Jepang di Persimpangan Krisis Kelahiran

  • 09 Sep 2025 18:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

JEPANG menghadapi krisis demografi serius setelah angka kelahiran menurun ke titik terendah sejarah modern. Fenomena ini menempatkan Negeri Sakura di persimpangan krisis kelahiran yang kian mengkhawatirkan.

Pada paruh pertama 2024, tercatat hanya 350.074 kelahiran, turun 5,7 persen dibanding periode sama 2023. Data ini melanjutkan tren suram tahun 2023, ketika jumlah kelahiran mencatat rekor terendah sejak pencatatan dimulai 1899.

Profesor Hiroshi Yoshida dari Tohoku University memperingatkan, Jepang menghadapi ancaman depopulasi ekstrem jika tren berlanjut. Mengutip Independent, Yoshida, Selasa (9/9/2025), menyebut jam populasi berbasis data resmi Biro Statistik Jepang.

Jam tersebut menampilkan hitungan real time jumlah anak di bawah 14 tahun, sekaligus memproyeksi penurunan tahunan. Berdasarkan perhitungan, Jepang hanya memiliki seorang anak berusia di bawah 14 tahun pada 5 Januari 2720.

Proyeksi ini berarti sekitar 695 tahun dari sekarang, mencerminkan seriusnya krisis kelahiran di Negeri Sakura. Salah satu pemicu utama ialah rendahnya angka pernikahan, seiring meningkatnya orang memilih hidup melajang.

Pemerintah Jepang berupaya mendorong kelahiran melalui subsidi perumahan, perluasan fasilitas penitipan anak, hingga aplikasi kencan. Langkah tidak biasa tersebut bahkan menarik perhatian miliarder Elon Musk yang menulis peringatan di X.

Ia menyebut, tanpa tindakan radikal, Jepang dan banyak negara lain berisiko kehilangan generasi penerus. Namun, apakah rangkaian upaya kebijakan tersebut cukup menjawab krisis demografi yang semakin mengkhawatirkan di Jepang.

Selanjutnya, Iming-iming Hadiah

Populasi Jepang yang menurun drastis beberapa tahun terakhir membuat banyak rumah di pedesaan kosong tak berpenghuni. Untuk mengatasinya, pemerintah menawarkan imbalan 4,8 juta yen atau sekitar Rp500 juta bagi warga yang mau menetap.

Potret rumah penduduk di Jepang. (Foto: Freepik)

Kosongnya desa-desa dipicu arus urbanisasi, karena penduduk lebih memilih menetap di kota besar seperti Tokyo dan Kyoto. Program ini menjadi bagian dari Regional Revitalization Program yang bertujuan menghidupkan kembali daerah sepi penduduk.

Seven Seas Worldwide, perusahaan global spesialis relokasi, menyoroti fenomena itu melalui Kepala Operasi, Wayne Mills, Senin, (13/1/2025) dikutip dari Mirror. Ia menyebut banyak anak muda Jepang enggan repot menjual rumah tua warisan keluarga sehingga bangunan terbengkalai. 

Menurut Mills, ratusan rumah tradisional Jepang dengan lokasi dan arsitektur menawan akhirnya terbengkalai tanpa penghuni. Padahal, rumah-rumah itu bisa menjadi aset berharga bila dimanfaatkan secara bijak dan terarah. 

Salah satu kota yang masuk dalam skema revitalisasi adalah Takahama, kota nelayan kecil di Prefektur Fukui. Takahama memiliki pemandangan tepi pantai indah dan potensi wisata yang besar, namun kehilangan penduduk secara perlahan. 

Meski begitu, pemerintah Jepang belum menetapkan regulasi resmi mengenai mekanisme program rumah pedesaan kosong. Belum jelas apakah program ini hanya berlaku bagi warga negara Jepang atau juga terbuka untuk orang asing.

Keseriusan Jepang menghadapi krisis populasi juga terlihat dari insentif kelahiran.  Pemerintah sebelumnya memberi bantuan sebesar 100.000 yen atau Rp10,5 juta untuk setiap ibu hamil sebagai dorongan tambahan.

Selanjutnya, Populasi Usia Tinggi

Jepang tercatat memiliki angka tertinggi dalam populasi lanjut usia di dunia. Tren ini terlihat dari jumlah pekerja lansia yang mencapai rekor tertinggi dalam sejarah modern.

