Pelampung di Dada, Balita di Pelukan
- 22 Jul 2025 16:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
ABDUL Rahman Agu tak mengira akan menggendong balita di laut saat kapal terbakar. Ia hanya penumpang biasa, bukan ayah si anak yang terus menangis sepanjang pelarian.
KM Barcelona V terbakar saat berlayar dari Melonguane menuju Manado, Minggu siang, 20 Juli 2025. Kebakaran bermula dari bagian mesin, membuat kepulan asap menyelimuti dek bawah dalam hitungan menit.
Penumpang panik, berlarian sambil mengenakan pelampung, lalu terjun ke laut setinggi tiga meter. Arus deras menyeret mereka jauh ke tengah laut, menambah kepanikan di antara teriakan anak-anak.
Di tengah kekacauan itu, Abdul melihat seorang ibu nyaris tenggelam sambil memeluk anaknya erat. Ibu itu berkata lelah dan tak mampu lagi, lalu menyerahkan balita kepada Abdul tanpa ragu.
Dengan tubuh lelah dan air laut yang terus menekan, Abdul peluk balita itu seerat mungkin. Ia menenangkan sang anak, sembari menjaga agar tetap dekat dengan sang ibu yang terapung lemah.
Sambil berenang pelan dan menahan napas, Abdul sempat merekam kejadian itu melalui siaran langsung Facebook. Dalam video itu, terdengar suaranya memohon pertolongan dan menghibur balita, “Jangan nangis, adek aman.”
Abdul memeluk balita selama hampir satu jam, sambil sesekali melihat sekeliling mencari perahu penyelamat. Ia tetap tenang meski arus membawa mereka menjauh, dan tubuh mulai kelelahan dihantam ombak panas siang hari.
Satu perahu nelayan akhirnya mendekat, lalu menarik Abdul, ibu, dan balita ke atas perahu. Setelah itu, Abdul ikut membantu korban lain naik, mendahulukan yang lebih rentan dan kesulitan bergerak.
Tim SAR bersama kapal Barcelona III, Venecian, Cantika Lestari 9F, dan nelayan lokal segera menyisir lokasi. Sebanyak 575 penumpang akhirnya selamat, termasuk balita dan ibu yang digendong Abdul Rahman di laut.
“Saya anggap itu anak sendiri,” kata Abdul ketika ditanya kenapa nekat menggendong selama itu, pada wartawan. Baginya, kemanusiaan tak boleh padam, bahkan saat laut terbakar dan napas tinggal sisa-sisa.
Selanjutnya, Dikenal sebagai Pribadi Cepat Bertindak
ABDUL Rahman Agu dikenal warga Kelurahan Bailang, Manado, Sulawesi Utara sebagai pribadi sederhana dan sangat membumi. Ia tinggal di rumah petak bercat biru muda, berdampingan dengan para tetangga yang sudah dianggap keluarga.
Setiap pagi ia menyapu halaman sambil menyapa orang yang melintas, tak peduli anak-anak atau orang tua. Saat Sabtu, ia rutin membantu membersihkan saluran air dan menjaga anak tetangga bermain di gang sempit.
Menurut tetangganya, Toma, Abdul selalu cepat tanggap jika ada kejadian darurat di sekitar lingkungan. "Dia orang pertama yang datang waktu tetangga jatuh di kamar mandi, gerak cepat, langsung bantu,” ujarnya pada wartawan.
Beberapa warga juga menyebut Abdul sebagai "penjaga malam" karena sering memantau lingkungan dari teras rumah. Ia tak segan menegur pemuda yang mabuk atau mengarahkan warga saat banjir datang mendadak.
Anak-anak kecil menyukainya karena Abdul kerap membagikan es lilin atau jajanan ringan sepulang sekolah. Mereka sering memanggilnya “Om TikTok” karena pernah diajak syuting konten lucu di halaman rumah.
Meski begitu, Abdul tak pernah merasa lebih dari warga lain, bahkan menolak jika dipuji berlebihan. “Biasa jo, torang bantu-bantu saja kalau ada yang susah,” katanya sambil tersenyum.
