Perjalanan Global Sumud Flotilla, Misi Menantang Blokade Gaza
- 03 Sep 2025 10:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
SEBUAH armada sipil internasional tengah berlayar di Laut Mediterania, membawa misi kemanusiaan sekaligus pesan politik. Armada tersebut berlayar untuk menantang blokade Israel atas Jalur Gaza.
Inisiatif ini dinamakan Global Sumud Flotilla (GSF), “sumud” berarti keteguhan dalam bahasa Arab. Bagi para pesertanya, istilah itu mencerminkan perlawanan damai menghadapi ketidakadilan.
Flotilla ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah gerakan serupa. Lebih dari 50 kapal dan ratusan relawan dari 44 negara bergabung, dengan latar belakang beragam.
Mereka terdiri dari aktivis, jurnalis, tenaga medis, hingga politisi dan figur publik. Mereka berangkat dengan satu tujuan: menembus blokade Gaza yang selama hampir dua dekade mengekang arus barang dan manusia.
Menurut penyelenggara, Global Sumud bukan sekadar konvoi bantuan, melainkan manifesto moral masyarakat sipil internasional. Global Sumud menilai pemerintah dunia terlalu lambat menyelamatkan rakyat Gaza dari kelaparan, penyakit, dan krisis kemanusiaan.
Selanjutnya, Dari Barcelona Menuju Gaza
Gelombang pertama flotilla meninggalkan Barcelona pada Senin (1/9/2025). Namun perjalanan awal tidak mulus.
Ombak tinggi memaksa lima kapal kecil kembali ke pelabuhan, sementara beberapa lainnya mengalami gangguan mekanis. Meski demikian, armada utama tetap melaju, dengan rencana berkumpul di Tunisia bersama kapal-kapal dari Yunani, Italia, dan pelabuhan Mediterania lainnya.
Seiring waktu, flotilla diharapkan kembali ke jumlah penuh, lebih dari 50 kapal, sebelum melanjutkan etape terakhir ke Gaza. Kondisi cuaca di Mediterania menjadi faktor penentu, sementara koordinasi teknis di lapangan kerap menguji kesabaran para peserta.
Di dalam rombongan, terdapat tokoh-tokoh publik internasional seperti aktivis iklim Greta Thunberg yang ikut memberi perhatian pada misi ini. Dari Asia Tenggara, jaringan Sumud Nusantara terlibat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa solidaritas bagi Gaza tidak hanya datang dari Eropa atau Timur Tengah, tetapi juga dari Global South. Bagi sebagian peserta, perjalanan ini bukan sekadar aksi politik, melainkan panggilan hati untuk menghadirkan bantuan langsung, meski tahu risikonya besar.
Selanjutnya, Bayang-Bayang Intersepsi
Misi flotilla ke Gaza bukan hal baru. Sejak 2010, upaya serupa kerap berakhir dengan pencegatan Angkatan Laut Israel, bahkan pernah menelan korban jiwa.
Tahun ini, risiko terasa semakin nyata. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyerukan agar para aktivis ditetapkan sebagai “teroris” dan kapal mereka disita.
Kekhawatiran meningkat mengingat beberapa bulan lalu, sebuah kapal sipil dalam misi berbeda sempat diserang drone di lepas pantai Malta. Peringatan itu membayang di benak para relawan Global Sumud.
Namun ancaman di laut bukan satu-satunya cerita. Di darat, dukungan mengalir.
Serikat buruh pelabuhan di Genoa, Italia, misalnya, mengancam akan menghentikan seluruh arus kargo ke Israel bila flotilla dihalangi. Tekanan industri logistik ini memperluas arena perlawanan dari samudra ke jaringan perdagangan global.
Selanjutnya, Menunggu Babak Penentuan
Perjalanan Global Sumud Flotilla kini memasuki fase krusial. Jika konsolidasi di Tunisia berhasil, mereka akan melanjutkan etape terakhir menuju Gaza.
Rute tersebut merupakan rute yang paling berisiko karena di situlah Angkatan Laut Israel biasanya menghadang. Bagi peserta, hasil akhirnya belum pasti: apakah mereka berhasil mencapai Gaza, atau akan kembali menjadi catatan panjang sejarah flotilla yang dicegat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....