Radio Rimba Raya: Indonesia Masih Ada

KBRN, Jakarta: Radio Republik Indonesia (RRI) memasuki usia ke-75 tahun. Eksistensi RRI pun semakin melonjak mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Perjalanan radio siaran di Indonesia tidak hanya soal cerita RRI.

Kala itu, meski Indonesia telah merdeka, Belanda masih melakukan berbagai upaya salah satunya saat Agresi Militer II pada 1948. Belanda masuk lagi ke Indonesia dengan tujuan menyebar fitnah menyebutkan bahwa Indonesia bubar dan keberadaan RRI diambil alih oleh Belanda.

Saat semua alat komunikasi diputus, ada satu pemancar komunikasi di Bener Meriah, Aceh yang selamat dari bom.

Berkat pemancar yang selamat dari bom ini, siaran sebuah radio, Radio Rimba Raya tetap bisa mengudara dan menyuarakan keberadaan Indonesia melalui radio penghubung PHB.

"Nah yang dipakai Radio Rimba Raya adalah radio PHB lewat mode voice-nya untuk mengirim pesan Indonesia masih ada," ujar Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Mohammad Rohanudin. 

Siaran RRR disiarkan ke seluruh dunia pada 23 Agustus hingga 2 Nopember 1949. Siaran RRR inilah yang menjadi dasar digelarnya pertemuan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, dan menyebutkan bahwa Indonesia berdaulat.

RRR juga menjadi cikal bakal dari siaran luar negeri RRI dan ada sejak 19 Desember 1948 namun diralat menjadi 30 Desember 1948. Salah satu bekas antena RRR Tentara Indonesia dari Divisi X Gajah, masih dapat ditemukan di tengah Hutan Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah (Aceh) atau 280 kilometer tenggara Banda Aceh.

Dahulu, radio ini memancarkan siarannya ke seluruh dunia dengan menggunakan tiga bahasa yakni Urdu, Inggris, dan Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia masih utuh.

RRR merupakan penyelamat bagi Indonesia karena berhasil membantah pernyataan bahwa Indonesia menyerah kepada Belanda yang dilontarkan oleh Radio Hilversum (Belanda).

Selain itu, RRR juga menjadi pengganti Radio Rakyat Indonesia (RRI) yang saat itu dikuasai oleh Belanda. Semua stasiun RRI berhasil dihancurkan oleh Belanda dan mereka juga melacak lokasi pemancarnya.

Panglima Divisi X Gajah saat itu, Kolonel Hoesin Yoesoef, berhasil mengamankan antena dan pemancar RRR dengan cara berpindah-pindah di tengah hutan. Tidak hanya itu, sebuah generator kecil yang menjadi sumber tenaga juga tidak luput disembunyikan. Meski demikian, RRR mampu mengudara setiap malamnya.

Pada 1987, Kolonel Hoesin meninggal dunia di Bireun dengan pangkat terakhir Kolonel TNI AD dalam jajaran Kodam I Bukit Barisan. Selain Kolonel Hoesin, ada satu saksi hidup lain yang berperan dalam menjaga keselamatan pemancar RRR. Ia adalah Sultan Aman Mar, prajurit kesatuan Divisi X Gajah.

Sebelum Belanda mengejar, penempatan pemancar RRR terletak di markas tentara Divisi X Gajah, Sungai Krueng Simpo dekat Bireun Kabupaten Aceh Utara. Lalu, pemancar RRR dipindah ke hutan Bur Ni Bios, Ronga-Ronga agar terhindar dari kejaran Belanda dan yang terakhir disembunyikan di Hutan Rimba Raya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar