Media di Era Kecerdasan Buatan, Bisa Apa?
- 28 Agt 2025 17:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
DUNIA sedang memasuki era baru, era penggunaan kecerdasan buatan yang mulai merambah ke semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi kehadiran kecerdasan buat adalah kemajuan teknologi yang tak terhindari, di sisi lain penggunaannya menimbulkan kekhawatiran.
Kehawatiran akan terjadinya disrupsi yang jika tidak dikendalikan akan menjadi bumerang bagi kehidupan manusia. Profesor Dianlin Huang dari Communication Univesity of China menyampaikan hal tersebut dalam seminar “Challenges and Opportunities for Global South Media in The Age of AI”.
Seminar tersebut diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan “Jelajah Tiongkok:Hainan” yang melibatkan belasan jurnalis dari kawasan Asia Tenggara. Kegiatan berlangsung dari tanggal 18-24 Agustus 2025 di Hainan, Tiongkok.
Di awal pemaparannya, Huang mencontohkan bagaiman kecerdasan buatan mempengaruhi kehidupan manusia sekarang ini. “Mahasiwa saya sekarang, kalau diberi tugas, lebih suka berdialog dengan AI chatbox daripada bertanya pada profesornya,” ujar Huang.
Hal ini, sambungnya, akan menjadi persoalan dalam jangka panjang. Para mahasiswa di kemudian hari bisa jadi tidak lagi butuh seorang profesor, dan para profesor akan kehilangan pekerjaannya.
Kondisi itu bisa terjadi di semua aspek kehidupan manusia dan profesi, termasuk di media dan para pekerja media. Itulah sebabnya, penggunaan kecerdasan menjadi perdebatan bahkan sudah menimbulkan krisis, karena kemampuan manusia sudah digantikan oleh mesih-mesin cerdas.
Namun di tengah merajalelanya kecerdasan buatan, Huang melihat ada celah dan peluang untuk mengubah ancaman menjadi peluang. Di kawasan Selatan-Selatan, ia menekankan pentingnya kolaborasi, khususnya antara Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya.
Karena Selatan-Selatan dari segi geografis saling berdekatan, dan memiliki banyak kesamaan. Kolaborasi diperlukan untuk menentukan arah dan kebijakan bersama dalam menghadapi dan mengantisipasi krisis yang ditimbulkan kecerdasan buatan.
Selanjutnya, Negara-Negara Maju Mendominasi Kecerdasan Buatan
Salah satu kecerdasan buatan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Large Languange Mobile (LLM). Yaitu sistem kecerdasan buatan yang mampu memahami dan menghasilkan bahasa manusia melalui pemrosesan data teks dalam jumlah besar.
Perkembangan LLM juga sangat cepat, mulai dari Chat GPT-5, GPT-4.5 dan Google Gemini 2.5 Pro. Sekarang sudah ke model open source dengan performa yang terbaik saat ini adalah Deepseek-V3 yang dikembangkan oleh Tiongkok.
Ancaman dan peluang kecerdasan buatan, membuat negara-negara maju berlomba-lomba mengembangkan industri kecerdasan buatan. Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa bisa dikatakan yang paling gencar mengembangkan kecerdasan buatan.
“Ironisnya, negara-negara Selatan-Selatan justru menghadapi risiko ‘digital kolonialisme’ atau penjajahan digital. Keuntungan ekonominya hanya terkonsentrasi pada kekuatan-kekuatan besar,” ucap Huang.
Banyak negara yang saat ini menerapkan kebijakan nasionalnya untuk membangun infrastruktur untuk memproduksi kecerdasan buatan sendiri. Untuk itu mereka berupaya untuk menghasilkan sendiri para talenta-talenta digitalnya.
Dalam skala yang lebih luas, tambah Huang, kecerdasan buatan menjadi komponen penting dalam persaingan kekuatan dan perang informasi. Banyak negara mulai membangun pusat data kecerdasan buatan sebagai infrastruktur yang penting.
“Mereka mulai berinvestasi besar di industri chip, semikonduktor dan infrastruktur data. Pada saat yang sama, mereka menjaga keseimbangan antara inovasi dengan mitigasi risikonya,” ujar Huang.