Potret Orang Tua di Jepang. (Foto: Freepik)

Di Jepang, penduduk berusia 65 tahun ke atas didefinisikan sebagai orang lansia. Kementerian Dalam Negeri memperkirakan jumlah lansia mencapai 36,25 juta jiwa pada 2024, naik 20 ribu dibanding tahun sebelumnya.

Dari total tersebut, sekitar 15,72 juta adalah laki-laki dan 20,53 juta perempuan. Data ini dirilis menjelang Hari Penghormatan untuk Lansia, Senin (16/9/2024), dilansir NHK News.

Kementerian juga mengungkap populasi pekerja lansia diperkirakan terus bertambah. Faktor utama adalah kekurangan tenaga kerja dan kebutuhan ekonomi yang menuntut partisipasi lansia lebih tinggi.

Berdasarkan data resmi, tingkat populasi lansia Jepang tetap tertinggi di antara 200 negara dan wilayah. Jumlahnya melebihi sedikitnya 100 ribu orang dibanding negara lain, menegaskan tantangan demografi serius.

Selanjutnya, Penjualan Popok Dewasa Meningkat

Penjualan popok dewasa di Jepang sempat melampaui popok bayi. Fenomena ini mencerminkan tren demografi negara yang semakin menua.

Potret penduduk Jepang membeli popok dewasa. (Foto: X/@HistoriDunia2)

Jepang menghadapi tantangan serius karena jumlah lansia meningkat pesat.  Sementara itu, angka kelahiran terus menurun, mendorong permintaan popok dewasa melonjak tajam.

Fenomena ini pertama kali terlihat pada 2013, ketika beberapa perusahaan melaporkan penjualan popok dewasa menyaingi popok bayi. Saat ini tren tersebut semakin menguat, dan produsen fokus memenuhi kebutuhan populasi lansia sebagaimana dikutip dari cettajapanesse, Jumat (11/10/2024), lalu.

Populasi lansia yang meningkat cepat di Jepang disebabkan harapan hidup tinggi dan tingkat kelahiran rendah. Saat ini sekitar 29 persen warga Jepang berusia 65 tahun ke atas dan angka ini diperkirakan terus naik.

Akibatnya, sektor produk perawatan lansia menjadi pasar yang berkembang pesat. Produsen popok dewasa kini berfokus pada inovasi untuk kenyamanan dan kebutuhan lansia.

Perubahan ini mencerminkan tantangan sosial dan ekonomi Jepang dalam merawat populasi lansia. Termasuk kebutuhan fasilitas kesehatan lebih baik serta dukungan layanan bagi mereka yang menua.

Fenomena penjualan popok dewasa yang meningkat tajam menunjukkan urgensi menyiapkan kebijakan dan fasilitas memadai. Jepang harus menyesuaikan strategi ekonomi dan sosial untuk mengantisipasi populasi lansia yang terus bertambah.

Selanjutnya, Pembelajaran bagi Indonesia

Jepang menghadapi krisis demografi serius dengan populasi lansia yang terus meningkat pesat. Fenomena ini mendorong permintaan produk perawatan lansia, termasuk popok dewasa, melonjak tajam.

Seorang anak berdarah asli Jepang. (Foto: Freepik)

Penjualan popok dewasa kini melampaui popok bayi, menandai perubahan struktur pasar dan kebutuhan sosial. Indonesia bisa mempelajari tren ini untuk menyiapkan industri layanan lansia sejak dini.

Penyebab utama krisis Jepang adalah angka harapan hidup tinggi dan tingkat kelahiran rendah. Indonesia, dengan bonus demografi, memiliki peluang membangun sistem sosial dan ekonomi lebih adaptif.

Fenomena ini menuntut produsen menyesuaikan strategi produksi dan inovasi produk. Sektor kesehatan dan produk lansia di Indonesia bisa dikembangkan lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan masa depan.

Pemerintah Jepang juga mendorong program revitalisasi daerah dan insentif kelahiran. Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat ekonomi lokal dan layanan publik bagi lansia.

Tantangan ekonomi terlihat karena sektor tenaga kerja menua dan layanan kesehatan meningkat. Indonesia perlu merancang kebijakan strategis agar bonus demografi tidak berbalik menjadi beban sosial.

Fenomena ini menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang. Indonesia memiliki kesempatan menyiapkan industri, layanan kesehatan, dan inovasi sosial agar populasi lanjut usia tetap produktif dan terlayani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....