Populasi Terakhir Badak Sumatra Harus Diselamatkan

KBRN, Jakarta: Keprihatinan atas semakin langkanya jumlah spesies badak Sumatra disuarakan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dalam peringatan Hari Badak Sedunia yang jatuh pada 22 September.

Badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis) merupakan satu dari 5 spesies badak yang masih bertahan di dunia. Spesies ini merupakan salah satu badak yang paling langka dan sayangnya keberadaannya di alam kian terancam.

Bahkan sebelumnya, Badak Sumatra yang berada di Malaysia telah dinyatakan punah di alam liarnya sejak tahun 2015. 

Menurut Yayasan KEHATI, hewan bercula dua tersebut kini hanya dapat ditemukan di kantong-kantong kecil terpisah di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Ekosistem Leuser, Taman Nasional Way Kambas, dan Kutai Kalimantan.

Kepada RRI, Selasa (22/9/2020), Yayasan KEHATI memperkirakan jumlah badak Sumatra di alam liar kini kurang dari 100 individu. 

Penyebabnya antara lain, praktik perburuan dan perdagangan satwa, degradasi dan fragmentasi habitat, serta penyakit pada sistem reproduksi. 

Berbagai program konservasi dilakukan Yayasan KEHATI dan para mitranya, di antaranya program Tropical Forest Conservation Action, TFCA-Sumatera dan TFCA Kalimantan yang merupakan program perlindungan spesies kunci yang ada di Indonesia, termasuk badak Sumatra. 

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos mengatakan Yayasan KEHATI melalui mitra-mitra di tingkat lokal dan bersama seluruh pihak terus mendukung program pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, termasuk penyelamatan badak Sumatra, baik yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan.

Konservasi badak Sumatra sangat penting bagi Indonesia. Selain statusnya yang kristis (critically endangered), satwa yang suka mengonsumsi pucuk-pucuk daun muda ini berfungsi untuk meregenerasi hutan dengan tumbuhnya pucuk-pucuk baru dari daun yang dimakannya. 

Karena jangkauan jalannya yang jauh, badak juga merupakan agen penyebar benih melalui biji-biji hutan yang melekat ditubuhnya. Selain itu, badak membuka jalan rintisan dari vegetasi tebal untuk satwa liar yang lainnya.

Untuk program penyelamatan badak sumatra di Kalimantan, program khusus Yayasan KEHATI lainnya yaitu TFCA Kalimantan melalui mitra penerima hibah ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu) telah berhasil menyelamatkan spesimen hidup badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis) berjenis kelamin betina bernama Pahu dari kawasan hutan Kampung Besiq Kecamatan Damai. 

Selain badak Sumatra, beberapa spesies endemik Indonesia juga masuk dalam program konservasi oleh Yayasan KEHATI yaitu harimau, gajah, orang utan oleh TFCA Sumatera, dan rangkong gading, orang utan, bekantan, pesut, dan banteng oleh TFCA Kalimantan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00