Di Balik Pertemuan Sydney, Persahabatan dan Kedaulatan Diuji
- 13 Nov 2025 12:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
HUBUNGAN diplomatik Indonesia dan Australia memasuki babak baru. Pereratan hubungan terjadi dari hasil saling balas kunjungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anthony Albanese.
Pertemuan tête-à-tête di Kirribili House, Sydney memaknai posisi penting pemimpin Indonesia di mata PM Australia. Karena, tidak semua pemimpin negara dibawa berkunjung ke Kirribili House yang sudah berusia 170 ahun itu.
Tête-à-tête sendiri merupakan percakapan atau pertemuan pribadi antara dua orang secara berdua saja, tanpa kehadiran orang lain. Kedua pemimpin saling menyapa dengan panggilan akrab, yaitu "Albo" untuk PM Albanese, dan "My Friend" untuk Presiden Prabowo.
Kirribili House Sydney menjadi saksi pertemuan yang berlangsung tertutup itu. Hal itu menandakan pentingnya pembahasan yang bersifat strategis antara kedua kepala pemerintahan.
Pertemuan tête-à-tête ini menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk memperdalam kerja sama di berbagai bidang. Utamanya di sektor ekonomi dan pembangunan, hubungan antar masyarakat, pertahanan dan keamanan, serta kemaritiman.
Selain mempererat kemitraan yang telah terjalin sekitar tujuh dekade, kedua pemimpin juga menaruh perhatian pada stabilitas kawasan indo-pasifik. Begitu pula penguatan kapasitas industri strategis di tingkat bilateral.
Presiden Prabowo dan PM Albanese sepakat memperbarui perjanjian kerja sama keamanan dan pertahanannya. Hal itu mencakup peningkatan kerja sama militer dan konsultasi strategis tingkat tinggi.
Kesepakatan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese, Rabu (12/11/2025). Saat itu Presiden Prabowo tengah mengunjungi kapal HMAS Canberra, Pangkalan AL Garden Island, Australia.
Menurut PM Albanese, Indonesia dan Australia telah menyelesaikan negosiasi secara substansial terkait keamanan bersama. "Ini menjadi bukti pengakuan kedua negara bahwa cara terbaik menjaga perdamaian dan stabilitas adalah dengan bertindak bersama," ujarnya.
Albanese mengatakan akan berkunjung ke Indonesia pada tahun depan untuk menandatangani perjanjian tersebut. Baginya, hal itu akan memperdalam kerja sama pertahanan yang telah dibangun sejak 2024.
Perjanjian yang baru mencakup komitmen kedua negara untuk rutin berkonsultasi di tingkat pemimpin dan menteri. Terutama mengenai isu-isu pertahanan dan keamanan yang dihadapi kedua negara dan kawasan.
"Perjanjian ini akan memfasilitasi kegiatan keamanan yang saling menguntungkan," ucap Albanese. Menurut dia, jika keamanan salah satu atau kedua negara terancam, mereka akan berkonsultasi dan mempertimbangkan langkah yang dapat diambil.
Sementara, Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan dalam kerja sama keamanan Indonesia-Australia. TB menyarankan pemerintah Indonesia untuk berhati-hati menafsirkan setiap poin perjanjian tersebut.
TB juga merespons pernyataan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese terkait kesepakatan konsultasi keamanan bilateral. Menurutnya, dokumen resmi perjanjian itu belum diterima DPR RI sehingga belum dapat dilakukan analisis secara mendalam.
"Frasa kunci pernyataan itu adalah konsultasi, yang menunjukkan kerja sama bersifat normatif. Hal ini didasari pada niat baik antara kedua negara, tanpa menimbulkan ketergantungan yang mengikat, dan tetap menghormati kedaulatan," ujarnya, di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Ia meminta, pemerintah menjelaskan makna langkah bersama menghadapi ancaman agar tidak menimbulkan salah tafsir. Penjelasan itu diperlukan, demi menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Politisi PDIP itu mengingatkan, diplomasi Indonesia tidak boleh menimbulkan ketergantungan baru. "Penjelasan penting agar tidak muncul anggapan Indonesia membangun aliansi pertahanan atau pakta pertahanan dengan Australia," ucapnya.
TB menegaskan, kerja sama pertahanan antarnegara sah dilakukan selama menjunjung tinggi kepentingan nasional. Prinsip kehati-hatian tetap menjadi pegangan utama dalam diplomasi pertahanan.
"Indonesia harus memastikan setiap perjanjian menjaga penuh kedaulatan negara. Pemerintah harus tetap mengutamakan transparansi dalam setiap kerja sama strategis," ujarnya.
Di Sydney, Presiden Prabowo juga menyempatkan diri meninjau kapal perang HMAS Canberra di Garden Island Naval Base. HMAS Canberra merupakan kapal perang terbesar yang dimiliki angkatan laut Australia.
Peninjauan ke HMAS Canberra merupakan salah satu agenda dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden ke Negeri Kangguru itu. Setibanya di sana, Kepala Negara disambut oleh Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dan pejabat pertahanan lainnya.
Suasana penyambutan berlangsung penuh keakraban mencerminkan hubungan baik kedua negara di bidang pertahanan dan keamanan maritim. Presiden Prabowo kemudian menuju kendaraan yang telah disiapkan untuk memasuki area dalam kapal.
Di atas kapal HMAS Canberra, Kepala Negara disambut dengan pasukan jajar kehormatan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Peninjauan kapal dimulai dari dek pertama yang menampilkan berbagai kendaraan taktis dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) amfibi.
Kedua pemimpin mendapat penjelasan rinci mengenai kemampuan kapal dalam mendukung operasi amfibi, logistik, dan misi kemanusiaan. Peninjauan berlanjut ke dek kedua yang memperlihatkan hanggar helikopter Seahawk, bagian penting dari kekuatan udara maritim Australia.
Presiden Prabowo juga mendengarkan penjelasan teknis mengenai kemampuan helikopter dalam mendukung misi patroli dan penyelamatan di laut. Kepala Negara dan PM Albanese kemudian menyampaikan pernyataan pers bersama.
Pada kesempatan itu Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan kepadanya. "Anda tahu saya suka alat musik bagpipe, jadi saya diterima dengan baik oleh bagpipe," ujarnya sambil tersenyum.
PM Albanese juga mengapresiasi sambutan awak kapal HMAS Canberra yang menurut dia memberikan rasa yang berbeda. "Saya mengapresiasi Kepala Staf Angkatan Laut, Kapten HMAS Canberra, serta seluruh personel angkatan laut yang menyambut kami," ujarnya.
Presiden Prabowo sempat mengatakan, sangat penting menjalin hubungan baik antara Indonesia dan Australia. Sebagai negara bertetangga, kedua negara harus saling menjaga dalam keadaan apapun.
"Dalam budaya Indonesia, kami memiliki pepatah, ketika menghadapi keadaan darurat, tetanggalah yang pertama kali menolong kita. Mungkin keluarga kita berada jauh, tetapi tetangga adalah yang paling dekat," ujar Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo mengatakan, baik Indonesia dan Australia sama-sama tidak dapat memilih bertetangga dengan siapa. Karenanya, kerja sama dan niat baik menjadi kunci dalam menjaga hubungan yang harmonis.
"Sudah takdir kita untuk bertetangga langsung, jadi marilah kita hadapi takdir kita dengan niat terbaik. Saya percaya pada kebijakan bertetangga yang baik," ujar Presiden Prabowo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....