Ia menyebut istilah ‘AI Precariat’ yaitu kelas pekerja baru yang mengalami keresahan karena pekerjaan mereka sudah digantikan dengan mesin. Hal ini bisa berkembang menjadi persoalan psikologis dan berpotensi menimbulkan ketidakstabilan politik.
Pada level ini, negara-negara yang berlomba-lomba mengembangkan kecerdasan buatan juga mulai memikirkan aturan-aturan yang mesti diberlakukan. “Kolaborasi global dipandang sebagai hal yang esensial untuk mengharmonisasikan kerangka peraturan yang sekarang masih terfragmentasi,” kata Huang.
Selanjutnya, Kecerdasan Buatan dan Dampaknya ke Media
Profesor Huang mengatakan, kecerdasan buatan menyebabkan perubahan signifikan yang mempengaruhi kondisi media massa sekarang ini. Pertama, perubahan dalam mengkonsumsi konten, terutama di kalangan generasi muda.
Anak-anak muda sekarang, lebih memilih menggunakan media sosial sebagai hiburan, contohnya yang populer Tiktok. Plaform media sosial ini menggunakan kecerdasan buatan untuk mengarahkan penggunanya ke konten-konten tertentu, sekaligus bisa dimanfaatkan untuk beriklan.
Imbasnya, media tradisional sulit bersaing dalam mendapatkan iklan yang menjadi sumber penghasilannya. Selanjutnya, platform media sosial dan AI juga mendorong munculnya generasi konten kreator dan pemengaruh (influencer).
“Para konten kreator dan pemengaruh ini bisa lebih cepat dalam menyebarkan informasi ke masyarakat. Berbeda denga media tradisional yang harus melewati rangkaian proses pengolahan berita sebelum menyampaikannya ke publik,” ujar Huang.
Sehingga saat ini, banyak media yang mengandalkan kecerdasan buatan untuk mengimbangi kecepatan itu. Huang menyebutnya dengan istilah “Jurnalisme Berbasis Kecerdasan Buatan”.
Ruang-ruang redaksi sudah mulai banyak yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung kerja jurnalistik. Misalnya untuk analisis data dan membuat ringkasan konten dari produk jurnalistik yang dibuatnya.
Cara ini menjadi sumber penghasilan baru bagi media, yang melisensikan kontennya melalui perusahaan kecerdasan buatan. Mereka membuat fitur-fitur baru berbasis kecerdasan buatan untuk para audiensnya, contohnya fitur penerjemahan bahasa.
Dampaknya lainnya adalah media tidak lagi menjadi arus utama dalam penyampaian informasi ke publik. Perannya sudah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar melalui berbagai platforms yang dibuatnya.
“Dengan penguasaan infrastruktur, algoritma dan data yang kuat, mereka bisa mengontrol konten-konten yang tersaji untuk publik. Platform-platform itu, termasuk platform media yang didominasi Barat akhirnya menguasai arus informasi di dunia, sehingga terjadi ketidakseimbangan,” ucap Huang.
Platform sosial media juga didesain sebagai model bisnis, yang dapat mengumpulkan data pribadi penggunanya. Data itu lalu digunakan untuk memprediksi atau mempengaruhi perilaku masyarakat dengan orientasi profit (keuntungan).
Persoalan lain dari penggunaan kecerdasan buatan, tambah Huang, adalah kemampuannya untuk menciptakan informasi-informasi yang menyesatkan. Di negara yang minim akan infrastruktur untuk melakukan pengecekan, informasi yang menyesatkan menjadi risiko yang membahayakan.
Selanjutnya, Peluang Media Ciptakan Kecerdasan Buatan Sendiri
Lebih lanjut Profesor Huang mengatakan, meski menimbulkan banyak tantangan, kecerdasan buatan juga menghadirkan peluang. Para jurnalis di negara-negara yang infrastruktur teknologi informasinya masih minim, makin banyak yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
“Mereka memanfaatkannya untuk melakukan transkrip atau terjemahan, agar proses kerja mereka lebih cepat dan efisien. Sudah ada upaya juga untuk membuat model kecerdasan buatan dengan menggunakan bahasa dan pengumpulan data lokal,” kata Huang.
