Lomba Esai Nasional Bangkitkan Gagasan Emas dari Pelajar-Mahasiswa

  • 11 Mei 2025 22:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Yayasan Bangga menggelar lomba esai nasional bertema 'Indonesia Emas di Mata Saya' bagi pelajar dan mahasiswa. Kompetisi ini membuka ruang gagasan dan ekspresi menuju Indonesia Emas 2045 yang lebih idealis.

Lomba berlangsung dari 1 Februari hingga 15 Maret 2025 bekerja sama dengan Ikatan Alumni ITB Angkatan 1993. Sekitar 350 peserta ikut, mulai dari Aceh hingga Papua, semua menyuarakan pandangan masa depan Indonesia.

Peserta wajib mengikuti akun Instagram penyelenggara serta mengunggah video pendek konsep Indonesia Emas dalam Reel.Format ini dipilih karena relevan dengan karakter ekspresif generasi Z yang terbiasa tampil di platform digital.

Panitia menggelar dua webinar pembekalan pada 27 Februari dan 9 Maret 2025. Acara ini dimoderatori Enri Rasjidin serta menghadirkan juri: Kurnia Effendi, Ahmad Baiquni, dan Didik Fotunadi.

Gagasan lomba ini berasal dari pengalaman pribadi Didik Fotunadi, pendiri Yayasan Bangga. Ia pernah menjadi juara pertama lomba esai “Korea di Mata Saya” pada tahun 1998.

Didik mengaku terinspirasi dari cara Pemerintah Korea menghargai para juaranya saat itu. Ia ingin menggali suara generasi muda tentang visi Indonesia Emas 2045 melalui kegiatan ini.

"Pengumuman lomba disampaikan melalui akun media sosial Bangga dan IA-ITB 93. Panitia juga menyelenggarakan dua webinar untuk mengarahkan peserta," ujarnya, Minggu (11/5/2025).

Dijelaskan, Penilaian esai meliputi orisinalitas ide, kualitas bahasa, serta relevansi dan potensi implementasi gagasan. Delapan finalis dari dua kategori lolos seleksi, masing-masing empat pemenang dan satu honorable mention.

Para pemenang diumumkan 30 April 2025 lalu melalui media sosial resmi Yayasan Bangga dan IA-ITB 1993. Mereka diundang ke Bandung mengikuti rangkaian kegiatan inspiratif bersama panitia dan dewan juri lomba.

Finalis diwawancarai langsung oleh dewan juri untuk menguji orisinalitas dan kedalaman pemahaman esai. Tujuannya memastikan karya tidak bergantung pada alat bantu kecerdasan buatan atau AI.

Tamara salah satu finalis nampak menyampaikan pidato emosional saat menerima penghargaan di Bandung. Ia merasa bukan siapa-siapa, hanya anak muda yang mencintai bangsanya dan peduli masa depan Indonesia.

“Indonesia Emas bukan panggung pesta, tapi medan perjuangan,” kata Tamara dalam sambutannya. Menurutnya, ide gila seringkali menjadi awal sejarah besar bagi perubahan yang berarti bagi bangsa.

Indira finalis lainnya menyatakan, bahwa Indonesia Emas bukan hanya soal gedung tinggi, tapi juga kemajuan yang merata. Ia percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari satu keresahan dan satu tulisan kecil penuh makna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....