Trump-Putin di Alaska: Simbol Perdamaian, Hasil Minim
- 19 Agt 2025 11:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
PERTEMUAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berlangsung di Anchorage, Alaska, pada Jumat (15/8/2025). Acara tersebut digadang-gadang sebagai momentum besar menuju perdamaian di Ukraina.
Namun, pertemuan tersebut berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan terkait perang di Ukraina. Meski demikian, keduanya tetap menggambarkan pembicaraan itu sebagai produktif, dilansir dari Reuters.
Trump hanya menegaskan, “Tidak ada kesepakatan sampai ada kesepakatan”. Sebelumnya, Trump berharap pertemuan itu bisa membuka jalan bagi gencatan senjata, tetapi tanda-tanda ke arah tersebut belum terlihat.
Sehari sebelumnya, pada Kamis (14/8/2025), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London. Fokus pembahasan adalah jaminan keamanan yang diyakini dapat menciptakan perdamaian langgeng, dilansir dari NHK.
Sementara itu, Rabu (13/8/2025), para pemimpin Eropa melakukan pertemuan virtual dengan Trump. Pertemuan virtual tersebut diadakan utuk membahas KTT di Alaska bersama Putin.
Trump dan Wakil Presiden J.D. Vance berbicara dengan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Finlandia, dan Polandia. Pembicaraan itu juga turut dihadiri pimpinan Uni Eropa dan NATO.
Kepada para pemimpin Eropa, Trump menyatakan ingin Moskow dan Kyiv menyepakati gencatan senjata. Dia menegaskan masalah teritorial harus melibatkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dan jaminan keamanan harus menjadi bagian dari kesepakatan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan percakapan itu membantu memperjelas niat Trump. "Ini juga memberi ruang bagi para pemimpin Eropa untuk menyampaikan harapan mereka," ujarnya dikutip BBC News
Selanjutnya, Sambutan Karpet Merah untuk Putin
Sejak mendarat di Pangkalan Militer Gabungan Elmendorf-Richardson, Putin mendapat perlakuan Istimewa. Ia berjabat tangan panjang dengan Trump, karpet merah, hingga atraksi jet tempur AS.
Putin bahkan sempat naik ke limusin kepresidenan AS, The Beast, bersama Trump. Hal tersebut merupakan sebuah simbol kuat yang kontras dengan statusnya sebagai paria di Barat sejak 2022.
Pertemuan yang direncanakan berlangsung selama tujuh jam tersebut hanya berlangsung selama kurang dari tiga jam. Setelahnya, tidak ada konferensi pers bersama dan hanya pernyataan singkat tanpa adanya tanya jawab.
Melansir dari Al Jazeera, Putin menyebut pembicaraan berlangsung dalam “suasana konstruktif”. Namun, menegaskan bahwa penyebab utama konflik Ukraina harus diatasi agar perdamaian bisa bertahan lama.
Sementara itu, Trump menyebut pertemuan “sangat produktif” dan bahwa “banyak poin disepakati”. Namun, ia mengakui masih ada perbedaan signifikan dengan Moskow.
Selanjutnya, Trump Sebut Tanggung Jawab Perdamaian Tergantung Zelenskyy
Dalam KTT tersebut, Trump menegaskan tanggung jawab merundingkan gencatan senjata kini ada di Zelenskyy. Menurutnya, langkah penyelesaian konflik sangat bergantung pada keputusan Zelenskiy, dilansir dari CNN dan Xinhua.
“Sekarang benar-benar tergantung pada Presiden Zelenskyy untuk menyelesaikannya,” ucap Trump saat wawancara dengan Fox News usai KTT. Meski demikian, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai waktu maupun bentuk pertemuan yang direncanakan.
Meski demikian, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai waktu maupun bentuk pertemuan yang direncanakan. Trump menolak menjelaskan isu-isu yang masih menghambat kesepakatan, dan hanya menyampaikan bahwa ia ingin melihat apa yang bisa dicapai.
“Saya ingin memastikan hal ini bisa diselesaikan, dan kami punya peluang cukup besar untuk mencapainya,” tegas Trump. Ia juga menambahkan bahwa negara-negara Eropa perlu lebih terlibat dalam proses ini.
Melansir dari CNN, Trump menyatakan bahwa ia dan Putin hampir mencapai kesepakatan pertukaran wilayah antara Ukraina dan Rusia. Ia menilai hal itu bisa menjadi jalan keluar untuk mengakhiri perang Ukraina.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan bahwa sejumlah poin utama telah dinegosiasikan dan sebagian besar disepakati. “Ukraina harus menyetujuinya,” kata Trump.
Trump mengungkapkan bahwa negosiasi juga mencakup konsesi teritorial yang akan memberikan Rusia wilayah yang sebelumnya tidak dimiliki. Trump menyebut bahwa kedua belah pihak sudah cukup dekat mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang.
Selanjutnya, Rencana Pertemuan Zelenskyy, Putin, dan Trump
Setelah KTT, Trump mengungkapkan bahwa dirinya tengah menyusun rencana diplomatik untuk mempertemukan Zelenskyy dengan Putin. Trump mengatakan setelah pertemuan di Alaska, ia ia langsung menghubungi Putin melalui telepon dan membicarakan langkah-langkah persiapan.
"Setelah pertemuan hari ini, saya menelepon Presiden Putin dan memulai persiapan pertemuan antara Presiden Putin dan Presiden Zelenskyy di lokasi yang masih akan ditentukan,” kata Trump, dikutip dari Deutsche Welle.
Pertemuan antara Putin dan Zelenskyy direncanakan berlangsung dalam waktu dekat, meski lokasi pastinya masih belum ditentukan. Trump menegaskan bahwa tujuan utama dari inisiatif ini adalah mempertemukan kedua pemimpin secara langsung dengan dirinya sebagai mediator.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menambahkan bahwa pertemuan Putin–Zelenskyy dijadwalkan berlangsung dalam dua minggu ke depan. Menurutnya, Trump dan Putin telah menyepakati pertemuan itu melalui percakapan telepon.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....