Meski mereka menghadapi kendala biaya dan kendala dukungan sisi infrastrukturnya. Sehingga kecerdasan buatan yang dihasilkan jadi kurang maksimal, data yang muncul jadi kurang akurat.
Namun peluang untuk menciptakan kecerdasan buatan yang lebih sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan sendiri selalu terbuka. Terutama untuk negara-negara yang masih bergantung pada produk kecerdasan buatan dari negara-negara maju.
Huang mendorong negara Selatan-Selatan untuk berkolaborasi dan bekerja sama. Yakni dalam membangun kecerdasan buatan yang lebih sesuai kebutuhan dan nilai-nilai lokal.
“Negara-negara berkembang bisa melakukan pengembangan kecerdasan buatan yang berkelanjutan. Mereka bisa mengumpulkan semua sumber daya yang ada, berbagi ilmu dan pengalaman, serta saling memberikan bantuan,” ujar Huang.
Peluang lainnya adalah dapat menyusun sendiri prinsip-prinsip dan regulasi mengenai kecerdasan buatan. Sehingga risiko kecerdasan buatan seperti eksploitasi data dan penyebaran informasi yang tidak akurat, dapat dihindari.
Karena kecerdasan buatan yang dibangun berdasarkan data dan konteks lokal. Huang meyakini media di kawasan Selatan-Selatan mampu berkolaborasi dan berinovasi membuat aplikasi kecerdasan buatan sendiri.
“Inovasi ini bisa bisa mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Dan yang paling penting, bisa menjadi penyeimbang dari narasi-narasi negatif yang disebarkan negara-negara maju,” kata Huang.
Selanjutnya, Kecerdasan Buatan di China Media Group
China Media Group (CMG), grup media pemerintah Tiongkok yang berdiri tahun 2018 sudah mulai memanfaatkan kecerdasan buatan. CMG terdiri dari China Global Television Network (CGTN), China National Radio (CNR) dan China Radio Internasional (CRI).
CMG memiliki 51 saluran televisi, 22 radio lokal dan 82 saluran radio bahasa asing. Selain itu terdapa 19 aplikasi dan 3 portal berita utama.
Biro Teknologi CMG, Wang Zhenzhong dalam seminar yang sama menjelasan bagaimana pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) di CMG. “Pemanfaatan AI untuk meningkatkan layanan dan mempromosikan proses rekayasa ulang di industri media,” ujarnya.
CMG mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk mendukun proses produksi dan siaran secara terintegrasi. Sehingga prosesnya lebih efektif dan efisien. Beberapa aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang digunakan CMG saat ini diantaranya aplikasi untuk mentranskrip dari audio ke teks.
Juga aplikasi untuk melakukan proofreading. Aplikasi AI yang bisa mengubah rekaman suara ke teks, membantu produksi siaran harian untuk lima bahasa asing.
Aplikasi AI Tranlation, membantu menerjemahkan bahasa Mandari ke bahasa berbagai negara. Ada juga aplikasi AI yang digunakan untuk proses dubing.
“CMG bahkan sudah membuat aplikasi suara untuk membantu proses kerja di radio, AI-Radio Play,” ujar Zhengzhong. AI Radio-Play meliputi AI untuk penulisasn naskah (AI Script Writing).
AI Synthesized Voice yang mampu mereplikasi suara hanya melalui sample suara yang berdurasi lima menit. “Kecerdasan buatan ini bisa meniru suara penyiar serta dapat mengoptimalkan nada suara,” ucap Zhengzhong.
Selain, juga digunakan Artificial Intelligence Generated Content (AIGC) untuk membuat konten program-program promosi. AIGC bisa mengubah teks menjadi gambar atau teks menjadi video.
Teknologi ini sangat membantu dalam proses pembuatan konten video atau gambar untuk keperluan promosi. CMG juga membuat platform Big Data untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatannya.
Big Data ini mengolah semua data dari semua saluran media, mulai dari tv, radio, dan portal berita. Dengan mengembangkan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan, CMG tidak bergantung pada kecerdasan buatan dari luar.
Sebuah langkah yang bisa dijadikan contoh bagi media, untuk lebih meningkatkan performa, layanan, dan perannya sebagai media informasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....