Banjir Sumatra: Bencana Alam atau Ulah Manusia?

  • 06 Des 2025 15:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BANJIR bandang dan longsor di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat tidak hanya dipicu hujan lebat. Peristiwa tersebut masuk kategori bencana hidrometeorologi yang diperparah oleh dugaan deforestasi.

Kerusakan hutan didugmembuat air melaju tanpa hambatan menuju daerah pemukiman. Tanah yang kehilangan tutupan vegetasi tidak mampu menahan limpasan permukaan.

Para ahli menegaskan intensitas hujan tinggi bukan satu-satunya penyebab utama. Kondisi lingkungan yang rusak memperbesar risiko bencana pada wilayah rentan.

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, menekankan pentingnya verifikasi ulang data deforestasi. Ia menegaskan, citra satelit sering kali tidak mampu menunjukkan kondisi vegetasi secara akurat di lapangan.

“Citra satelit tidak selalu menunjukkan kondisi lapangan sebenarnya,” ujar Hatma kepada Pro3 RRI, Rabu (3/12/2025). Menurutnya, verifikasi lapangan diperlukan untuk memahami tingkat kerusakan hutan secara tepat.

Hatma menjelaskan, sejumlah area bervegetasi di Sumatra masih tercampur antara kawasan hutan negara dan area pemanfaatan lain. Kondisi itu membuat identifikasi degradasi hutan tidak bisa hanya mengandalkan peta digital.

Hal yang sama disampaikan Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Harkunti Pertiwi Rahayu.Ia menilai banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar termasuk insiden besar dalam dua dekade terakhir.

Ia menyebut bencana kali ini merupakan kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. “Misalnya karena pengaruh cuaca yang memang lagi musim monsun di belahan utara, kemudian bibit siklon menjadi siklon,” ujarnya.

Pertiwi menjelaskan, rangkaian Pegunungan Bukit Barisan membuat hujan ekstrem mudah tertahan di wilayah Sumatra. Kondisi itu meningkatkan potensi banjir dan longsor, terutama pada daerah dengan kontur curam.

Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Hijrah Saputra menyoroti aktivitas penebangan kayu di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS). Menurutnya, video dan foto yang memperlihatkan kayu-kayu terdampar di sungai dan pesisir menjadi bukti kuat adanya penebangan yang tidak terkendali.

“Penebangan hutan mengurangi daya serap tanah dan memperbesar limpasan air. Ini mempercepat terjadinya banjir dan longsor,” katanya. 

Selanjutnya, Kayu Banjir Sumatra Diduga Sisa Pembukaan Lahan Sawit

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol mengungkap dugaan kayu gelondongan yang terseret banjir Sumatra berasal dari aktivitas pembukaan kebun sawit. Temuan ini muncul setelah pemerintah menelusuri penyebab banyaknya potongan kayu yang terbawa arus dan memperparah dampak bencana.

“Ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log, karena memang zero burning. Sehingga kayu itu tidak dibakar tapi dipinggirkan,” kata Hanif usai rapat bersama Komisi XII DPR di Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/12/2025).

Menurut Hanif, banjir dengan volume air yang sangat besar mendorong potongan-potongan kayu itu terbawa ke pemukiman dan fasilitas publik. Kondisi ini membuat dampak banjir dan longsor di Sumatra menjadi semakin parah.

Ia menambahkan, bahwa sebagian besar kawasan hulu di Sumatra telah mengalami alih fungsi menjadi pertanian lahan kering. Padahal, seharusnya kawasan tersebut berfungsi sebagai hutan.

Perubahan penutupan lahan itu, menurut Hanif, berkontribusi meningkatkan risiko bencana. “Padahal tempatnya di puncak, sehingga begitu terjadi bencana seperti ini, kita sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi,” ujarnya.

Selanjutnya, Polri-Kemenhut Investigasi Temuan Kayu 

Polri bersama Kementerian Kehutanan akan berkoordinasi menurunkan tim gabungan untuk menyelidiki temuan kayu gelondongan. Kayu-kayu gelondongan terbawa arus saat bencana banjir terjadi di Sumatra. 

"Kami (Polri) secara lisan sudah berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan dan besok kami akan melaksanakan rapat bersama. Untuk menurunkan tim gabungan untuk melakukan proses penyelidikan, pendalaman terkait peristiwa yang terjadi," ujar Kapolri Jend Pol Listyo Sigit Prabowo dalam keterangan di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (3/12/2025). 

