Insiden Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo dan Langkah Mitigasi
- 19 Okt 2025 08:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
BANGUNAN musala pondok pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo ambruk pada Senin (29/9/2025) ketika para santri sedang menunaikan salat asar berjamaah sekitar pukul 14.40 WIB.
Sebanyak 140 santri yang tengah salat Asar berjamaah tertimpa reruntuhan ketika bangunan tengah dicor, dengan 102 santri berhasil dievakuasi. Tiga di antaranya meninggal dunia, sementara 38 masih terjebak.
Pengasuh Ponpes Putra Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur, KH. Raden Abdus Salam Mujib, menjelaskan bahwa gedung musala di kawasan ponpes yang ambruk itu telah selesai proses pengecoran. Yakni pada siang hari.
Salam mengaku bahwa gedung yang runtuh itu rencananya akan dibangun setinggi tiga lantai. Pada hari kejadian, pembangunan telah sampai di tahap pengecoran atap lantai 3.
“Proses pengecoran dari pagi. Siang sudah selesai,” kata Salam, Senin (29/9/2025).
Rencananya, bangunan tiga lantai itu diperuntukkan buat musala di lantai pertama. Sementara itu, lantai 2 dan 3 akan digunakan sebagai balai pertemuan.
Proses renovasi gedung telah berjalan sejak beberapa bulan lalu. Adapun bangunan yang ambruk itu merupakan tahap akhir dari seluruh proses renovasi ponpes.
Kemudian, Salam juga menduga, struktur bangunan itu tidak kuat menopang beban. Setelah pengecoran sehingga terjadi musibah tersebut.
Selanjutnya, Korban Meninggal dan Luka
Menurut data Tim SAR korban meninggal dunia runtuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sebanyak 63 orang. Lalu terdapat 104 korban selamat.
Ini dengan rincian 4 orang telah selesai menjalani perawatan. Lalu 99 orang masih dirawat, dan 1 orang tidak memerlukan perawatan medis.
Seluruh korban ambruknya mushala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo sebanyak 63 jenazah telah teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur. Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol dr. M. Khusnan Marzuki mengatakan, seluruh jenazah telah diserahkan ke keluarga masing-masing setelah teridentifikasi.
"Sudah selesai semuanya karena malam ini seluruh jenazah akan kami serahkan ke keluarga masing-masing. Sesuai dengan identitas yang telah terverifikasi,” kata Khusnan, Rabu (15/10/2025).
Selanjutnya, Ratusan Personel dan Alat Berat Dikerahkan
Tim SAR gabungan mengerahkan personel khusus serta menyiapkan sejumlah alat berat dalam proses evakuasi korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Langkah ini dilakukan setelah masa golden time pencarian korban dinyatakan berakhir.
Tim SAR gabungan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan menggunakan alat berat untuk mempercepat upaya pencarian dan evakuasi korban yang masih tertimbun. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, menjelaskan, keputusan penggunaan alat berat telah melalui musyawarah bersama keluarga korban.
"Evakuasi dengan alat berat dilakukan penuh kehati-hatian, dengan tetap menghormati keberadaan korban di reruntuhan," kata Bramantyo, dalam konferensi pers, Kamis (2/10/2025). Basarnas menyiapkan sedikitnya 219 personel khusus evakuasi, 300 kantong jenazah, 30 unit dump truk, 30 unit ambulans, serta 5 unit alat berat.
Seluruh peralatan itu akan dioperasikan secara bertahap sesuai kondisi lapangan. "Hari ini evakuasi korban akan menggunakan alat berat. Kesepakatan ini sudah disetujui bersama dengan keluarga korban," katanya.
Selanjutnya, Kesaksian Santri yang Selamat
Salah satu santri yang selamat pun, menceritakan kesaksian pilu atas peristiwa tersebut. Santri kelas menengah di ponpes tersebut, berhasil menyelamatkan diri.
Dia berusaha merangkak melalui celah reruntuhan bangunan. Santri itu mengaku detik-detik ambruknya bangunan terjadi begitu cepat saat sedang melaksanakan salat Asar berjamaah.
“Bangunan tiba-tiba roboh waktu kami masuk rakaat ketiga menuju rakaat keempat. Semua orang panik, berusaha lari," katanya kepada RRI, Selasa (30/9/2025).
"Saya beruntung menemukan celah di reruntuhan, merangkak, lalu bisa keluar. Saya hanya berharap teman-teman lain yang masih tertimbun segera bisa diselamatkan,” ujarnya.
Selanjutnya, Tim SAR Sulit Lakukan Evakuasi
Tim SAR berhasil merekam momen berkomunikasi dengan dua korban yakni Yusuf dan Haikal yang kondisinya masih terjepit. Tim SAR sendiri mengakui sulit untuk mengevakuasi lantaran kondisinya yang sempit untuk merayap.
"Oke semangat ya, sabar, sabar ya nak ya. Aku Aziz dari Rescue Surabaya, ini usaha," kata Aziz dalam video yang beredar di media sosial. Aziz menyampaikan Yusuf berada sekitar empat meter di arah jam 12 dari posisinya, sementara Haikal terletak dua meter di arah jam 1, keduanya dalam kondisi sadar.
Berdasarkan data di posko gabungan, Yusuf sendiri berhasil dievakuasi pada Selasa (30/9/2025) sekitar pukul 01.58 WIB. Sementara Haikal diduga belum bisa dievakuasi.
Selanjutnya, Kegagalan Konstruksi
Menanggapi insiden Ponpes Al Khoziny Sidoarjo tersebut, Guru Besar Teknik Sipil sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Mochamad Solikin, S.T., M.T., Ph.D., menilai bahwa kegagalan konstruksi bisa menimpa berbagai jenis bangunan. Baik sederhana maupun bangunan bertingkat.
