Cacingan Mewabah, Potret Buram Kesehatan Masyarakat Marginal
- 01 Sep 2025 11:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
RAYA, seorang balita berusia empat tahun dari desa Cianaga Sukabumi Jawa Barat harus menyerah. Cacing gelang keluar dari hidung, mulut, dan muntahannya, satu per satu.
Dibalik kematiannya, tersimpan potret getir tentang kemiskinan, sanitasi buruk, dan sistem yang lambat menjangkau anak-anak di pelosok. Peristiwa ini menyita perhatian luas setelah video pendek yang direkam relawan Rumah Teduh tersebar di media sosial.
Dalam video itu terlihat seekor cacing hidup sepanjang 15 cm ditarik keluar dari hidung Raya. Relawan terdengar menahan tangis dan beberapa diantaranya terkejut.
Mulanya, Raya masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), Minggu (13/7/2025) dalam kondisi tidak sadar. Saat menjalani perawatan intensif, cacing-cacing hidup mulai keluar dari hidung dan mulutnya.
Dokter IGD RSUD Irfan R. Syamsudin SH mengatakan bahwa Raya ditemukan syok hipovolemik atau kekurangan cairan berat. "Awalnya dia datang ke IGD sudah dalam kondisi tidak sadar," ujarnya dalam keterangan pers, Senin (14/7/2025).
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ada hewan seperti cacing yang keluar dari hidungnya. "Dari situ, kita mulai menduga ada kaitannya dengan infeksi cacing," ucapnya.
Selanjutnya, Diduga Askariasis dan Gizi Buruk
Tim medis juga menduga bahwa Raya menderita askariasis infeksi akibat cacing gelang dalam jumlah yang besar. Tidak hanya itu, kondisi ini juga diperparah oleh status gizi buruknya dengan sanitasi lingkungan yang rendah.
Bidan Desa Cianaga, Cisri Maryati khawatir dengan berat badan Raya yang di bawah rata-rata. "Raya ini anak asuh saya di Posyandu, sudah dua tahun berat badannya di bawah garis merah," katanya dalam keterangan pers, Rabu (16/7/2025).
Ia menjelaskan, keluarga Raya berasal dari latar belakang ekonomi yang sulit. Orang tuanya disebut mengalami gangguan kejiwaan, dan rumahnya berada di lingkungan yang tidak bersih.
Rumah Raya berdiri di atas tanah lembap tanpa lantai semen, tak memiliki jamban. Sayangnya, upaya medis tak mampu menyelamatkan nyawa Raya, kondisinya yang sudah kritis sejak awal membuat obat cacing tak bekerja optimal.
Selanjutnya, Ditolak Karena Tidak Memiliki KK dan BPJS Kesehatan
Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher menyatakan bahwa kasus Raya cacingan merupakan tanda bahwa banyak keluarga miskin yang terabaikan. Sebelum meninggal, ia ditolak lantaran tidak memiliki kartun keluarga (KK) dan BPJS Kesehatan.
"Masih banyak keluarga miskin yang terabaikan dari data penerima manfaat, tidak memiliki dokumen kependudukan maupun jaminan kesehatan. Sehingga kesulitan mengakses layanan dasar ketika kondisi darurat," kata Netty dalam siaran pers, Jumat (22/8/2025).
Sejalan dengan itu, Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini mendorong evaluasi serius sistem perlindungan sosial. Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi pemerintah bahwa sistem perlindungan sosial dan kesehatan belum sepenuhnya menjangkau rakyat kecil.
Baginya, perlindungan sosial tidak boleh hanya sebatas program administratif. "Ini harus menjadi evaluasi serius, perlindungan sosial tidak boleh sebatas program administratif," ujarnya.
"Kita harus mengoptimalkan fungsi posyandu sebagai pusat deteksi dini kesehatan anak dengan dukungan tenaga kesehatan desa. Kita juga harus mempermudah akses layanan kesehatan darurat," ucapnya.
Selanjutnya, Kombinasi Infeksi Berat
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan Raya bukan meninggal langsung karena cacingan. Meski dari tubuh bocah tersebut ditemukan lebih dari satu kilogram cacing gelang, penyebab utama kematian adalah infeksi berat.
"Yang bersangkutan meninggal bukan karena cacingan. Kematian disebabkan oleh infeksi," kata Budi saat ditemui di Kampus Unpad Dipatiukur, Bandung, Jumat (22/7/2025).
