Pidato Prabowo di PBB, Dunia Beri Respons
- 30 Sep 2025 12:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
SUASANA hangat terasa di Ruang Konsultasi Dewan Keamanan PBB di New York pada Selasa (23/9/2025). Saat itu, Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri Pertemuan Multilateral mengenai Timur Tengah atas undangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam sambutan pembukaannya, Presiden Trump menekankan pentingnya forum tersebut bagi perdamaian di Timur Tengah. Selain itu, ia juga menyelipkan pujian khusus kepada Presiden Prabowo.
Dengan senyum yang menarik perhatian seluruh ruangan, Trump secara terbuka menyampaikan apresiasinya. Ia menyebut pidato Prabowo kuat dan penuh energi hingga berhasil menarik perhatian para pemimpin dunia.
“Anda juga, sahabatku. Sebuah pidato yang hebat. Anda melakukan pekerjaan luar biasa saat mengetuk meja itu. Anda melakukannya dengan sangat baik. Terima kasih banyak,” ujar Trump, dikutip dari Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.
Pidato Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 memang dikenal penuh kekuatan. Ketukan meja dramatis yang ia lakukan dinilai Trump sebagai simbol keberanian dalam menyuarakan keadilan di panggung dunia.
Bagi para hadirin, pujian tersebut menjadi pengakuan terbuka terhadap Prabowo, meskipun ia baru pertama kali tampil di forum PBB. Gestur tersebut dipandang lebih dari sekadar apresiasi pribadi, melainkan mencerminkan pengakuan internasional terhadap Indonesia sebagai suara penting dalam diplomasi global.
Senyuman yang menyertai kata-kata Trump melambangkan apresiasi tulus di balik ketegangan isu Gaza dan perdamaian Timur Tengah. Kehadiran Prabowo dalam forum tersebut juga semakin istimewa karena ia mendapat slot bicara ketiga dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80.
Indonesia dipandang sebagai jembatan antara Utara dan Selatan Global, serta Timur dan Barat. Peran ini membuat Indonesia mampu menyelaraskan kepentingan negara besar dan negara berkembang dalam menghadapi tantangan internasional.
Selanjutnya, Prabowo Tegaskan Dukungan Solusi Dua Negara
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato bersejarah dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80. Sidang tersebut dilaksanakan di New York, Amerika Serikat, pada Selasa (23/9/2025) waktu setempat.
Dalam pidato berdurasi sekitar 19 menit itu, Prabowo mengusung tema “Seruan Indonesia untuk Harapan”. Pidato tersebut menekankan pentingnya solidaritas, keadilan global, dan penyelesaian damai berbagai konflik dunia.
Isu Palestina menjadi sorotan utama. Prabowo menekankan dukungan penuh Indonesia terhadap solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian abadi.
Presiden menegaskan komitmen Indonesia terhadap multilateralisme, internasionalisme, dan peran penting PBB dalam menjaga perdamaian dunia. Ia menyampaikan kesiapan Indonesia untuk mengirim hingga 20.000 pasukan penjaga perdamaian ke berbagai wilayah konflik.
Tempat yang dimaksud antara lain Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, atau lokasi lain yang diputuskan oleh PBB. Selain itu, Indonesia juga menyatakan kesediaannya memberikan kontribusi finansial.
“Jika dan ketika Dewan Keamanan dan Majelis Agung ini memutuskan, Indonesia siap mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra-putri kami untuk menjaga perdamaian di Gaza atau di tempat lain, di Ukraina, di Sudan, di Libya, di mana pun perdamaian perlu ditegakkan, perdamaian perlu dijaga, kami siap,” ucapnya dalam pidato.
Prabowo menutup pidatonya dengan pesan persatuan kemanusiaan dan harapan. Ia menyerukan agar umat manusia, tanpa memandang ras maupun agama, bersatu sebagai satu keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya solusi dua negara. Menurutnya, hal itu menjadi kunci untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel.
Selanjutnya, Tanggapan Pemimpin Dunia terhadap Pidato Prabowo
Pidato Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 mendapat sambutan positif dari berbagai pemimpin dunia. Dengan gaya penyampaian yang tegas dan penuh energi, Prabowo berhasil menarik perhatian forum internasional tersebut.
