[KALEIDOSKOP] Mengenal Tari Gandrung, Suguhan Kesenian Khas Banyuwangi
- 27 Des 2024 12:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Tahukah Anda, sebagian warga Jawa Timur sudah tidak asing dengan Tari Gandrung. Tari tradisional yang berasal dari Banyuwangi ini sangat populer.
Melansir dari situs Kemdikbud RI, Tari Gandrung yang merupakan tarian khas Banyuwangi. Tarian ini merupakan perwujudkan rasa syukur masyarakat setelah panen.
Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpuaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian ini juga merupakan salah bentuk kebudayaan dari Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi.
Di sisi lain tarian ini juga dipentaskan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju). Yang dikenal dengan paju.
Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi
Gandrung Banyuwangi berasal dari kata 'gandrung' yang berarti tergila-gila atau cinta habis-habisa dalam bahasa Jawa. Asal-usul tersebut tercantum pada buku Pendidikan Seni Budaya 2 SMP.
Kesenian ini merupakan masih satu genre dengan ketuk tilu di Jawa Barat. Dan Tayuk di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, adapun lengger dari Banyumas dan joged bumbung dari Bali.
Tarian ini melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (teruma pria). Dengan iringan musik gamelan.
Seiring berjalannya waktu, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh laki-laki yang didandani seperti perempuan. Instrumen utama tarian Gandrung Lanang menggunakan kendang.
Seiring berjalannya waktu, Gandrung lanang lambat laun lenyap pada tahun 1890-an. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan agama Islam di Blambangan yang menjadi salah satu faktor tarian Gandrung tidak lagi dibawakan oleh pria.
Di sisi lain, Tari Gandrung muncul setelah kekalahan yang dialami rakyat Blambangan saat melawan VOC. Hingga kemudian, kesenian ini digunakan sebagai pemersatu rakyat Blambangan yang tercerai berai akibat kekalahan tersebut.
Pementasan Tari Gandrung
Pada pekan lalu, Festival Gandrung Sewu Banyuwangi kembali di gelar. Festival yang digelar selama tiga hari, mulai dari 21 s/d 23 Desember 2024 ini menampilkan ragam koreografi Gandrung Sewu hasil ciptaan seniman tari Banyuwangi.
Dalam pertunjukkanya, setidaknya ada 3 bagian yang ditampilkan. Pertama adalah jejer, yang merupakan penari Gandrung Tunggal atau tarian Gandrung tanpa melibatkan tamu.
Selepas jejer, ada paju (atau maju) yang merupakan penari mendampingi para tamu yang maju ke panggung. Tamu tersebut akan mneari secara bergantian.
Dan penutup dari pertunjukan Gandrung adalah 'Seblang Subuh'. Pada bagian ini, gerakan penari akan melambat dengan iringan gending bertema sedih.
Di sisi lain, Tari Gandrung bisa dipentaskan dalam berbagai kesempatan, seperti pesta hajatan, khitanan dan hari besar nasional. Adapun dalam rangka hari jadi Kabupaten, hingga kegiatan pariwisata.
Kini, tari Gandrung telah menjadi daya tarik wisata. Dengan dikemas secara padat ringkas dan dapat dipentaskan setiap saat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....