Cuaca Ekstrem Tantangan Ketahanan Global

  • 14 Sep 2025 11:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem sepekan ke depan. Peringatan ini disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Jumat (12/9/2025).

Menurutnya, dinamika atmosfer saat ini sangat kompleks dan memicu risiko bencana hidrometeorologi. “Dinamika atmosfer saat ini memicu potensi hujan lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang,” ujarnya.

Dwikorita menjelaskan fase Dipole Mode Index (DMI) negatif mendukung pembentukan awan hujan intens. Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, Rossby ekuator, dan atmosfer frekuensi rendah juga sedang aktif.

Bibit siklon tropis 93S di barat Bengkulu memperkuat potensi konvergensi angin. “Pola siklonik di Kalimantan Utara turut memperbesar peluang hujan,” katanya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati (tengah) saat konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta. (Foto: RRI/Aditya Prabowo)

BMKG memprediksi hujan lebat 12-14 September 2025 di Riau, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Selanjutnya, 15-18 September 2025, hujan berpotensi melanda Jateng, Jatim, dan Papua.

Dwikorita menekankan kewaspadaan terhadap banjir, longsor, dan gelombang tinggi di berbagai wilayah. “Cuaca ekstrem ini dapat meningkatkan risiko bencana yang perlu diantisipasi bersama,” ujar Dwikorita.

Prediksi tersebut terbukti lewat hujan deras yang melanda Jakarta pada hari yang sama. Dari peringatan ini, kita menuju pada dampak bencana nyata di lapangan.

Selanjutnya, Bencana Hidrometeorologi Kian Sering Melanda

Hujan lebat yang mengguyur Jakarta hari Jumat (12/9/2025) sore menyebabkan sejumlah wilayah terendam banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat genangan terjadi di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

“Ada dua terdampak genangan per pukul 17.00 WIB sore,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI, Mohamad Yohan.

Di Jakarta Selatan, banjir melanda RT 02 RW 11 Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak. Ketinggian muka air (TMA) terpantau hingga 50 cm, ini berdampak pada 150 warga yang terpaksa mengungsi.

Petugas BPBD DKI membantu mengevakuasi warga terdampak banjir di RT 02 RW 11 Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (12/9/2025). Bannir ini berdampak terhadap 150 warga yang terpaksa mengungsi (Foto: BPBD DKI)

“Ada 150 orang di lokasi pengungsian Musholla Al Hikmah,” kata Yohan. Sementara itu, di Jakarta Timur, banjir setinggi 30 cm juga terpantau di satu RT wilayah Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati.

“Penyebab utama genangan di kedua lokasi adalah curah hujan tinggi sejak siang hari,” kata Yohan. BPBD DKI mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.

BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah. Pihaknya telah mengoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan.

Sementara itu, di Bali, banjir melanda sejumlah wilayah sejak Rabu (10/9/2025) dini hari. Kota Denpasar, Jembrana, Badung, Tabanan, Klungkung, dan Gianyar termasuk daerah terdampak.

Bencana ini menyebabkan infrastruktur rusak hingga korban jiwa. Berdasarkan data terbaru, terdapat 18 orang meninggal dunia akibat bencana ini.

Terdapat 202 kepala keluarga atau sekitar 620 jiwa terdampak. Bali menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama satu minggu.

Hal itu dikonfirmasi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto. Ia meminta pemerintah daerah memprioritaskan pencarian, pertolongan, dan penyelamatan masyarakat terdampak.

“Kita sepakat malam ini mana yang akan diperbaiki oleh pemerintah daerah dalam hal ini kabupaten/kota dan provinsi. Dan mana yang akan diperbaiki oleh pusat melalui BNPB dan Kementerian Lembaga terkait,” katanya.

Beberapa orang menggunakan perahu saat banjir di Kota Denpasar, Bali. Hujan lebat masih akan terjadi di Jawa, Bali da Nusa Tenggara akibat fenomena gelombang Rossby, Kevin dan Jullian Madden Oscillation (Foto: BPBD Bali)

Status tanggap darurat bencana banjir juga ditetapkan Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Langkah ini untuk mengoptimalkan penanganan bencana dan menjamin kelancaran aktivitas masyarakat.

Pemerintah Kota Denpasar mendirikan Posko Terpadu di Kantor Wali Kota, terhubung hingga desa dan kelurahan. Posko ini menjadi pusat kendali koordinasi selama tanggap darurat berlangsung.

“Untuk sementara memang karena semua wilayah pesisir Tukad Badung kena, kita prioritaskan untuk kades lurah menjadi bapak angkat dulu. Untuk kesehatan puskesmas juga sudah turun untuk pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.

Dampak bencana ini menunjukkan betapa rapuhnya kota-kota menghadapi intensitas hujan baru. Namun, gejala ekstrem ini ternyata juga terjadi secara luas di dunia.

Selanjutnya, Fenomena Cuaca Ekstrem yang Mengguncang Dunia

Asia kini memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut kawasan ini paling rentan terhadap cuaca ekstrem. 

Jepang mencatat suhu 41,8°C di Isesaki, rekor tertinggi sepanjang sejarahnya. Lima puluh enam orang meninggal akibat sengatan panas Juni-Juli 2025.

Korea Selatan mencatat 22 malam tropis pada bulan Juli dengan suhu di atas 25°C. Di Vietnam laporan suhu berada di atas 40°C di Hanoi, menandai panas terburuk sepanjang dekade. 

Sementara di Tiongkok, banjir meluas dari Shanghai hingga Beijing, menelan banyak korban jiwa. Hong Kong mencatat 350 mm hujan, hari terbasah Agustus sejak 1884.

Ilustrasi cuaca ekstrem di wilayah perkotaan (Foto: Freepik)

India kini juga tengah menghadapi banjir bandang di Uttarakhand, sementara Pakistan kehilangan 300 jiwa akibat hujan deras. Organisasi Save the Children mencatat, seperempat sekolah Punjab rusak akibat banjir.

Kerugian global mencapai triliunan dolar, menghantam ekonomi dan rantai pasok. Dampak besar ini terasa paling berat pada sektor pangan dan energi.

Selanjutnya, Dampak Global: Dari Pertanian Hingga Energi

Perubahan iklim menurunkan produktivitas pertanian tropis yang bergantung musim. Cuaca tak menentu mengacaukan kalender tanam dan memperbesar risiko gagal panen.

Fenomena El Niño dan La Niña mengganggu irigasi, menunda panen, dan menurunkan produksi. Dalam studi Kementerian Pertanian, diprediksi produksi beras Indonesia turun hingga 3,75 persen.

Pembersihan lahan pertanian warga yang tergenang akibat tersumbatnya saluran air. (Foto : Dok/Distan Mataram)

Hujan ekstrem merusak lahan dan perakaran, sedangkan kekeringan panjang mengurangi hasil panen. Hama dan penyakit baru pun berkembang lebih cepat.

Gangguan iklim menekan distribusi pangan melalui banjir, kekeringan, dan transportasi terganggu. Hal ini mempercepat pembusukan hasil pertanian di wilayah tropis.

Ilustrasi kekeringan di lahan pertanian (Foto: Freepik)

Selain pertanian, beban energi meningkat akibat cuaca panas. Pembangkit listrik berbasis air pun terdampak kekeringan.

Ketidakpastian pangan dan energi memperbesar kerentanan negara berkembang. Krisis global ini menegaskan pentingnya strategi adaptasi lintas sektor.

Strategi ini semakin menuntut suara pakar yang menghubungkan sains, kebijakan, dan aksi nyata. Dari sinilah analisis pakar berperan penting menjawab tantangan.

Selanjutnya, Suara Pakar: Krisis Iklim di Balik Cuaca Ekstrem

Pekan ‘Aksi Iklim Baku’ menyoroti dampak cuaca ekstrem terhadap rantai pasok global. Pelabuhan dunia yang menangani 80 persen perdagangan terancam terganggu, dampak besar ini menghambat pasokan pangan hingga medis.

Organisasi nirlaba mempersiapkan laporan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-29 (COP29) tentang pelabuhan yang beradaptasi. Harapannya, kisah sukses bisa jadi inspirasi negara lain.

Diskusi juga menyoroti peran teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dalam mitigasi iklim. Azerbaijan berencana membentuk pusat pengetahuan bersama pada COP29 ini.

KTT Iklim di Baku, Azerbaijan. Mereka menyoroti dampak cuaca ekstrem akibat krisis iklim terhadap rantai pasokan global. (Foto: X - COP29 Azerbaijan)

Perwakilan Kepresidenan COP29, Kamala Huseynli-Abishova menyebut, langkah ini nyata, bukan sekadar retorika. Data cekungan air akan digunakan dalam pengambilan keputusan.

