Lirik Lagu Sekti Denny Caknan Dan Artinya Terbaru
- 22 Sep 2024 11:35 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Lagu "Sekti" yang dinyanyikan oleh Denny Caknan telah menjadi salah satu lagu dangdut terbaru yang menarik perhatian banyak penggemar musik di Indonesia. Denny Caknan, sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu ini, menunjukkan bakatnya dalam menciptakan karya yang relevan dengan tema cinta dan perjuangan.
Lagu "Sekti" diciptakan oleh Denny Caknan dan Putu Eka, dan baru saja dirilis pada 21 September 2024, dalam hitungan jam langsung mendapatkan tempat di hati para pendengar. Video resmi dari lagu ini diunggah di channel YouTube DC MUSIK dan telah ditonton lebih dari 608.672 kali, serta menduduki peringkat #2 di trending untuk kategori musik. Popularitasnya yang cepat ini menunjukkan bahwa Denny Caknan semakin diperhitungkan dalam industri musik dangdut (22/9/2024).
Makna dari lagu "Sekti" menggambarkan keteguhan hati seseorang dalam menghadapi berbagai rintangan demi cinta. Liriknya menyiratkan harapan dan keyakinan bahwa cinta sejati akan mampu mengatasi segala halangan, meskipun ada tantangan dari orang tua atau lingkungan sekitar. Denny membuka lagu tersebut dengan ucapan "Kisah teman saya, berniat baik meminang kekasihnya, dibatasi oleh orangtua".
Bagi para penggemar dangdut, lagu "Sekti" bisa di-request di acara "PRO DANGDUT" Radio Pro4 RRI Surakarta, yang disiarkan setiap Senin, Rabu, dan Jumat dari jam 15.00 hingga 17.00 WIB. Acara ini merupakan platform yang baik untuk menikmati musik dangdut terbaru dan berinteraksi dengan penyanyi serta penggemar lainnya.
"Berikut Lirik Lagu Sekti Denny Caknan Dan Artinya Terbaru"
Sayang, sawangen rembulan kae
(Sayang, lihatlah bulan itu)
Sumunar, nyawang aku ro kowe
(Bersinar, melihat aku bersamamu)
Sayang, yakino wes ora suwe
(Sayang, yakinlah sudah tak lama lagi)
Sesandingan, aku jejer ro kowe
(Bersandingan, aku bersamamu)
Senadyan wong tuo rung marengke
(Meskipun orang tua belum merestui)
Ombak gedhe tak sebrangi
(Ombak besar ku seberangi)
Banjir bandhang tak tataki
(Banjir bandang ku hadapi)
Penting aku kowe iso dadi siji
(Yang penting aku dan kamu bisa bersatu)
Gunung njebluk tak jak ngopi
(Gunung meletus aku ajak ngopi)
Segoro gheni tak nggo nglangi
(Lautan api ku selami)
Opo maneh mung ngelawan bapakmu kuwi
(Apalagi hanya melawan bapakmu)
Mesti tak ladeni...
(Pasti ku hadapi)
Sayang, sawangen rembulan kae
(Sayang, lihatlah bulan itu)
Sumunar, nyawang aku ro kowe
(Bersinar, melihat aku bersamamu)
Oh.. Sayang, yakino wes ora suwe
(Sayang, yakinlah sudah tak lama lagi)
Sesandingan, aku jejer ro kowe
(Bersandingan, aku bersamamu)
Senadyan wong tuo rung marengke
(Meskipun orang tua belum merestui)
Ombak gedhe tak sebrangi
(Ombak besar ku seberangi)
Banjir bandhang tak tataki
(Banjir bandang ku hadapi)
Penting aku kowe iso dadi siji
(Yang penting aku dan kamu bisa bersatu)
Gunung njebluk tak jak ngopi
(Gunung meletus aku ajak ngopi)
Segoro gheni tak nggo nglangi
(Lautan api ku selami)
Opo maneh mung ngelawan bapakmu kuwi
(Apalagi hanya melawan bapakmu)
Ombak gedhe tak sebrangi
(Ombak besar ku seberangi)
Banjir bandhang tak tataki
(Banjir bandang ku hadapi)
Penting aku kowe iso dadi siji
(Yang penting aku dan kamu bisa bersatu)
Gunung njebluk tak jak ngopi
(Gunung meletus aku ajak ngopi)
Segoro gheni tak nggo nglangi
(Lautan api ku selami)
Opo maneh mung ngelawan bapakmu kuwi
(Apalagi hanya melawan bapakmu)
Mesti tak ladeni...
(Pasti ku hadapi)
(Nur Rohim/Penyiar)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....