Kapolri memastikan, jika ditemukan pelanggaran, maka pihaknya akan langsung memprosesnya. Temuan kayu gelondongan dalam jumlah banyak itu juga telah viral di media sosial dan memancing banyak komentar negatif. 

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri tengah menyelidiki asal kayu gelondongan tersebut. "Sedang penyelidikan," kata Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol. Moh. Irhamni.

Ia mengatakan, asal kayu gelondongan tersebut belum diketahui. Namun, penyelidikan saat ini tengah berjalan.

Adapun, Kementerian Kehutanan tengah menelusuri kayu gelondongan yang terbawa banjir di Sumatra. Termasuk pula potensi berasal dari pembalakan dan praktik ilegal lainnya, mengingat sebelumnya terungkap sejumlah kasus peredaran kayu ilegal.

Selanjutnya, Polri-Kemenhut Segera Paparkan Asal Material Kayu

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menemui Kapolri Jenderal Listyo Sigit di Mabes Polri, Kamis (4/12/2025). Dari hasil rapat Raja mengatakan, Kemenhut dan Polri menjalankan nota kesepahaman perlindungan hutan serta menelusuri asal material kayu.

‎“Publik ingin mengetahui asal-muasal kayu yang terbawa banjir tersebut. Berdasarkan MOU, Kemenhut meminta dukungan Polri untuk menegakkan hukum bila ditemukan unsur pidana,” ujarnya saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/12/2025).

‎Ia mengatakan, Kemenhut telah mengumpulkan data awal melalui pemetaan drone di wilayah terdampak. Teknologi Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO), kata dia, digunakan untuk membaca anatomi kayu guna menentukan lokasi asal material.

‎Raja Antoni juga nantinya akan menjelaskan hasil identifikasi asal mula kayu yang akan dilakukan bersama tim Polri. Koordinasi juga berlangsung dengan kementerian terkait untuk mempercepat penyelesaian investigasi.

‎“Kami berharap kerja sama ini segera mengungkap lokasi asal kayu. Penegakan hukum akan dilakukan bila terdapat pelanggaran,” katanya.

Sebelumnya, ‎Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat terdampak bencana. Ia memastikan Polri akan menindaklanjuti temuan material kayu yang merusak rumah dan jembatan.

‎Kapolri menyebut, Presiden telah memberi atensi khusus terhadap temuan kayu tersebut. Dalam hal itu, Polri menyambut baik pembentukan satgas gabungan dalam penyelidikan lintas sektor.

‎“Kami akan menurunkan personel dan bekerja bersama Kemenhut dalam satgas gabungan. Tim akan menyelidiki temuan kayu dari hulu hingga hilir,” ucapnya.

‎Tim gabungan akan bergerak di lokasi prioritas yang memiliki potensi pelanggaran. Polri membuka ruang kolaborasi dengan lembaga terkait untuk mempercepat hasil penyelidikan.

Selanjutnya, Data Awal Asal-usul Kayu Gelondong Banjir sudah Dikantongi

Pemerintah telah mengantongi data awal terkait asal-usul kayu gelondongan yang terbawa banjir besar di Sumatra. Data tersebut diperoleh melalui pemantauan udara dan teknologi identifikasi kayu, serta ditindaklanjuti dengan penyelidikan langsung oleh kepolisian.

Demikian disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam jumpa pers bersama Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (4/12/2025). Menhut menyebut perhatian publik yang besar terkait sumber kayu gelondongan itu menjadi dorongan penting untuk mempercepat penyelidikan.

"Kami berharap concern publik yang sekarang muncul pascabanjir. Yakni, keingintahuan tentang asal-usul material kayu yang terbawa banjir, bisa segera terjawab," kata Raja Juli.

Menhut menjelaskan bahwa timnya sudah mengumpulkan data awal melalui penerbangan drone ke wilayah terdampak banjir. Kemenhut juga menggunakan teknologi identifikasi kayu otomatis bernama AIKO untuk menganalisis anatomi kayu dan mendeteksi kemungkinan lokasi asalnya.

"Kami sudah ada data-data awal melalui penerbangan drone. Ada juga teknologi AIKO untuk melihat anatomi kayu, yang mudah-mudahan bisa menjadi indikasi awal di mana kayu itu berasal," ujarnya.

Sementara itu, proses penyelidikan lapangan dilakukan kepolisian di dua lokasi di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara. Yakni, di Desa Garoga dan Desa Anggoli di kawasan Batang Toru, Sumatra Utara.

