Komitmen BEI Wujudkan Ekonomi Mandiri, Maju dan Berdaulat
- 19 Nov 2025 23:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
TAHUN 2025 bukan tahun yang mudah bagi perekonomian dan sektor keuangan. Ketidakpastian global yang masih tinggi, membuat pasar keuangan masih mengalami tekanan.
Tekanan itu berimbas pada kinerja bursa saham dunia, tak terkecuali pasar modal Indonesia. Namun, pasar modal Indonesia kembali membuktikan daya tahannya terhadap gejolak global.
Daya tahan itu, tecermin dari kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sepanjang tahun 2025, justru mencatatkan capaian positif. Sehingga semakin memperkuat peran strategis pasar modal dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Selanjutnya, Capaian BEI 2025, Catat Sejumlah Rekor
Capaian BEI yang paling menonjol sepanjang tahun 2025 adalah kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada 17 November 2025, IHSG untuk yang kesekian kalinya di tahun ini berhasil mencapai rekor baru ke level 8.416,88.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari Januari hingga awal November 2025, kenaikan IHSG mencapai 18,57 persen. Kapitalisasi pasar juga sudah mencapai lebih dari Rp15.000 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyebut capaian BEI tahun 2025 ini luar biasa. “IHSG, jika dihitung sepanjang tahun 2025, sudah 13 kali mencapai level tertinggi sepanjang masa (all time high),” ujar Inarno dalam kegiatan workshop di Bali pada 14-16 November 2025.
Capaian lainnya adalah rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sudah mencapai 69,18 persen. Persentasenya sudah melampaui target yang ditetapkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2027-2029 sebesar 68 persen.
Sementara itu, dalam Peta Jalan Pasar Modal Indonesia 2022-2027, target rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB, ditetapkan sebesar 70 persen. “Mudah-mudahan sampai akhir tahun 2025, targetnya sudah dapat tercapai,” ujar Inarno.
Dari sisi jumlah investor, saat ini jumlahnya sudah sebanyak 19,3 juta investor berdasarkan Single Investor Identification (SID). Dalam peta jalan, ditargetkan jumlah investor sebanyak 20 juta SID hingga tahun 2027.
Yang menggembirakan, 54,2 persen dari jumlah investor adalah kalangan anak muda, dengan usia di bawah 30 tahun. Ini merupakan investasi, karena ke depan anak-anak muda ini akan mengalami peningkatan penghasilan, sehingga mampu berinvestasi lebih besa
Rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025, mencapai Rp16,46 triliun. Jumlahnya meningkat 28 persen dibandingkan pada akhir Desember 2024 yang tercatat Rp12,85 triliun.
Kemudian, jumlah perusahaan tercatat hingga saat ini sebanyak 955 perusahaan. Sepanjang 2025, hingga bulan Oktober, jumlah emiten baru sebanyak 24 perusahaan.
“Melihat perkembangan itu, pasar modal Indonesia menunjukkan capaian yang baik. Namun masih memiliki banyak ruang yang masih dapat dikembangkan,” kata Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap.
Menurutnya, yang menjadi tantangan adalah bagaimana meningkatkan kapitalisasi pasar terhadap PDB. Di tingkat regional, kapitalisasi pasar modal Indonesia adalah yang terbesar.
“Tapi kapitalisasi pasar terhadap PDB, Indonesia masih di bawah Malaysia yang rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB nya tertinggi. Kapitalisasi pasar dibandingkan PDB di Malaysia sudah mencapai 109, 49 persen, diikuti Singapura, Thailand, Vietnam, kemudian Indonesia sebesar 69 persen,” ujarnya.
Selanjutnya, Tantangan BEI 2026, Menjaga Pertumbuhan Berkelanjutan
Capaian positif sepanjang tahun 2025, menjadi prestasi bagi Self Regulatory Organization (SRO). Pihak yang melakukan mengelola perdagangan dan layanan di pasar modal, agar teratur, adil dan efisien.
Bagaimana mempertahankan capaian itu, agar semakin meningkat dan berkelanjutan, menjadi tantangan bagi BEI. Karena sepanjang tahun 2025, terjadi aliran keluar modal asing atau net sell sebesar Rp41,8 triliun.
Tapi, belakangan ini sudah terjadi aliran masuk modal asing lagi sebesar Rp13 triliun. “Jadi ada potensi peningkatan aliran masuk modal asing,” kata Direktur Utama BEI, Iman Rachman.
Net sell asing, lanjut Iman, menunjukkan tekanan jual besar di awal tahun. Lalu pulih pada pertengahan tahun, dan net buy kembali pada akhir tahun.
Menurut Iman, pasar modal Indonesia masih menarik bagi investor asing, meski dominasinya sudah berkurang hanya sekitar 38-40 persen. “Investor asing memang mulai melihat pasar di India atau Amerika Latin, tapi di ASEAN Indonesia tetap jadi pilihan investasi,” ujar Iman.
BEI kini sedang mengupayakan untuk meningkatkan jumlah investor institusi domestik, walaupun dalam 10 tahun terjadi peningkatan jumlah maupun asetnya. Di era suku bunga tinggi seperti saat ini, peran investor institusi sangat penting untuk meredam volatilitas dan menjaga likuiditas.