Sejumlah pemimpin dunia bahkan menyampaikan langsung apresiasi mereka. Raja Yordania Abdullah II dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva terlihat bersalaman dan memberikan ucapan selamat kepada Prabowo.
Mereka memuji pesan kuat yang ia sampaikan mengenai solidaritas global dan perdamaian dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memberikan pujian khusus saat pertemuan multilateral di New York.
Trump menilai pidato Prabowo penuh semangat dan berani. Ia bahkan menyebut ketukan meja dramatis Prabowo di podium sebagai simbol keberanian menyuarakan keadilan di panggung dunia.
Berbagai tanggapan positif tersebut menunjukkan bahwa pidato perdana Prabowo di forum tertinggi PBB berhasil menarik perhatian dunia. Pidatonya dinilai memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
Selain itu, penyampaian Prabowo juga menegaskan peran aktif Indonesia sebagai jembatan antara Utara dan Selatan Global. Indonesia pun dipandang mampu menyatukan kepentingan Timur dan Barat dalam menghadapi tantangan global.
Selanjutnya, Perjalanan Global Sumud Flotilla demi Keadilan Palestina
Saat berbagai kepala negara berkumpul di Majelis Umum PBB ke-80, suasana laut menuju Gaza dipenuhi kisah heroik. Global Sumud Flotilla, konvoi maritim sipil berlayar untuk menantang blokade laut Israel dan mengantar bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Organisasi media internasional melaporkan bahwa flotilla ini mengumpulkan puluhan kapal yang berangkat dari beberapa pelabuhan di Mediterania. Kapal-kapal tersebut membawa relawan, aktivis, dan bantuan logistik dengan tujuan menembus pembatasan akses ke Jalur Gaza.
Perjalanan flotilla itu tidak berjalan tanpa risiko. Sejumlah kapal dilaporkan terkena serangan drone dan mengalami kerusakan, sementara armada berada di wilayah yang dinyatakan berisiko tinggi saat mendekati perairan Gaza.
Media juga mencatat bahwa negara-negara Eropa tertentu meningkatkan pengawasan. Turki dilaporkan mengerahkan drone pemantau yang mengitari rute flotilla.
Sementara itu, Spanyol serta Italia menyediakan kapal pengawasan atau dukungan non-militer untuk memantau keselamatan misi. Kondisi ini menegaskan bahwa misi kemanusiaan itu menghadapi tantangan keamanan nyata dan tekanan diplomatik dari berbagai pihak.
Selanjutnya, Suasana di Gaza, Krisis Kemanusiaan Memburuk
Laporan PBB menyebutkan kondisi di Gaza kini berada “di luar imajinasi,” dengan lebih dari 500.000 orang hidup dalam situasi kelaparan. UNICEF menegaskan bahwa ratusan anak meninggal dunia akibat malnutrisi berat, sementara ancaman kelaparan massal semakin nyata.
Situasi di lapangan semakin genting. Serangan udara, laut, dan darat merusak infrastruktur sipil, termasuk sekolah, rumah tinggal, serta fasilitas pengungsian.
Sekitar 90 persen fasilitas kesehatan hancur atau tidak berfungsi, membuat rumah sakit kesulitan memberikan layanan medis. Krisis listrik, air bersih, dan sanitasi juga memperparah penderitaan warga.
Gelombang pengungsian terus terjadi. Lebih dari separuh penduduk Gaza harus berpindah berkali-kali akibat serangan maupun perintah evakuasi.
Banyak di antaranya kini tinggal di penampungan darurat dengan kondisi serba terbatas. Ribuan pasien, termasuk anak-anak, masih menunggu evakuasi medis ke wilayah yang lebih aman.
Upaya penyaluran bantuan menghadapi hambatan besar. Penutupan perbatasan dan pembatasan izin membuat distribusi makanan, obat-obatan, serta bahan bakar tersendat.
Konvoi bantuan pun kerap menghadapi risiko serangan, sehingga akses kemanusiaan tetap sangat terbatas. Kondisi yang memburuk di Gaza kini memunculkan tuntutan mendesak agar dunia segera mengambil langkah nyata.
Dampak nyata pidato para pemimipin dunia akan sangat bergantung pada kemampuan negara-negara pendukung untuk mengubah tekanan retoris menjadi aksi diplomatik. Hal tersebut juga ditentukan oleh sejauh mana keputusan politik atau inisiatif multilateral dapat benar-benar diimplementasikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....