Rieke 'Oneng' Dukung PPATK Bongkar Tuntas Data Bansos Fiktif
- 07 Agt 2025 12:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, mendesak dibongkarnya penerima bantuan sosial (bansos) fiktif. Ia mendukung Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk membongkar hal itu.
Menurut pemeran Oneng dalam sinetron "Bajaj Bajuri" itu, negara berpotensi merugi hingga ratusan triliun rupiah per tahun akibat dari bansos yang disalurkan kepada penerima fiktif tersebut.
"Tak ada pembangunan yang lahirkan kesejahteraan jika basisnya data fiktif negara," kata Rieke dalam unggahan akun Instagram miliknya @riekediahp, Rabu (6/8/2025).
Menurut dia, pada tahun 2021 tercatat sekitar 52,5 juta data penerima bansos diduga fiktif. Estimasi kerugian negara akibat hal itu mencapai Rp126 triliun per tahun.
"Jika data penerima bansos fiktif, maka indikasi kuat dana bansos disalurkan ke rekening fiktif, saat itu diyatakan data fiktif dihapus. Pertanyaannya, ke mana dana bansos yang dialokasikan berbasis data fiktif tersebut?" ujar Rieke.
Ia mengungkapkan bahwa hal ini sesungguhnya berulangkali disuarakan, tetapi tak pernah digubris. "Barulah di era Presiden Prabowo Subianto, ada instruksi tegas pada PPATK untuk mengungkap kasus 'manipulasi data negara' ini," kata Rieke.
Politisi PDI Perjuangan ini menuturkan, pada Sabtu, 5 Juli 2025, PPATK mengumumkan 10 juta data fiktif penerima bansos. Sementara, pada Senin, 7 Juli 2025, diumumkan 571.410 data penerima bansos terindikasi terlibat pinjol, judol, bisnis narotika, dan terorisme.
"Hipotesis sementara, jika data penerima bansos fiktif, maka rekening penerima juga fiktif," ucapnya.
Rieke menambahkan, menurut PPATK sekitar 2.000 rekening milik instansi pemerintah dan bendahara pengeluaran negara digunakan untuk mengendapkan Rp 2,1 triliun dana bansos.
"Bansos terdiri dari berbagai program. Saya ambil ilustrasi dua program saja, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Rp2,4 juta/tahun/orang, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp3,6 juta/tahun/orang. Artinya, Rp6 juta/tahun/orang," ujar Rieke memaparkan.
Analisis sementara ini, bansos yang tidak menggunakan data fiktif 2021, yaitu 52,5 juta. Sementara, yang digunakan, seperti yang dilansir PPATK pada 2025, yaitu 10 juta data fiktif.
"Kalikan Rp6 juta, maka indikasi kuat Rp60 triliun dialirkan ke rekening fiktif, itu pun analisisnya dibatasi di dua program bansos dan di tahun 2025 saja. Padahal, ada juga subsidi energi (listrik, BBM dan gas), Penerima Bantuan Iuran BPJS Kesehatan, rumah tidak layak huni, dan pupuk yang mengggunakan basis data yang kurang lebih sama dalam penyalurannya," kata dia.
Rieke juga menegaskan dukungannya kepada Presiden Prabowo Subianto untuk membenahi data dasar negara yang akurat, aktual, dan relevan.
"Harapan saya, Presiden Prabowo berani dan berkomitmen menjadi 'Bapak Satu Data Indonesia Berbasis Data Desa/Kelurahan Presisi'," ujar Rieke menandaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....