“Meskipun bangunan tampak sederhana. Kegagalan tetap bisa terjadi jika perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai dengan kaidah konstruksi,” katanya pada Minggu (5/10/2025).
Solikin menyebut fenomena kegagalan konstruksi bukan hal baru, baik di Indonesia maupun internasional. Ia mencontohkan kasus pilar tol Becakayu yang runtuh saat pengecoran serta peristiwa ambruknya Tacoma Bridge di Amerika Serikat.
Artinya, kegagalan bisa menimpa bangunan apapun, bahkan proyek besar sekalipun, jika aspek teknis diabaikan. Menurutnya, untuk mengetahui penyebab runtuhnya bangunan, perlu dilakukan forensic engineering, yaitu pemeriksaan teknis menyeluruh yang mirip dengan autopsi dalam dunia medis.
Dari sana bisa diketahui apakah kegagalan terjadi di tahap desain, material, atau pelaksanaan di lapangan. Dalam tahap desain, Solikin menekankan agar seluruh dokumen harus diteliti, mulai dari pondasi, dimensi struktur, ukuran balok dan kolom, hingga jumlah serta kualitas baja tulangan.
Desain yang tepat akan menghasilkan perencanaan yang bisa dipertanggungjawabkan. Jika sejak awal ada kekeliruan, potensi gagal menjadi sangat besar.
Selain itu, tahap pelaksanaan di lapangan juga harus mengikuti standar. Solikin menegaskan bahwa beton yang baru dicor tidak bisa langsung dibebani atau dibuka bekistingnya.
“Umumnya beton plat dan balok baru boleh dibuka setelah 21 hari. Kalau lebih cepat, risikonya sangat tinggi,” katanya.
Selanjutnya, Pemerintah Siap Dukung Pembangunan Ulang Ponpes Al-Khoziny
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah siap mendukung pembangunan ulang Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Sidoarjo yang ambruk. Namun demikian, pelaksanaannya masih menunggu persetujuan dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar.
“Persetujuan bukan di saya, tapi di Pak Muhaimin, tapi yang jelas, Menteri Pekerjaan Umum sanggup, saya juga sanggup. Tinggal persetujuan dari Pak Muhaimin saja,” kata Menkeu Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Menurut Purbaya, pembangunan kembali ponpes yang ambruk tersebut dapat menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Asalkan, itu mendapatkan izin dari Menko PM.
“Kalau saya lampunya hijau terus, modenya mode belanja. Asal belanjanya pas, tepat sasaran, tepat waktu, tidak ada masalah kalau Menko Muhaimin setuju,” katanya.
Selanjutnya, Pencegahan Kasus Serupa Tidak Terjadi
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sudjatmiko mengatakan, dalam perspektif teknik sipil, sebuah bangunan seharusnya tidak runtuh secara tiba-tiba jika sejak awal ada perencanaan, perancangan. Hingga pelaksanaan pembangunan mengikuti prinsip-prinsip standar yang telah ditetapkan.
"Kejadian ini menjadi pelajaran bahwa tidak boleh lagi ada nyawa melayang. Ini akibat pembangunan yang dilakukan tanpa perencanaan memadai," ujar Sudjatmiko dalam keterangannya, Sabtu (4/10/2025).
Sehingga, pria berlatar belakang Sarjana Teknik ini mendorong adanya perbaikan dan perubahan nyata dalam praktik pembangunan ponpes di Indonesia. Menurut dia, dalam disiplin teknik sipil, kegagalan struktur tidak pernah terjadi begitu saja. Ada yang disebut faktor keamanan (safety factor) dalam setiap desain.
Bahkan jika material lebih lemah atau beban lebih berat dari perkiraan, seharusnya bangunan masih mampu menahan beban hingga batas tertentu. Selain itu, lembaga pendidikan atau keagamaan seperti ponpes memiliki beban sosial yang besar, ratusan santri menempati asrama, masjid, dan ruang belajar dalam satu kawasan.
"Artinya, setiap kesalahan teknis bukan hanya soal bangunan roboh. Melainkan juga soal nyawa manusia yang dipertaruhkan," katanya.
Selanjutnya, Langkah Mitigasi
1. Melibatkan Ahli Sejak Awal: Setiap pembangunan harus melibatkan konsultan teknik sipil dan arsitek berizin. Perhitungan struktur dan pondasi wajib dilakukan sesuai standar nasional (SNI).
2. Standar Mutu Bahan Bangunan dan Metode Pengujiannya Harus Jelas: Standar mutu bangunan dan metode pengujiannya harus sesuai dengan prosedur yang berlaku, yakni SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung.
3. Audit Kelayakan Bangunan: Pemerintah daerah bersama asosiasi profesi teknik sipil dapat melakukan audit bangunan pesantren, terutama yang menampung ratusan santri. Audit ini mencakup kondisi pondasi, kolom, balok, hingga kualitas material.
4. Regulasi Lebih Tegas: Pembangunan fasilitas pendidikan berbasis komunitas, termasuk pesantren, perlu dipayungi regulasi teknis yang ketat. Tidak boleh lagi ada pembangunan tanpa izin mendirikan bangunan (IMB), perhitungan struktur, atau pengawasan profesional.
5. Edukasi dan Sosialisasi: Ponpes perlu didampingi agar memahami pentingnya aspek keselamatan konstruksi. Kesadaran bahwa bangunan aman adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual harus ditanamkan.
6. Dana Khusus Renovasi dan Standarisasi: Pemerintah dapat menyediakan skema bantuan khusus bagi pesantren yang ingin memperbaiki atau membangun gedung sesuai standar konstruksi. Hal ini sekaligus menjadi investasi dalam keselamatan generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....