"Secara paralel, pihak kepolisian sudah turun ke dua daerah, Garoga, dan Anggoli, dua desa yang ada di Batang Toru," kata Raja Juli. Meski demikian, ia belum dapat membeberkan detail temuan awal tersebut.

Menurutnya, tim gabungan harus bekerja cermat agar informasi yang disampaikan tidak menjadi prematur. Raja Juli menegaskan bahwa pemerintah dan kepolisian berkomitmen mengungkap secara tuntas asal kayu gelondongan itu.

Terlebih, kayu tersebut disebut-sebut menjadi faktor memperparah banjir. Jika ditemukan unsur pidana, kata Raja, tindakan hukum akan segera dilakukan.

"Kami berharap sinergi dengan Kepolisian bisa mengungkap asal-usul kayu tersebut, apabila ada unsur pidananya, akan kita tegakkan bersama-sama," ujarnya. 

Selanjutnya, Gunakan Teknologi AIKO untuk Telusuri Kayu Banjir Sumatra

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan penggunaan teknologi AIKO untuk menelusuri asal material kayu banjir Sumatra. Ia mengatakan, Kemenhut sudah mengantongi sampel kayu dari tiga provinsi terdampak.

‎‎Raja menjelaskan, Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO) membaca anatomi kayu secara rinci untuk menentukan lokasi asal material. Teknologi itu membantu penyelidikan lapangan agar lebih cepat dan akurat.

‎‎“Kami memakai AIKO untuk mempersempit dugaan lokasi asal kayu. Hasil awal akan disandingkan dengan data drone dari wilayah terdampak untuk menulusuri sumbernya,” katanya dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (4/12/2025).

‎Ia menyebut, tim Kemenhut telah memetakan ulang kawasan hulu yang berpotensi membawa material kayu. Pemeriksaan lapangan diarahkan pada pola kerusakan hutan yang teridentifikasi.

‎“Kami ingin memastikan sumber kayu berasal dari kawasan legal. Penjelasan lengkap disampaikan setelah analisis tim selesai,” ujarnya.

‎Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendukung penggunaan AIKO dalam penyelidikan kayu banjir. Ia menilai teknologi itu membantu memastikan asal material secara lebih objektif.

‎“Polri menurunkan personel untuk mendampingi investigasi penggunaan AIKO. Data teknologi penting agar penyelidikan berjalan transparan dan terukur,” ucapnya.

‎Kapolri memastikan satgas gabungan bergerak di titik hulu yang menjadi prioritas penyelidikan. Ia menyebut koordinasi dengan Kemenhut berjalan intensif sejak awal bencana.

‎“Tim gabungan bekerja mempercepat temuan lapangan terkait kayu banjir. Tindakan hukum ditempuh bila analisis menunjukkan indikasi pelanggaran,” katanya.

Selanjutnya, Temuan Awal Polisi di Lapangan

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkap temuan kayu gelondongan dengan bekas potongan gergaji mesin atau chainsaw. Ia menyebut temuan itu berasal dari pemeriksaan awal tim gabungan Polri di wilayah terdampak.

Sigit mengatakan sejumlah potongan kayu menunjukkan ciri bekas chainsaw berdasarkan identifikasi awal tim lapangan. ”Jadi yang jelas dari temuan tim di lapangan ada berbagai jenis kayu, namun kita dapati ada beberapa yang ada bekas potongan dari chainsaw,” ujarnya saat menjawab pertanyaan wartawan di Mabes Polri, Kamis (4/12/2025).

Meski begitu, ia belum merinci jenis kayu maupun lokasi penemuannya. Sigit memastikan detail itu masih dianalisis penyidik untuk menentukan keterkaitan dengan aktivitas illegal logging.

Ia menambahkan penyelidikan dilakukan menyusuri aliran sungai dari daerah terdampak hingga hulu dan hilir.  ”Tim sedang turun nanti bersama-sama dengan tim dari kehutanan untuk menyusuri dari daerah aliran sungai yang terdampak sampai dengan kita tarik ke hulu dan hilirnya,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bertemu Kapolri di Mabes Polri untuk membahas koordinasi penyelidikan. Ia menegaskan kerja sama itu penting untuk mengungkap asal material kayu yang diduga berasal dari aktivitas ilegal.

Raja Juli menyampaikan keyakinannya terkait percepatan penyelidikan melalui satgas gabungan. ”Kerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia kita bisa sesegera mungkin mengungkap dari mana asal muasal kayu tersebut,” ucapnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....