Suku Bunga 5 Persen, Sebuah Janji dan Pertaruhan

  • 23 Agt 2025 12:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

DI lantai tinggi Jalan MH Thamrin, Jakarta, jarum jam bergerak perlahan menuju siang ketika Dewan Gubernur Bank Indonesia mencapai kata sepakat. Rapat di kantor pusat Bank Indonesia itu tidak bising, tapi setiap kata yang dilontarkan punya gema panjang ke luar gedung. 

Pada akhirnya keputusan diambil secara bulat, suku bunga acuan atau BI Rate diturunkan hingga 25 basis poin. Artinya suku bunga yang semula 5,25 persen turun menjadi 5 persen.

Keputusan ini bukan sembarang angka yang ditulis dalam siaran pers. Ia adalah isyarat arah kebijakan, semacam kompas yang menuntun jalannya perekonomian. 

Para teknokrat menyebutnya 'kalkulatif' setelah membaca data inflasi, memantau kurs rupiah, dan mengukur denyut global. Namun, bagi rakyat kebanyakan, 5 persen terdengar seperti kabar sederhana, misalnya cicilan rumah bisa lebih ringan atau pinjaman usaha lebih mudah.

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, menyebut keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026. “Keputusan ini sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai kapasitas perekonomian," kata sang gubernur.

Kalimat Perry terdengar datar, tetapi di balik itu tersimpan keyakinan. Suatu keyakinan bahwa ekonomi butuh dorongan baru, satu di antaranya melalui penurunan suku bunga acuan alias BI Rate.

Angka yang Hidup di Dompet Rakyat

Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Bogor, pasangan muda beranak dua duduk di meja makan. Tagihan cicilan KPR tergeletak di atas meja dan kabar penurunan bunga acuan tiba lewat layar ponsel. 

“Kalau bunga turun, kami bisa punya sisa untuk biaya lain, karena nilai cicilan ikut turun,” kata Fitriyani, si ibu muda itu sambil menghitung ulang angka-angka cicilannya dengan kalkulator. Baginya, 5 persen bukan statistik, tapi harapan nyata.

Di tempat lain, di salah satu pasar tradisional Sleman, seorang pedagang kecil menimbang telur. Baginya, modal kerja yang lebih murah bisa berarti tambahan stok dagangan. 

“Kalau bunga turun terus, mungkin saya mau ambil utang di bank. Tapi itu baru rencana,” ucap Aji Hantara, pemuda yang baru merintis jualan telur.

Buat pedagang kecil, suku bunga bisa diibaratkan garis tipis antara bertahan atau mundur dari persaingan. Ambil utang mumpung suku bunga turun, atau bertahan dengan keadaan yang ada.

Namun, tidak semua menyambut turunnya suku bunga dengan gembira. Endartiningsih, seorang pekerja swasta di Yogyakarta, justru mengernyit saat BI untuk keempat kalinya sejak awal tahun kembali menurunkan suku bunga. 

Kernyitan itu karena seluruh tabungannya tersimpan dalam deposito. “Kalau bunga deposito turun, jasa bunga yang saya dapat makin kecil,” ucapnya. 

Situasi kontras itu menunjukkan kebijakan moneter tak pernah punya wajah tunggal. Kebijakan moneter ibarat pisau bermata dua di dompet rakyat, antara harapan atau kekhawatiran.

Bahasa Sunyi para Bankir

Di perkantoran gedung perbankan, para manajer keuangan menatap layar penuh angka. Penurunan suku bunga acuan membuat mereka harus mengutak-atik ulang perhitungan. 

Kredit yang lebih murah berarti bunga simpanan juga harus disesuaikan. Margin keuntungan, yang selama ini jadi penopang bisa mendadak menipis.

Bank-bank besar mungkin masih sanggup menanggungnya dengan cadangan likuiditas yang tebal. Namun bank-bank kecil, terutama yang bertumpu pada deposito masyarakat, bisa jadi gelisah. 

Mereka dituntut menyalurkan kredit lebih murah, tapi juga tetap menjaga kesehatan neraca. Di situlah bahasa sunyi para bankir bergaung, mereka harus bermain di antara laba dan kewajiban mendukung pertumbuhan.

M. Ashidiq Iswara, Corporate Secretary Bank Mandiri, menjelaskan melalui keterangan tertulis bahwa pihaknya segera melakukan penyesuaian dengan BI Rate. Hanya, prinsip dasar yang dipegang tetap hati-hati dan cermat. 