Sosoknya bukan yang menonjol, tapi di mata warga, Abdul selalu hadir saat dibutuhkan, cepat dan tenang. Dan itulah yang kemudian membuat aksinya di laut Talise terasa tak dibuat-buat: itu bagian dari dirinya.
Selanjutnya, Konten Kreator Jujur
DI media sosial, Abdul Rahman memang aktif sebagai konten kreator lokal dengan tema keseharian dan sosial. Akun Facebook dan TikTok-nya berisi video gotong royong, anak-anak bermain, hingga edukasi ringan soal keselamatan.
Ia tidak punya jutaan pengikut, namun komentar di tiap video selalu penuh dengan apresiasi dan tawa. "Abdul itu kontennya jujur, nggak ada setingan," ujar Randy, tetangganya yang juga pernah ikut syuting video, pada wartawan.
Beberapa video Abdul bahkan dibuat untuk membantu promosi UMKM lokal seperti penjual ikan keliling atau warung nasi. Ia percaya, media sosial bisa jadi alat bantu komunitas, bukan sekadar tempat pamer kehidupan pribadi.
Ketika video penyelamatan balita tersebar luas, Abdul malah sempat malu membuka akun Facebook-nya. “Saya kira cuma teman-teman sekitar yang nonton, eh ternyata semua orang ikut share,” kata Abdul terkekeh.
Menurutnya, menjadi viral bukan tujuan, yang penting adalah tetap berguna, meski hanya lewat video satu menit. Karena baginya, ketulusan jauh lebih lama bertahan dibanding jumlah views atau likes.
Selanjutnya, Profil Abdul Rahman Agu
ABDUL Rahman Agu lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 37 tahun silam dari keluarga nelayan sederhana. Ia tumbuh besar bersama enam saudara, terbiasa bangun subuh dan membantu ayah menjala ikan di Danau Tondano.
Selepas SMA, Abdul merantau ke Manado dan bekerja serabutan, mulai dari kuli bangunan hingga ojek motor. Tahun 2013, ia menikah dengan Yuni, gadis Manado yang kini menjadi ibu dua anak mereka, Rehan dan Lala.
Kesehariannya kini diisi dengan berdagang alat pancing dan membuat konten edukasi sosial lewat media sosial. Akun Facebook-nya dengan username @bakasangbusu14, berisi video ringan, mulai dari tips keselamatan laut hingga ajakan hidup bersih.
Selanjutnya, Kemenhub Susuri Dugaan Overkapasitas dan Operasi Transparan
MENTERI Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mendatangi posko korban di Manado, Senin (21/7/2025), dan menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa manifest penumpang resmi akan ditelusuri karena mewaspadai adanya penumpang gelap di KM Barcelona.
Basarnas melaporkan jumlah korban selamat mencapai 571 orang, padahal manifest menulis hanya 280 penumpang resmi. Menhub menyebut ini sangat mengkhawatirkan karena bisa mengancam standar keselamatan pelayaran Kemenhub.
Saat kunjungannya, Dudy juga menginstruksikan KNKT, KPLP, Basarnas, dan Bakamla untuk menyelidiki secara langsung. “Kami perintahkan KNKT selidiki kebakaran dan kelebihan muatan dengan transparansi penuh,” katanya.
Sementara itu, Dirjen Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, memastikan semua penumpang tercatat dalam manifest telah ditemukan. “Penumpang yang tercantum dalam manifes telah ditemukan baik selamat maupun yang meninggal,” katanya.
Kini tim Kemenhub juga menguji material kasur dan knalpot sebagai diduga sumber awal api di dek tiga. "Kami mengambil sampel material untuk menentukan apakah ada kelalaian operasional atau cacat produk," ujar Masyhud.
Dikatakan, jika ditemukan kelalaian dari operator kapal, proses hukum akan diserahkan sepenuhnya kepada aparat berwenang. Sebab, keselamatan pelayaran adalah prioritas, dan setiap pelanggaran tidak akan ditoleransi.
Selanjutnya, Polisi Periksa Nahkoda dan ABK
POLISI Perairan (Polairud) Polda Sulawesi Utara segera melakukan pemeriksaan terhadap nahkoda dan anak buah kapal (ABK) usai kebakaran. Direktorat Polairud memeriksa satu nakhoda dan 13 anak buah kapal KM Barcelona V dalam penyelidikan awal.