Lembaga Konsultasi Penelitian Pertanian Internasional (CGIAR) mengingatkan pentingnya tekanan publik agar komitmen iklim terus berjalan. Direktur CGIAR, Aditi Mukherji mengatakan kemajuan memang masih lambat, tapi perubahan tetap terjadi di COP.

Suara pakar ini memberi arah kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan. Kini, fokus bergeser ke langkah pemerintah menghadapi ancaman alam.

Selanjutnya, Langkah Pemerintah Menghadapi Ancaman Alam

BMKG telah memerkirakan cuaca ekstrem melanda Sumatra, Jawa, dan Papua awal September 2025. BMKG mengimbau masyarakat waspada terhadap risiko banjir, longsor, dan genangan.

Masyarakat diminta rutin membersihkan drainase rumah agar aliran tetap lancar. Masyarakat juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi dari BMKG.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menertibkan bangunan liar di bantaran sungai. Wakil Wali Kota Bandung, Erwin mengatakan kolaborasi dan gotong royong memiliki peran penting sebagai bentuk pencegahan.

Edukasi dan simulasi bencana digencarkan agar masyarakat tanggap. Simulasi terakhir dilakukan di Kiara Artha Park dengan dukungan tenaga kesehatan.

Sementara itu,  Gubernur Papua Barat, Daya Elisa Kambu menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor. Status berlaku sejak 8 hingga 22 September 2025, dengan kemungkinan diperpanjang sesuai kondisi lapangan.

Selama masa siaga darurat, seluruh perangkat daerah, TNI, Polri, dan masyarakat diminta meningkatkan koordinasi. Dinas Kebakaran, Penyelamatan, dan Penanggulangan Bencana ditetapkan sebagai koordinator utama penanganan bencana.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana DKP2B dan Satpol PP Papua Barat Daya, Johosua R. Homer, menjelaskan kondisi terkini. Ia menyebut cuaca ekstrem melanda hampir semua kabupaten dan kota dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana DKP2B dan Satpol PP Provinsi Papua Barat Daya Johosua R Homer (tengah) menyampaikan keterangan pada wartawan, Jumat (12/9/2025) (Foto RRI/Nirwana Amnur)

Menurutnya, Gubernur telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh kepala daerah dan BPBD. Arahan itu untuk mengantisipasi hujan deras, banjir, dan longsor di Sorong Selatan, Maybrat, Tambrauw, Raja Ampat, serta Kota Sorong.

Kemudian di Kabupaten Gianyar, Bali, juga telah menetapkan status tanggap darurat hidrometeorologi hingga 17 September 2025. Tim gabungan mengevakuasi korban dan menyalurkan bantuan darurat.

Sekretaris Daerah, Gianyar, Gusti Bagus Adi Widhya Utama menekankan pentingnya gotong royong semua pihak. “Kerja cepat lintas sektor sangat penting agar masyarakat tetap terlindungi,” ujarnya.

Rangkaian kebijakan pemerintah memperlihatkan transisi dari reaktif ke preventif. Namun, kekuatan adaptasi juga lahir dari gerakan komunitas.

Selanjutnya, Inisiatif Lokal, Masyarakat Bergerak Hadapi Bencana

Di Ponorogo, Jawa Timur, Organisasi Menabung Air Foundation (MAF) meluncurkan program Desa Menabung Air. Program ini menekankan konservasi air, biopori, dan penguatan kapasitas masyarakat.

Ketua MAF, Yulia Ayu Srikanthi, berharap desa menjadi contoh ketahanan iklim di Ponorogo. “Desa Ngunut bisa jadi percontohan Desa Berketahanan Iklim,” katanya.

Program ini juga melibatkan akademisi dan Pemkab Ponorogo. Pelatihan, media edukasi, serta monitoring dilakukan untuk keberlanjutan program.

Peresmian program Desa Menabung Air di Desa Ngunut, Ponorogo, oleh Menabung Air Foundation (MAF) dan Maesa Group, didukung aparat desa, tokoh masyarakat, serta unsur TNI-Polri (Foto: Humas MAF)

Semantara Desa Senduro di Lumajang, mendapat verifikasi ProKlim Kategori Lestari. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang, Hertutik mengatakan Senduro memiliki kekuatan kolaboratif yang luar biasa dalam menghadapi perubahan iklim.

