Pengabdian Tulus Menjaga Pesta Rakyat Sampai Napas Terakhir
- 23 Jul 2025 09:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
AWAN cerah menggantung di atas langit Garut, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025), pagi. Matahari belum terlalu terik ketika ribuan orang mulai berdatangan ke halaman Pendopo Garut.
Hari itu adalah hari pesta rakyat. Pernikahan Maula Akbar, putra Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, dengan Luthfianisa Putri Karlina, anak Wakapolda Metro Jaya.
Di antara keriuhan tawa, denting musik, dan antrean panjang menuju tenda makanan, berdiri sosok tenang di sudut barikade. Bripka Cecep Saeful Bahri, polisi senior Polres Garut, kembali menjalankan tugas yang telah akrab dijalani selama belasan tahun.
Cecep bukan nama asing dalam setiap acara besar di Garut. Bhabinkamtibmas yang dikenal sabar, teliti, dan sering kali menjadi orang terakhir yang meninggalkan lokasi, memastikan tidak ada warga tertinggal atau terluka.
Pesta hari itu meriah. Panggung hiburan besar disiapkan, artis lokal tampil bergantian, dan tamu undangan datang dari berbagai daerah.
Wajah-wajah bahagia menyemut di bawah tenda, berdesakan di pinggir panggung, dan memenuhi area makan terbuka. Namun, siang itu, suhu mulai naik dan kerumunan kian padat.
Musik yang semula menghibur berubah menenggelamkan suara peringatan. Arus massa tak lagi bisa dikendalikan.
Panik menjalar cepat, menggantikan euforia yang sejak pagi membungkus suasana. Cecep tetap di tempatnya, tak mundur sedikit pun.
Beberapa kali ia terlihat membantu warga yang jatuh dan menarik anak kecil dari desakan massa. Ia juga sempat mendorong seorang ibu keluar dari kepungan agar tak terinjak warga lain.
Rekan-rekannya melihat wajahnya memucat, napasnya berat, tapi Cecep menolak berhenti dari tugasnya. "Dia bilang, masih kuat, warga lebih butuh dibantu'," kata Briptu Andri, anggota pengamanan di lokasi pada wartawan.
Setelah suasana dapat dikendalikan dan kerumunan sudah tidak ada lagi, Cecep bermaksud untuk duduk beristirahat. "Tapi sesaat kemudian pingsan lalu meninggal dunia, dipastikan (meninggal) di lokasi dan dibawa, dievakuasi ambulans ke rumah sakit," jelas Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan.
Cecep berpulang bukan oleh peluru, bukan karena kecelakaan. Tetapi karena pengabdian yang tulus menjaga pesta rakyat hingga napas terakhir.
Selanjutnya, Keberanian dan Pengabdian Tersembunyi di Balik Ketenangan
Bripka Cecep Saeful Bahri lahir di Garut pada 12 Maret 1985. Sejak 2007, ia mengabdikan diri sebagai polisi di Polres Garut, Jawa Batar. Sosok yang tidak banyak bicara, tapi selalu hadir dengan ketenangan dan dedikasi tinggi di setiap tugasnya.
Perjalanan karier Cecep dimulai dari anggota patroli biasa, hingga mencapai pangkat Brigadir Kepala. Ia dikenal sebagai sosok yang sabar dan teliti, selalu datang lebih awal dan pulang terakhir.
Rekan-rekannya kerap melihatnya membantu anggota muda menyusun laporan dan strategi pengamanan. Pelatihan dan penghargaan pun pernah diterimanya sebagai bukti profesionalisme dan pengabdiannya.
Di rumah, Cecep adalah suami yang penuh perhatian bagi Siti Aisyah dan ayah dari satu anak. Siti Aisyah mengenang, “Dia sempat mencium tangan dan bilang, ‘Paling sore pulang’ sebelum bertugas di hari itu.”
Selanjutnya, Penghormatan Terakhir dan Janji dari Atasan
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan datang langsung ke rumah duka di kawasan Tarogong Kidul, Garut, Minggu (20/7/2025). Ia menyampaikan belasungkawa mendalam dan memeluk erat istri Bripka Cecep, Siti Aisyah.
Dalam suasana duka, Kapolda berjanji akan memberikan pendampingan penuh kepada keluarga korban, baik secara hukum maupun bantuan sosial. Ia menegaskan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Bripka Cecep menerima kenaikan pangkat anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda), yang tertuang dalam Surat Keputusan Kapolri nomor 123/2025 tertanggal 18 Juli 2025. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya.
