Ekspektasi Ekonomi dari Pertemuan Trump-Putin

  • 13 Agt 2025 16:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PERTEMUAN Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menjadi perhatian serius pelaku pasar keuangan global. Pertemuan yang akan berlangsung di Alaska, 15 Agustus 2025, akan menentukan arah perekonomian global setidaknya hingga akhir tahun ini.

Para analis pasar keuangan di Indonesia berpendapat beragam mengenai prospek pertemuan tersebut. Yang pasti, pasar mewaspadai dampaknya ke harga minyak dunia dan dampak rambatannya ke perekonomian Indonesia.

“Susah menebak dampaknya bagaimana. Tapi kemungkinan dampaknya pada rantai pasok minyak global dan risiko geopolitik,” kata Analis dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, Rabu (13/8/2025).

Banyak yang meragukan pertemuan Trump dan Putin akan membuahkan hasil yang memuaskan bagi pihak Rusia dan Ukraina. Tapi bila kesepakatan damai tercapai, maka akan mengakhiri semua sanksi yang selama ini dikenakan pada Rusia.

“Terutama sanksi di sektor energi, sehingga berpotensi menurunkan harga minyak dunia. Jika ini terjadi, tentunya bagi Indonesia akan meringankan impor minyak yang akan meringankan beban APBN,” ucap Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Selanjutnya, AS Ingin Menguasai Pasar Minyak Global?

Sudah menjadi rahasia umum, AS ikut berperan dalam memicu konflik Rusia-Ukraina. Ketika konflik makin tidak terkendali, AS pun melakukan berbagai upaya gencatan senjata, namun selalu gagal.

Termasuk upaya melakukan pertemuan tanggal 15 Agustus guna mengakhiri konflik yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun itu. Presiden Trump sedikit  ‘memaksa’ Rusia-Ukraina berdamai melalui pertukaran wilayah yang menjadi sengketa.

Analis dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi termasuk yang meragukan pertemuan Trump-Putin akan membuahkan hasil. Apalagi, Presiden Ukraina tidak dilibatkan, perang kemungkinan masih akan berlangsung meski Trump-Putin mengklaim gencatan senjata.

“Apa yang dilakukan Trump sebenarnya ingin mencari pasar baru untuk produksi minyaknya. Supaya produksi minyak mentahnya yang mencapai 11 juta barel per hari itu, laku di pasaran,” ujar Ibrahim.

 Persaingan perdagangan minyak mentah dunia itu  hingga saat ini, masih didominasi oleh negara-negara anggota OPEC. Sedangkan yang non-OPEC salah satunya didominasi oleh Rusia.

Itulah sebabnya, Trump mengancam akan mengenakan sanksi tarif yang tinggi pada negara-negara mitra Rusia. Seperti India dan Tiongkok, termasuk negara-negara di Eropa yang selama ini membeli minyak dari Rusia. 

Jika negara-negara itu harus mengalihkan pembelian minyak ke AS, akan memicu biaya logistik yang lebih tinggi. Harga minyak akan naik yang bisa memicu kenaikan harga barang lainnya atau inflasi. 

Sama halnya  jika AS mengenakan sanksi tarif lebih tinggi pada India dan Tiongkok. Kemungkinan juga akan memicu inflasi global, termasuk di AS sendiri.

Selanjutnya, Dampak Ekonomi Jika Negosiasi Trump-Putin Gagal

Tidak ada yang bisa menjamin pertemuan Trump-Putin di Alaska akan mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Jika pertemuan itu menemui jalan buntu dan konflik makin tajam, para analis memperkirakan dampaknya pada kenaikan harga minyak dunia.

“Inflasi yang tinggi akan membuat perekonomian global bermasalah lagi. Lembaga-lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia dan OECD bisa saja menurunkan kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi global,” kata Ibrahim.

Bank Dunia dan OECD pada bulan Juni,  merevisi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025. Perekonomian semula diperkirakan akan tumbuh 3 persen tahun ini, direvisi ke bawah menjadi 2,7 persen.

Sementara Lembaga Moneter Internasional (IMF), pada bulan Juli merevisi pertumbuhan ekonomi tahun 2025. Menurut IMF, perekonomian global diperkirakan akan tumbuh 4,8 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7 persen.

“Tapi perkiraan IMF itu setelah tercapai kesepakatan tarif sejumlah negara dengan AS. Proyeksi pertumbuhan itu belum kuat, sebelum ada keputusan dari hasil pertemuan Trump-Putin hari Jumat nanti (15 Agustus),”  ujar Ibrahim.

Indonesi sendiri, dengan tercapainya kesepakatan tarif 19 persen dengan AS, sudah pasti akan membeli minyak dan gas dari AS. Jadi pertemuan Trump-Putin kemungkinan tidak terlalu berpengaruh langsung bagi perekonomian Indonesia.

Tapi, terhadap pasar modal dan pergerakan rupiah pasti akan berpengaruh. Karena kalau pertemuan itu hasilnya gagal, bursa saham di AS dan Eropa akan memerah.

“Dampaknya, bursa Asia pun akan merah, termasuk indeks harga saham di Indonesia. Kemudian, rupiah juga pasti akan melemah,” kata Ibrahim menutup analisisnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....