“Penyesuaian suku bunga kredit dan simpanan akan dilakukan secara prudent. Prinsipnya tetap mempertimbangkan kondisi likuiditas internal, dinamika pasar, serta arah kebijakan moneter yang berlaku,” ucap Ashidiq, Kamis lalu.

Sementara BCA, bank swasta terbesar di Indonesia, memilih jalan berbeda. Bahkan saat suku bunga atau BI Rate yang turun jadi 5,25 persen pada akhir Juli lalu, BCA tidak ‘reaktif’.

“Kalau dilihat, BCA dalam beberapa tahun sebelumnya, saat BI menaikkan suku bunga, BCA tidak menaikkan buat nasabah. Jadi dengan suku bunga turun, tidak berarti BCA akan menurunkan semuanya,” ujar Hendra, dalam jumpa pers virtual, Juli lalu.

Meski begitu, sebagian bank barangkali melihat penurunan suku bunga ini tetaplah peluang. Bisa saja konsumen akan lebih berani ambil KPR atau kredit kendaraan, yang berarti pasar bisa bergerak lebih liat. 

Maka, dari balik kaca perkantoran itu para bankir sedang menyusun ulang strategi. Mereka sadar, kebijakan moneter bukan sekadar instruksi, melainkan panggung tempat mereka harus menari dengan irama yang dibunyikan dari Thamrin.

Dunia Sedang Melepas Rem

Keputusan BI menurunkan suku bunga bukanlah kisah yang berdiri sendiri. Dunia tengah mengalami perubahan arah. 

Dari Washington, The Fed mulai memangkas bunga setelah bertahun-tahun mengetatkan. Di Frankfurt, Bank Sentral Eropa melonggarkan kebijakan, Tokyo pun memberi sinyal serupa.

Di Asia Tenggara, Thailand dan Malaysia lebih dulu mengambil langkah pelonggaran. Filipina menyusul dengan kebijakan yang sama. 

Indonesia, sebagai bagian dari arus besar itu, tak bisa berjalan sendiri. Jika tetap mempertahankan bunga tinggi, akan memberi risiko ditinggalkan modal asing, karena logikanya mereka mencari imbal hasil lebih menarik di tempat lain.

Namun, pelonggaran suku bunga yang berlebihan bisa membuat rupiah goyah. Investor asing bisa keluar masuk dengan cepat. 

Di situlah dilema moneter terasa seperti tepi jurang. Pilihannya menjaga stabilitas atau memberi dorongan pertumbuhan.

Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR, tidak ketinggalan bersuara. Melalui keterangan tertulis ia mengapresiasi keputusan bank sentral menurunkan suku bunga acuan.

“Itu sinyal positif untuk memperkuat daya dorong perekonomian, demi meningkatkan konsumsi masyarakat dan pembiayaan investasi. Namun, BI perlu memastikan UMKM dan pelaku usaha kecil benar-benar menikmati bunga kredit yang lebih rendah,” kata Misbakhun.

Ia mengingatkan jangan sampai penurunan suku bunga, ternyata hanya dirasakan di sektor besar. Sedangkan usaha kecil tetap menanggung beban bunga mahal.

Oleh karena itu keputusan 5 persen sejatinya merupakan cara menyesuaikan diri dengan dunia. Sebuah pilihan yang harus diambil agar Indonesia tak tertinggal dari arus global yang sedang kompak melepas rem suku bunga.

Ruang Bernapas bagi Ekonomi

Bagi pemerintah, kebijakan penurunan suku bunga ibarat pintu yang sedikit terbuka. Dengan biaya pinjaman lebih murah, konsumsi bisa tumbuh, investasi ikut bisa bergairah. 

Sektor properti atau otomotif menunggu sinyal ini untuk kembali bernapas. UMKM yang sering kesulitan akses modal bisa mendapat peluang lebih luas.

“Keputusan ini bagus untuk perekonomian. Kami berharap transmisi ke perbankan bisa lebih cepat, sehingga suku bunga perbankan bisa turun,” kata Menko Perekomian Airlangga Hartarto, Rabu sore lalu, beberapa saat setelah rilis BI Rate keluar.

Namun ruang bernapas itu bukan tanpa syarat. Jika pemerintah tak sigap memanfaatkan momentum dengan kebijakan fiskal yang mendukung, peluang ini bisa hilang begitu saja. 