“Tim verifikasi meninjau pengelolaan sampah, sumur resapan, hingga energi alternatif. Edukasi lingkungan ini juga menyasar generasi muda,” ujar Hertutik.

Ia menyebut pencapaian ini hasil semangat seluruh warga. “Kami ingin desa ini dikenal sebagai desa tangguh,” ujarnya.

Model komunitas tangguh mempercepat adopsi perilaku ramah iklim. Namun, masih banyak tantangan adaptasi yang harus dijawab.

Selanjutnya, Tantangan Adaptasi di Tengah Krisis Iklim

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menilai faktor sosial juga memperburuk bencana. Alih fungsi lahan dan pertumbuhan penduduk meningkatkan risiko.

BMKG telah mengembangkan sistem peringatan dini berjenjang. Namun, literasi publik dan akses informasi masih perlu diperkuat.

“Peringatan dini bukanlah akhir perlindungan, melainkan awal aksi nyata,” ujar Dwikorita. Ia menekankan kolaborasi lintas sektor.

Dwikorita mengatakan perubahan iklim sudah berdampak nyata. “Cuaca dan iklim kini menjadi penentu sektor vital seperti pangan dan energi,” katanya. 

Tantangan adaptasi ini memperlihatkan pentingnya strategi berkelanjutan. Dari sini, kita menuju pada harapan bersama yang lebih konstruktif.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Sabtu (13/9/2025). (Foto: RRI Net)

Selanjutnya, Harapan Bersama Menuju Ketahanan Iklim

Deputi Bidang Metereologi BMKG, Guswanto menekankan audit respons peringatan dini di daerah. “Audit diperlukan untuk melihat aksi di hilir,” kata Guswanto.

Ia menyebut simulasi bencana di Sleman berhasil meningkatkan kesiapan. “Itu sudah berjalan baik, karena ada SOP bersama,” ujarnya.

Sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko bencana di Indonesia. Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati mengatakan, pemahaman terhadap lingkungan dan budaya yang berkaitan dengan risiko bencana perlu ditanamkan secara kolektif.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati saat memberikan sambutan di acara Konferensi ADEXCO 2025 yang bertajuk “Ancaman dari Tepi Pantai: Mencari Strategi Nasional untuk Resiliensi Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil” di Jakarta. (Foto: RRI/Aditya Prabowo)

“Perubahan berperilaku yang menjadi budaya atau tradisi, harus dikaitkan dengan pemahaman terhadap alam lingkungan sehingga menimbulkan risiko bersifat sistemik. Artinya cascading dan collateral impact, atau berjenjang dan bermata rantai,” kata Raditya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (13/9/2025). 

Ia mencontohkan kejadian banjir di  Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan Puncak-Cianjur (Punjur) yang berulang setiap tahun. Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan masyarakat dalam memahami sistem peringatan dini.

“Dengan siklus yang kita alami selama ini, ada beberapa kali kejadian banjir, jadi tidak lagi melihat wilayah administrasi. Ini sudah transboundary, bagaimana hulu sampai hilir melewati beberapa kabupaten, kota, bahkan provinsi,” ujarnya

Menurutnya, penanggulangan bencana tidak bisa lagi sebatas agenda formalitas atau konvensi. Untuk itu, forum-forum yang digelar bersama BNPB, MBPI, maupun ADEXCO harus benar-benar melahirkan kesadaran kolektif di tengah masyarakat.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Banyumas, Emy Triyanti, menyebut dampak nyata perubahan iklim. “Ketidakpastian musim menyebabkan kemarau panjang memicu kekeringan,” katanya.

Ia mendorong penggunaan pupuk organik dan irigasi hemat air. Adaptasi pola tanam perlu menyesuaikan kondisi air tersedia.

“Jika air terbatas, petani bisa menanam palawija yang lebih hemat air,” tutur Emy. Langkah mitigasi penting menjaga produktivitas.

Kesadaran kolektif dan gotong royong menjadi kunci ketahanan iklim. Simulasi, edukasi, dan audit respons memperkuat kapasitas masyarakat.

Rangkaian data, dampak, dan respons menunjukkan cuaca ekstrem bukan anomali sesaat, melainkan realitas baru. Dengan sains, kolaborasi, dan budaya gotong royong, Indonesia bisa lebih tangguh melindungi warga dan kehidupannya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....