Nama Cecep kini diabadikan di aula kehormatan Mapolres Garut sebagai anggota polisi yang gugur dalam tugas negara. Sebuah plakat dan foto resmi dipajang untuk mengenang jasa dan pengorbanannya.
Rekan-rekan kerja menyampaikan kenangan tentang Cecep yang selalu sigap dan penuh dedikasi. Mereka merasa kehilangan sosok yang sabar dan selalu siap membantu dalam setiap tugas pengamanan.
Masyarakat Garut juga turut berduka dan mengapresiasi keberanian Cecep dalam menjaga keamanan acara rakyat. Banyak yang datang memberikan doa dan dukungan kepada keluarga.
Kapolda juga menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengamanan acara besar di wilayahnya. Ia berharap agar pengamanan dapat lebih diperketat demi keselamatan semua pihak.
Selanjutnya, Tiga Nyawa, Tiga Cerita Kehilangan
Cecep bukan satu-satunya korban jiwa dalam tragedi pesta rakyat 18 Juli itu. Dua warga lainnya, Vania Aprilia (8 tahun) dan Dewi Jubaedah (61 tahun), juga meninggal dunia.
Vania terpisah dari keluarganya dan ditemukan tak sadarkan diri di dekat tenda makanan. Sementara Dewi pingsan akibat sesak napas dan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit yang sama.
RSUD Garut mencatat lebih dari 15 orang dirawat karena pingsan, syok, dan kesulitan napas. Petugas medis kewalahan karena banyak korban datang dalam waktu hampir bersamaan.
Kronologi kejadian bermula ketika kerumunan membludak sejak pagi di halaman Pendopo Garut. Kericuhan terjadi saat massa yang semakin padat mulai saling dorong dan terinjak.
Pesta yang semula meriah berubah menjadi panik ketika jeritan dan desakan manusia tak terkontrol. Petugas keamanan, termasuk Bripka Cecep, berupaya menenangkan dan mengatur arus massa.
Namun, arus besar manusia yang panik menyebabkan korban terjatuh dan terinjak-injak hingga beberapa harus mendapat perawatan intensif. “Saya lihat kerumunan makin padat, dan tiba-tiba banyak orang berlari dan terjatuh, situasi sangat menakutkan,” ujar Rudi, warga yang sempat berada di lokasi kejadian.
Selanjutnya, Tenda Dibongkar, Tinggallah Duka
Tenda pesta sudah dibongkar, panggung sudah sunyi, dan karangan bunga mulai layu di halaman Pendopo Garut. Namun, luka yang ditinggalkan belum juga kering, terutama bagi keluarga korban yang kehilangan orang tercinta.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas tragedi yang terjadi dalam pesta rakyat itu. Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan memberikan santunan serta bantuan pendidikan bagi anak-anak korban.
“Ini musibah yang sangat menyakitkan bagi kita semua. Pemerintah berkomitmen membantu keluarga yang ditinggalkan dan mengevaluasi semua acara besar agar tidak terulang lagi,” ujar Dedi saat ditemui di rumah duka, Senin (21/7/2025).
Mempelai pria, Maula Akbar, juga menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang menimpa para tamu dan petugas keamanan. Lewat video singkat yang tersebar di media sosial, Maula menyatakan, rasa bersalah yang mendalam.
“Saya mohon maaf atas tragedi ini, doa dan harapan kami selalu untuk korban dan keluarga. Kami berjanji akan membantu dan bertanggung jawab sepenuhnya,” kata Maula dengan suara bergetar.
Meskipun begitu, masyarakat masih mempertanyakan mengapa acara dengan jumlah massa yang sangat besar digelar tanpa persiapan pengamanan yang memadai. Kritikan mulai mengalir ke pihak penyelenggara terkait manajemen kerumunan.
Ketua Panitia Penyelenggara Rina Sari menjelaskan, bahwa pesta ini direncanakan sebagai perayaan terbuka untuk masyarakat luas. Namun mereka mengakui bahwa perhitungan jumlah massa dan langkah pengamanan kurang maksimal.
“Kami mohon maaf atas kekurangan dalam pengamanan. Ini menjadi pelajaran besar bagi kami agar ke depan acara seperti ini lebih tertib dan aman bagi semua pihak,” ujar Rina saat ditemui wartawan.
Polda Jawa Barat kini memimpin proses penyelidikan kasus ini, telah memeriksa lebih dari sebelas saksi dari berbagai unsur termasuk panitia. Penyelidikan ditujukan untuk menemukan akar masalah dan mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab. (Afriani Respati)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....