Kepala Polda Sulut, Irjen Pol Roycke Harry Langie, menyatakan mereka tengah menyelidiki penyebab utama kebakaran kapal tersebut. “Kami sedang selidiki penyebabnya,” ungkap Roycke dalam keterangannya, Senin (21/7/2025).
Polisi bersama TNI AL, Kemenhub, dan operator kapal sedang membawa bangkai kapal ke Manado untuk pemeriksaan lebih lanjut. Royce menjelaskan, kapal belum tenggelam, dan proses evakuasi belum selesai saat pemeriksaan materius dilakukan.
Selain kebakaran, polisi juga berkoordinasi untuk mencocokkan manifest penumpang terhadap data korban selamat dan hilang. Langkah ini diambil karena jumlah korban selamat melebihi manifes resmi, menunjukkan kemungkinan kelebihan muatan.
Polairud juga telah menetapkan nakhoda berinisial IB sebagai tersangka dalam kasus kelalaian penyebab kebakaran kapal. Proses penyidikan sedang berlangsung untuk mengungkap dugaan penyebab teknis dan prosedural kapal
Polisi mencatat sedikitnya 57 penumpang mengalami luka dan kini dirawat di rumah sakit kota Manado dan Minut. Data ini diperoleh dari monitoring kesehatan korban oleh tim Polda Sulut sejak evakuasi awal
Polda Sulut menegaskan investigasi akan berlanjut termasuk pemeriksaan material kasur, knalpot, dan saksi di lokasi kebakaran. Semua bukti teknis tersebut akan diperiksa guna memastikan apakah ada unsur kelalaian atau cacat produksi.
Selanjutnya, Kronologi Sementara Saat Kejadian
KM Barcelona V berlayar dari Pelabuhan Melonguane, Talaud menuju Manado pada Minggu (20/7/2025), pagi. Kapal membawa ratusan penumpang, termasuk balita, pelajar, dan keluarga yang hendak kembali dari liburan Iduladha.
Sekitar pukul 13.00 WITA, asap mulai terlihat dari dek tiga bagian buritan kapal, dekat ruang mesin. Penumpang lantai bawah tidak langsung menyadari karena asap belum tercium hingga dek satu dan dua.
Seorang penumpang di dek atas berteriak ada api, memicu kepanikan mendadak di antara penumpang lainnya. Mereka segera berhamburan mengambil jaket pelampung dan berlari menuju arah luar kapal untuk menyelamatkan diri.
Beberapa saksi menyebut api membakar kasur di dekat knalpot yang diduga terlalu panas dan memicu percikan. Cuaca panas dan tiupan angin mempercepat rambatan api, menjalar dari atas ke bagian tengah kapal.
Kepanikan semakin menjadi saat suara ledakan kecil terdengar dari arah mesin kapal, membuat penumpang melompat. Air laut setinggi tiga meter menjadi satu-satunya tempat pelarian bagi ratusan penumpang tanpa pilihan lain.
Beberapa penumpang memilih berenang menjauh dari kapal yang terbakar sambil tetap menjaga keluarga mereka. Tangisan anak-anak, teriakan minta tolong, dan desakan tubuh menyelimuti laut Talise siang itu.
Siaran langsung Facebook dari penumpang menunjukkan kondisi asap tebal dan api melalap bagian dek tengah. Beberapa lainnya juga merekam kejadian itu dari laut, memperlihatkan betapa cepat kapal dilalap api.
Kapal nelayan terdekat menjadi penyelamat pertama yang mengevakuasi korban ke pesisir Minahasa Utara. Tak lama kemudian, kapal Barcelona III, Venecian, dan Cantika Lestari 9F tiba membantu proses penyelamatan.
Banyak penumpang diselamatkan dalam keadaan lemah, kelelahan, atau kehilangan barang berharga dan dokumen penting. Evakuasi terus berlangsung hingga malam hari, disusul pencarian korban yang belum ditemukan di sekitar perairan. (Yusuf Bagus)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....