Dalam tiga tahun terakhir, kepemilikan investor institusi, terutama Asuransi dan Dana Pensiun mengalami penurunan. Tapi mulai meningkat lagi sejak awal tahun 2025.
Iman berharap Danantara bisa menjadi salah satu investor institusi di BEI. “Kalau Danantara masuk akan memberikan dampak yang signifikan bagi penguatan investor institusi,” ujar Iman.
BEI telah banyak melakukan inovasi untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dalam perdagangan di pasar modal. Diantaranya melakukan penyempurnaan distribusi data untuk meningkatkan layanan pada pelaku pasar.
BEI yang semula hanya mendistribusikan ringkasan perdagangan di akhir sesi perdagangan. Sekarang distribusi juga dilakukan di akhir sesi perdagangan pertama perdagangan.
Data yang didistribusikan di akhir sesi perdagangan pertama itu, antara lain aktivitas transaksi berdasarkan kode domisili investor. Selain itu, data indeks yang tercatat di BEI, serta rekapitulasi perdagangan berdasarkan tipe investor.
Model distribusi data ini, akan memudahkan pelaku pasar atau investor dalam mengambil keputusan investasinya. “Transaksi perdagangan sesi pertama dan sesi kedua, sekarang juga lebih seimbang dibandingkan sebelum ada distribusi data di akhir sesi pertama,” ujar Iman.
Sebelumnya, transaksi perdagangan sesi pertama sekitar 60 persen, sesi kedua 40 persen. Setelah diluncurkan kode domisili, transaksi perdagangan sesi pertama 53 persen dan sesi kedua 47 persen, hampir seimbang.
Selanjutnya, BEI 2026, Memajukan Pasar Modal Menuju Kemandirian Ekonomi Indonesia
Tahun 2026 diperkirakan masih akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Bursa Efek Indonesia karena kondisi global yang belum stabil. Namun BEI berkomitmen untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8 persen hingga tahun 2029.
Untuk itu, BEI sudah menyusun asumsi untuk tahun 2026, yakni rerata nilai transaksi saham Rp14,5 triliun per hari. Pencatatan 555 efek baru, 50 diantanya saham dan 2 juta investor baru, 50 ribu rekening efek syatiah baru dan 700 ribu investor aktif bulanan.
BEI juga akan melakukan pengembangan pasar untuk Perusahaan Tercatat dan Calon Perusahaan Tercatat, Anggota Bursa. Termasuk pengembangan pasar untuk meningkatkan jumlah dan aktivitas investor pasar modal.
“Upaya pengembangan pasar dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Antara lain dengan melaksanakan kegiatan edukasi bersama, seperti program Sekolah Pasar Modal dan berbagai kompetisi bertema pasar modal,” ujar Iman.
BEI, tambah Iman, juga akan bersinergi dengan banyak pihak, untuk mendorong peningkatan literasi serta partisipasi masyarakat di pasar modal. Selain iitu, yang terpenting adalah meningkatkan perlindungan terhadap para investor pasar modal.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi mengatakan akan mendukung pengembangan pasar modal. “Tahun 2026, pendalaman pasar perlu ditingkatkan. Yang menjadi perhatian kita adalah peningkatan free float saham,” ucapnya.
Ketentuan free float saham, tambah Inarno, sudah menjadi kajian yang sangat serius dan diharapkan bisa diterapkan dalam waktu dekat. Saat ini ketentuan free float saham di BEI sebesar 7,5 persen, masih di bawah ketentuan bursa saham regional.
“Targetnya akan ditingkatkan menjadi 25 persen, tapi secara bertahap. Kita upayakan untuk IPO ke depan minimal free floatnya 10 persen, lalu 15 persen dan selanjutnya mengarah ke 25 persen,” ujar Inarno.
Penguatan pengawasan juga akan dilakukan, terhadap praktik perdagangan saham yang berpotensi menimbulkan distorsi harga atau manipulasi pasar. Untuk itu, OJK dan SRO sudah membentuk gugus tugas lintas lembaga.
Tugas utama task force utamanya melakukan pendalaman pasar. Pada saat yang sama memperkuat penegakkan hukumnya.
Dari sisi pendalaman pasar akan dilakukan dengan meningkatkan demand, supply dan infrastruktur yang harus disiapkan. Untuk supply, mendorong perusahaan besar untuk go publik, memperluas instrumen keuangan berprinsip ESG dan optimalisasi bursa karbon.
Sisi demand akan dilakukan dengan memperluas basis investor, termasuk mendorong Sistimatic Investment plan atau SIP. Serta meningkatkan partisipasi investor domestik dan investor institusional.
“Saat ini, investor pasar modal masih didominasi investor rirtel ini. Kami berharap ke depannya investor institusional domestik berperan lebih besar lagi ke pasar modal,” kata Inarno lagi.
Langkah-langkah tersebut, menunjukkan komitmen untuk memperkuat ekosistem pasar modal, agar makin sehat dan inklusif. Pasar modal yang sehat dan kuat, mendukung optimisme guna mewujudkan ekonomi Indonesia yang mandiri, maju dan berdaulat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....