Banjir Bandang Terjang Asia, jadi Peringatan Krisis Iklim

  • 03 Des 2025 21:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BANJIR bandang dan tanah longsor melanda beberapa negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara dalam beberapa minggu terakhir. Indonesia, Thailand, dan Sri Lanka menjadi wilayah terdampak terparah, dengan lebih dari 1.300 orang tewas dan ratusan lainnya hilang.

Upaya penyelamatan dan pemulihan terus dilakukan, sementara ribuan warga mengungsi ke tempat penampungan sementara. Hingga kini, korban tewas tercatat mencapai 1.405 orang, dengan rincian: 811 di Indonesia, 410 di Sri Lanka, 181 di Thailand, dan 3 di Malaysia.

Melansir dari Sky News, Rabu (3/12/2025), sekitar 3,2 juta orang terdampak di Indonesia, sementara 218.000 orang mengungsi di Sri Lanka. Di Thailand, banjir di delapan provinsi selatan memengaruhi sekitar tiga juta orang.

Puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, dan infrastruktur vital terganggu, termasuk transportasi, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Banjir ini disebabkan kombinasi siklon tropis, hujan lebat akibat musim monsun, dan kondisi geografis yang rawan longsor.

Para ahli menyoroti tren cuaca ekstrem yang semakin meningkat akibat perubahan iklim global. Kondisi tersebut memperparah risiko banjir dan tanah longsor di wilayah-wilayah yang rawan.


Selanjutnya, Banjir di Sumatra, Indonesia

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatera. Hingga hari Rabu (3/12/2025), jumlah korban tewas akibat bencana tersebut bertambah menjadi 811 orang.

Selain itu, 463 warga masih hilang dan masih tahap pencarian oleh tim penyelamat. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan informasi ini dalam jumpa pers virtual.

Rinciannya, korban meninggal di Aceh mencapai 277 jiwa, di Sumatera Utara 299 jiwa, dan di Sumatera Barat 194 jiwa. Sementara korban hilang di Aceh tercatat 193 jiwa, Sumatera Utara 159 jiwa, dan Sumatera Barat 111 jiwa.

Banjir bandang dan tanah longsor juga menyebabkan kerusakan parah pada ribuan rumah warga. Data BNPB menunjukkan 3.300 rumah rusak berat, 2.100 rumah rusak sedang, dan 4.900 rumah rusak ringan.

Selain itu, fasilitas umum ikut terdampak, termasuk fasilitas pendidikan dan tempat ibadah. Kerusakan tercatat sebesar 45,48 persen pada jembatan, 20,21 persen fasilitas ibadah, 32,92 persen fasilitas pendidikan, dan 1,38 persen fasilitas kesehatan.

Jumlah penduduk terdampak di Sumatera Utara mencapai 1,6 juta orang, Aceh 1,5 juta, dan Sumatera Barat 140.500. Secara total, 3,2 juta warga terdampak bencana yang tersebar di 50 kabupaten.

BNPB terus memperbarui data secara berkala untuk memantau kondisi di lapangan. Presiden Prabowo Subianto meninjau empat lokasi terdampak bencana di Sumatera, yakni Tapanuli Tengah, Medan, Aceh Tenggara, dan Padang Pariaman.

Saat berada di Aceh, Prabowo memastikan anggaran tersedia untuk membantu korban bencana di ketiga provinsi. Ia menjelaskan bahwa penghematan anggaran pusat dilakukan agar bantuan dapat maksimal hingga tingkat desa dan kecamatan.

Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat menghadapi bencana sendirian. Pemerintah berkomitmen menyalurkan bantuan secara cepat dan memulihkan kondisi wilayah terdampak secepat mungkin.


Selanjutnya, Banjir di Sri Lanka

Sri Lanka dilanda banjir parah dan tanah longsor setelah hujan deras akibat intensifikasi musim monsun timur laut. Monsun tersebut diperparah oleh Siklon Ditwah yang mendarat di pantai timur pulau itu pada 28 November 2025.

Siklon ini telah menyebabkan keadaan darurat nasional, dengan lebih dari 1,4 juta orang terdampak dari 407.594 keluarga di seluruh 25 distrik. Hingga Selasa (2/12/2025), tercatat 410 orang tewas akibat bencana ini, sementara 336 orang masih hilang dan tengah dicari.

Sekitar 233.000 orang telah mengungsi ke 1.441 tempat penampungan aktif akibat kerusakan parah pada rumah dan infrastruktur komunitas. Dari kerusakan tersebut, lebih dari 565 rumah hancur total dan 20.271 rumah rusak sebagian, dikutip dari Organisasi Kesehaatan Dunia (WHO).

Dampak paling berat terjadi di distrik tengah dan tengah-selatan Sri Lanka. Kota Kandy, Badulla, Nuwara Eliya, Kurunegala, dan Matale mencatat jumlah korban tewas tertinggi.

Komunitas di perbukitan sangat rentan terhadap tanah longsor, sementara keterbatasan akses menghambat operasi penyelamatan. Banjir di Sungai Kelani dan tanah longsor di perbukitan tengah semakin mempersulit bantuan kemanusiaan.

Pemerintah pun memberlakukan peraturan darurat untuk mempercepat penanganan bencana. Akses air bersih menjadi masalah serius bagi warga terdampak, dan ketahanan pangan terancam karena kerusakan lahan pertanian serta gangguan rantai pasokan.

Sistem kesehatan juga berada di bawah tekanan yang meningkat. Menanggapi bencana, PBB dan mitra kemanusiaan mengaktifkan respons multisektor yang terkoordinasi.

Mereka juga melakukan Penilaian Kebutuhan Cepat Bersama dan menyusun Rencana Tanggap Bersama untuk mengatur bantuan serta mobilisasi sumber daya. Dukungan regional dan internasional terus meningkat, dengan tim penyelamat dan penerbangan bantuan mulai menjangkau komunitas terdampak.

