Mengenal Carica, Buah Khas Dieng yang Tumbuh di Negeri Awan

  • 14 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Carica merupakan buah khas Dieng yang hanya tumbuh di wilayah dataran tinggi tertentu.
  • Buah ini telah dibudidayakan masyarakat sejak 1950-an dan diolah menjadi berbagai produk.
  • Carica menjadi komoditas unggulan yang mendukung ekonomi masyarakat Dieng.

RRI.CO.ID, Jakarta – Dataran Tinggi Dieng tidak hanya dikenal karena panorama alam dan kawah vulkaniknya. Kawasan ini juga memiliki buah khas yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat, yakni carica.

Sekilas, carica memiliki bentuk yang mirip dengan pepaya. Namun ukurannya jauh lebih kecil dengan warna kulit kuning cerah saat matang.

Daging buahnya bertekstur kenyal dan memiliki cita rasa manis segar. Sementara bijinya menyerupai buah markisa.

Pohon carica juga tampak serupa dengan pohon pepaya. Karena kemiripan tersebut, sebagian orang menyebut carica sebagai "pepaya gunung" yang tumbuh di wilayah dataran tinggi.

Buah ini tergolong langka karena hanya dapat tumbuh optimal di daerah dengan ketinggian tertentu. Mengutip laman indonesiakaya.com, selain di Dieng, tanaman carica diketahui tumbuh di beberapa wilayah pegunungan di Chili dan Brasil.

Masyarakat Dieng mulai mengenal carica sejak tahun 1950-an. Tanaman ini diperkenalkan oleh warga Belanda yang saat itu juga mengajarkan teknik budidaya dan pengolahannya.

Pada awalnya, carica hanya diolah menjadi manisan sederhana. Rasanya yang segar membuat buah ini cepat diterima masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Seiring waktu, inovasi pengolahan terus berkembang. Kini carica hadir dalam berbagai bentuk produk, mulai dari sirup, selai, dodol, keripik, hingga permen.

Selain sebagai bahan pangan, carica juga memiliki manfaat lain. Sebagian masyarakat memanfaatkannya sebagai pelunak daging, sementara ekstraknya digunakan dalam sejumlah produk kosmetik.

Salah satu keunggulan tanaman ini adalah produktivitasnya yang tinggi. Setelah memasuki masa produktif, pohon carica dapat menghasilkan buah yang siap dipanen hampir setiap pekan.

Bahkan saat kondisi cuaca mendukung, panen dapat dilakukan hingga dua kali dalam seminggu. Kemampuan tersebut membuat carica menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat Dieng.

Industri pengolahan carica juga berkembang di kawasan tersebut. Sebagian besar masih berupa usaha rumahan yang mempertahankan proses produksi sederhana dengan cita rasa khas.

Menariknya, produk olahan carica umumnya tidak menggunakan bahan pengawet. Meski demikian, produk dalam kemasan plastik dapat bertahan hingga enam bulan, sedangkan kemasan kaleng mampu bertahan sampai dua tahun.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Dieng, carica bukan sekadar buah khas daerah. Kehadirannya menjadi bagian dari identitas masyarakat pegunungan yang berhasil mengolah kekayaan alam menjadi produk unggulan bernilai ekonomi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....