Deputi Gubernur BI, Juda Agung, mengakui transimisi suku bunga mungkin tidak bisa secepat penurunan BI Rate. Meski setidaknya ada sinyal bagus kalau perbankan cepat memberi respons.

“Dengan penurunan suku bunga, kemudian likuiditas yang masih tinggi, ditambah ekspansi pemerintah yang cepat pada semester II, kami optimistis. Baik, dalam konteks BI Rate maupun penyediaan likuiditas, semua akan bertransmisi lebih baik pada semester kedua tahun ini,” ujar Juda.

Sejarah yang Berulang

Ini bukan pertama kalinya Indonesia menyaksikan bunga acuan turun sebagai strategi menjaga pertumbuhan ekonomi. Pada 1998, saat krisis Asia, bunga sempat melambung tinggi untuk meredam kepanikan, lalu perlahan dipangkas ketika situasi stabil. 

Lalu pada 2008 saat terjadi krisis global, BI terpaksa melonggarkan kebijakan demi menjaga mesin ekonomi. Pandemi 2020 malah memberi pelajaran lebih keras, ketika BI menurunkan bunga secara agresif untuk memberi ruang bagi pemulihan.

Kini, 2025, pola itu kembali muncul karena sejak akhir 2024 hingga sekarang sudah beberapa kali suku bunga diturunkan. Perinciannya September 2024 BI memangkas suku bunga dari level 6,25 persen menjadi 6,00 persen. 

Disambung pada Januari 2025 suku bunga turun menjadi 5,75 persen, Mei 2025 5,50 persen, dan Juli 2025 menjadi 5,25 persen. Sekarang pada pekan ketiga Agustus 2025 suku bunga turun lagi jadi 5 persen.

Sejarah memang mengajarkan kebijakan moneter berjalan seperti siklus. Ketika dunia goyah, bunga dinaikkan untuk bertahan, kemudian ketika badai mereda, bunga diturunkan untuk tumbuh kembali.

Harapan dan Bayangan Risiko

Optimisme memang segera muncul dengan konsumsi rumah tangga diperkirakan naik, investasi bisa lebih berani, cicilan rumah lebih ringan. Pasar saham pun merespons positif dengan harapan investor atau arus modal asing kembali masuk.

Tapi bayangan risiko tetap berdiri di ujung jalan. Nilai tukar rupiah rawan terguncang jika gejolak geopolitik meletus. 

Harga komoditas dunia bisa melonjak tiba-tiba, menggerus daya beli domestik. Modal asing bisa keluar masuk tanpa aba-aba.

Risiko itu sedikit terlihat ketika nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat kemarin melemah 63 poin atau 0,38 persen menjadi Rp16.351 per USD. Sebelumnya nilai tukar ada di angka Rp16.288 per USD.

Namun, Ibrahim Assuabi, analis dari Laba Forexindo Berjangka, melihat pelemahan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi para pejabat The Fed yang masih mempertahankan suku bunga. “Mungkin karena kondisi inflasi yang masih tinggi,” ucapnya.

BI sendiri menyadari hal itu, sembari terus memantau kemungkinan penurunan lebih lanjut dengan tetap menjaga stabilitas rupiah. Artinya BI Rate 5 persen ini bukan akhir, tapi bisa menjadi awal dari serangkaian langkah, tergantung arah angin global.

Janji di Balik 5 Persen

Pada akhirnya suku bunga acuan 5 persen ini bukan sekadar angka. Ia adalah simbol harapan yang ditawarkan bank sentral kepada bangsa, termasuk harapan agar mesin ekonomi bisa berputar lebih kencang.

Hal itu seperti disampaikan Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI. Penurunan suku bunga ini ibarat rakyat kecil butuh napas lega, supaya masa depan bisa lebih lapang.

“Namun, BI tidak ingin pelonggaran kebijakan moneter malah menimbulkan tekanan baru untuk perekonomian. Karena itu keputusan penurunan suku bunga selalu disesuaikan dengan kondisi makroekonomi terkini,” ujarnya dalam diskusi di Yogyakarta, Jumat kemarin.

Buat rakyat, terpenting bukan jargon moneter, melainkan dampak di kehidupan sehari-hari. Apakah cicilan betul-betul turun? Apakah modal usaha lebih mudah diakses? Apakah harga barang bisa terkendali? 

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah suku bunga 5 persen bisa memberi dampak cepat buat pertumbuhan ekonomi atau tidak. Kita tunggu saja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....