Namun, lembaga kemanusiaan memperingatkan risiko kesehatan akibat air terkontaminasi dan kekurangan pangan yang semakin parah. WHO mendukung Kementerian Kesehatan Sri Lanka dengan menyiapkan tim tanggap cepat.

Organisasi ini juga memperkuat pengawasan kesehatan di wilayah terdampak. WHO juga berkoordinasi dengan sektor WASH, nutrisi, dan sektor lainnya untuk memastikan respons yang efisien, terkoordinasi, dan tepat waktu.


Selanjutnya, Banjir di Thailand

Thailand dilanda hujan deras yang menyebabkan banjir parah di wilayah selatan. Banjir tersebut telah menenggelamkan jalan dan rumah-rumah warga, menewaskan sedikitnya 181 orang, dilansir dari The Independent, Rabu (3/12/2025).

Bencana ini menjadi yang terburuk di wilayah tersebut dalam satu dekade terakhir, dengan lebih dari tiga juta orang terdampak akibat hujan lebat minggu lalu. Badan meteorologi Thailand melaporkan badai tropis Koto melemah menjadi depresi di atas Laut Cina Selatan bagian tengah pada Senin (1/12/2025).

Banjir telah melanda sebagian wilayah dari 12 provinsi selatan, termasuk Nakhon Si Thammarat, Phatthalung, Songkhla, Trang, Satun, Pattani, dan Yala. Area luas di provinsi-provinsi ini terendam air, memaksa banyak warga mengungsi dari rumah mereka.

Meskipun banjir meluas, penerbangan internasional ke Thailand masih berjalan normal, dengan bandara di Bangkok dan Phuket tetap beroperasi sesuai jadwal. Namun, beberapa jalur darat kemungkinan terdampak, dan pemerintah terus memperbarui informasi kondisi transportasi.

Seorang juru bicara pemerintah di Bangkok menegaskan bahwa korban tewas mencapai 181 orang. Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana melaporkan lebih dari 1,4 juta rumah tangga terdampak dan 3,8 juta orang secara keseluruhan.

Pemerintah Thailand terus memantau kondisi wilayah terdampak dan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke daerah yang paling parah. Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan tanah longsor akibat hujan yang terus-menerus.

Sementara itu, akses ke beberapa daerah sulit karena jalan terendam dan infrastruktur rusak. Masyarakat juga diminta mematuhi arahan evakuasi untuk keselamatan.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul telah menyampaikan rencana pemulihan bagi wilayah selatan, termasuk kompensasi bagi warga terdampak. Operasi penyelamatan sedang dijalankan untuk membantu warga yang terjebak banjir, dan tim tanggap darurat terus bekerja untuk memastikan keselamatan masyarakat.

Peringatan cuaca tetap dikeluarkan bagi daerah yang masih berisiko. Masyarakat diimbau memantau perkembangan terbaru sebelum melakukan perjalanan ke wilayah terdampak.


Selanjutnya, Ini Merupakan Peringatan Iklim

Selain Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand, Malaysia juga masih menghadapi salah satu banjir terburuk, yang menewaskan tiga orang dan membuat ribuan warga mengungsi. Sementara itu, Vietnam dan Filipina menghadapi badai dan banjir parah tahun ini, yang menewaskan ratusan orang.

Para ilmuwan menyebut bencana ini sebagai tanda normal baru dari cuaca ekstrem di kawasan. Jemilah Mahmood dari Sunway Centre for Planetary Health memperingatkan kemungkinan cuaca ekstrem berlanjut dan memburuk pada 2026.

Melansir dari AP News, pola iklim tahun lalu memicu cuaca ekstrem di 2025. Kadar karbon dioksida meningkat secara signifikan pada 2024, memperparah iklim.

Organisasi Meteorologi Dunia menyebut hal tersebut menyebabkan lebih banyak kejadian cuaca ekstrem. Asia mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global, dengan intensitas dan frekuensi bencana cuaca ekstrem meningkat.

Suhu laut yang lebih hangat memberikan energi lebih besar bagi badai, sementara naiknya permukaan laut memperparah gelombang badai. Badai kini datang lebih terlambat dalam setahun dan muncul satu demi satu.

Sistem seperti El Nino memperpanjang musim topan dengan menjaga laut tetap hangat. Sementara itu, perubahan angin dan kelembapan membuat badai terbentuk lebih cepat.

Meski jumlah badai mungkin tidak meningkat drastis, keparahan dan ketidakpastiannya meningkat. Pemerintah Asia Tenggara kewalahan menghadapi intensitas dan frekuensi bencana, karena lebih fokus pada tanggap darurat daripada persiapan bencana.

Masyarakat miskin dan marjinal menjadi korban paling parah, termasuk pekerja perkebunan teh di Sri Lanka. Pembangunan yang merusak ekosistem memperburuk kerusakan banjir, dan deforestasi di Indonesia memperparah banjir, dengan kehilangan 19.600 km² hutan sejak 2000.

Negara-negara Asia Tenggara juga kehilangan miliaran dolar per tahun akibat perubahan iklim. Vietnam memperkirakan kerugian lebih dari $3 miliar (Rp49,8 triliun) dalam 11 bulan pertama 2025.

Thailand dan Indonesia juga mengalami kerugian besar di sektor pertanian dan ekonomi. Asia Tenggara kini berada di persimpangan penting dalam tindakan iklim.

Wilayah ini meningkatkan penggunaan energi terbarukan, tetapi masih bergantung pada bahan bakar fosil. Para ahli menekankan bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan pengingat dramatis akan konsekuensi krisis iklim yang sedang berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....