penambahan layanan, dan pengaturan operasional transportasi,” ujar Dudy Purwagandhi. Pengaturan dilakukan pada moda darat, laut, udara, serta perkeretaapian nasional.
Simpul transportasi terpadat diprediksi terjadi di Bandara Soekarno Hatta dan Stasiun Pasar Senen. Pelabuhan penyeberangan Merak dan Bakauheni juga diperkirakan mengalami lonjakan penumpang signifikan.
Kondisi cuaca ekstrem berpotensi memperbesar risiko keterlambatan dan gangguan operasional transportasi. Kemenhub berkoordinasi intensif dengan BMKG untuk mitigasi risiko cuaca.
Namun, tantangan mudik tidak hanya terkait operasional transportasi semata. Kesiapan infrastruktur dasar turut menjadi sorotan serius.
Selanjutnya, DPR Ingatkan Risiko Infrastruktur di Tengah Cuaca Buruk
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus menyoroti persoalan mudik yang terus berulang setiap tahun. Kemacetan dan keselamatan pengguna jalan dinilai masih menjadi tantangan utama.
“Di darat ini meluas, mulai dari Jakarta keluar dan masuk kembali ke Jakarta,” ujar Lasarus Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Kepala BMKG, dan Kepala Basarnas, di Jakarta, Senin (8/12/2025). Pembangunan jalan tol dinilai membantu tetapi belum sepenuhnya menyelesaikan kemacetan.
Lasarus mendorong penguatan transportasi massal berbasis rel secara konsisten. Menurutnya kereta api menjadi solusi jangka panjang pengurangan kemacetan.
“Karena kereta api itu pasti tidak macet, karena kereta api ini punya jalurnya sendiri, ini kita perkuat untuk di Pulau Jawa dan Sumatera,” kata Lasarus. Integrasi antarmoda dinilai perlu diperkuat agar mobilitas lebih efisien.
Ia juga menyoroti persoalan kendaraan over dimension over loading (ODOL) di jalan nasional. ODOL dinilai mempercepat kerusakan jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
“Kita sepakat 2027 ODOL harus selesai apapun risikonya,” ujar Lasarus. DPR meminta penegakan aturan dilakukan konsisten tanpa kompromi.
Sorotan DPR mempertegas pentingnya kesiapan teknis infrastruktur nasional. Kementerian Pekerjaan Umum memastikan langkah antisipasi telah disiapkan.
Selanjutnya, Kesiapan Jalan dan Titik Rawan Bencana
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan kesiapan jalan nasional menghadapi lonjakan mudik Nataru. Wamen PU, Diana Kusumastuti menyampaikan kesiapan dilakukan secara menyeluruh dan terukur.
“Yang kedua ini memastikan seluruh jalan nasional, tol dan non-tol dalam kondisi mantap, fungsional mulai tanggal 16 Desember 2025 dan kondisi jalan tidak ada lubang,” kata Diana dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI, di Jakarta, Senin (8/12/2025). Kondisi tersebut ditargetkan tercapai mulai pertengahan Desember sebelum puncak arus mudik.
Ia juga menyebut pekerjaan konstruksi dihentikan sementara selama periode Natal dan Tahun Baru. Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi kondisi darurat pada titik-titik rawan bencana banjir, genangan air, dan tanah longsor di jalan nasional, tol, dan non-tol pada periode tersebut.
Kementerian PU juga mengidentifikasi lebih dari dua ribu titik rawan bencana. Titik tersebut meliputi wilayah rawan banjir longsor serta genangan rob.
“Menyiapkan Disaster Relief Unit (DRU) material bahan menyiapkan posko dan juga tim tanggap bencana,” ujar Diana Kusumastuti. Peralatan berat dan material darurat turut disiagakan di lokasi rawan.
Diana menyebut kemantapan jalan nasional non tol tercatat mencapai 93,65 persen. Ia mengatakan panjang jalan tol operasional nasional melebihi 3.100 kilometer.
Kesiapan fisik dinilai penting menghadapi cuaca ekstrem selama Nataru. Namun ketangguhan sosial juga menjadi perhatian pemerintah.
Selanjutnya, Ketangguhan Sosial Hadapi Mudik Berisiko Tinggi
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno menekankan pentingnya membangun ketangguhan bersama menghadapi risiko bencana.
Menurutnya bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.
“Urusan bencana adalah urusan kita, bukan hanya orangnya yang tangguh, alamnya juga harus tangguh, bukan hanya pemerintahnya tangguh, masyarakatnya harus tangguh, teknologinya harus tangguh,” kata Pratikno dalam Indonesia Disaster Management Summit 2025 di Jakarta, Rabu (3/12/2025). Ia mengatakan ketangguhan harus mencakup manusia alam dan sistem sosial.
Praktikno menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan secara berkelanjutan. Ia menilai kerusakan alam dinilai memperbesar risiko bencana hidrometeorologi.
“Kita masyarakat yang religius, barangkali pendekatan ekoteologi menjadi penting, pendekatan keagamaan menjadi penting, karena memang masyarakat kita, masyarakat religius,” ujar Pratikno. Ia mengatakan nilai lokal dinilai mampu memperkuat kesadaran menjaga alam.
Pratikno mengingatkan dampak bencana tidak hanya dirasakan korban langsung. Ia menyatakan gangguan distribusi pangan dan energi turut mempengaruhi masyarakat luas.
Peringatan cuaca ekstrem menjadi pengingat penting menjelang mudik akhir tahun. Keselamatan perjalanan bergantung pada kesiapan sistem dan kewaspadaan masyarakat.
Sinergi antar lembaga menjadi fondasi pengamanan mudik Nataru. Dengan kesiapan matang risiko perjalanan dapat ditekan secara signifikan. (Eliana Zahra Devina)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....