Budi menjelaskan, infeksi yang dialami Raya diduga berkaitan dengan penyakit yang sudah diidapnya cukup lama. Salah satunya, balita itu mengalami batuk berdahak selama sekitar tiga bulan yang tidak kunjung sembuh.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyebutkan kematian Raya disebabkan oleh infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Cacing jenis ini diketahui dapat tumbuh dengan ukuran relatif besar, mencapai 10-35 cm.
“Cacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Terutama di daerah tropis seperti Indonesia," ujarnya.
Kebiasaan yang dilakukan Raya menjadi titik balik akan pentingnya sanitasi dan perilaku hidup bersih. Beberapa pemicu utamanya adalah kebiasaan buang air besar sembarangan, dan tidak mencuci tangan sebelum makan.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Anggraini Alam, menyebut infeksi cacing gelang masih umum di Indonesia. Namun kasus seperti Raya sangat jarang terjadi.
"Kenapa cacing yang ada di tubuh Raya banyak? Bisa dilihat dari kondisi kebersihannya baik dari lingkungan, jambannya, makanannya, minumannya, tangannya," katanya.
Selanjutnya, Upaya Pemerintah dalam Menangani Kasus Cacingan
Pemerintah akan bertindak cepat agar kasus seorang balita di Sukabumi yang meninggal dunia akibat infeksi cacingan tak terulang lagi. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno.
Pratikno menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya balita Raya di Sukabumi akibat infeksi cacingan. Ia menyampaikan sejumlah langkah akan diperkuat melalui penguatan Posyandu, hingga pendampingan bagi keluarga rentan.
"Kami (Pemerintah) aware dan tanggap serta bertindak. Kasus ini merupakan pengingat bagi kita semua bahwa masalah gizi buruk dan penyakit yang bisa dicegah tidak boleh dibiarkan berlarut,” kata Pratikno kepada wartawan di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (21/8/2025).
Lebih lanjut, Pratikno menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memastikan setiap anak Indonesia tumbuh sehat dan terlindungi. Sebagai tindak lanjut, Pratikno langsung berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat serta dinas terkait pada Kamis (21/8/2025) malam.
“Kita menggelar rapat secara daring dengan pejabat Eselon I dan II Kemenko PMK untuk menyatukan langkah penanganan. Rapat koordinasi lanjutan dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga akan digelar pada Jumat (22/8/2025),” ujarnya.
Menurut Pratikno, pemerintah telah memiliki program pencegahan sejak lama mulai dari pemberian obat cacing hingga pendampingan bagi anak terlantar. Namun, ia menekankan program itu harus lebih aktif, tepat sasaran, dan menyentuh keluarga yang paling membutuhkan.
“Pemerintah berkomitmen memperkuat pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Setiap anak Indonesia berhak atas masa depan yang sehat, aman, dan terlindungi,” ucap Pratikno.
Selanjutnya, Berbagai Tips untuk Mencegah Penyakit Cacingan
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan anak. Khususnya untuk mencegah kasus infeksi cacingan seperti yang menimpa seorang balita di Sukabumi, Jawa Barat.
“Misalnya edukasi terhadap cuci tangan dan bagaimana memberikan obat pencegahan, itu sebenarnya sudah dilakukan di puskesmas-puskesmas. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana edukasi dan obat tadi bisa menjangkau seluruh anak-anak, terutama di daerah-daerah,” kata Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso kepada wartawan di Jakarta, Jumat (22/8/2025).
Ia menilai kasus ini seharusnya bisa dideteksi lebih dini melalui layanan kesehatan dasar seperti posyandu. Ia akses ke layanan kesehatan juga perlu dioptimalkan.
“Jangan sampai ada kasus yang sudah berlanjut lama tapi tidak terdeteksi. Sebetulnya ini bisa dideteksi lewat posyandu. Kalau posyandunya aktif, kader-kadernya juga pintar, itu nanti bisa,” ucap Piprim.
Lebih lanjut, Piprim menjelaskan, IDAI memiliki program Pediatric and Social Responsibility, di mana satu dokter anak mengampu dua puskesmas secara sukarela. Menurut Piprim, bila tenaga kesehatan dan kader posyandu diperkuat, kasus serupa dapat dicegah.
“Kita ingin kader-kader kesehatannya juga bisa terpapar dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Mudah-mudahan kasus seperti ini tidak terulang lagi dan tiga tahun lalu kasus serupa juga terjadi di Jawa Barat, dan ini sangat memprihatinkan,” ujar Piprim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....