Kelentangan, Musik Tradisional Banyuasin
- 07 Apr 2024 05:48 WIB
- Palembang
KBRN, Banyuasin : Musik tradisional kelentangan Banyuasin terdiri dari sepuluh potong kayu mahang yang sudah dikupas kulitnya dan dibelah dua lalu dikeringkan beberapa hari hingga kering agar menimbulkan nada yang bagus ketika dipukul.
Menurut Kusmawati Affanu, pelaku seni dan pemerhati budaya Banyuasin kepada RRI Palembang mengatakan, "sepuluh potong kayu mahang yang sudah dikeringkan akan mengeluarkan nada mayor do, re, mi, fa, sol, la, si, do layaknya nada musik dari alat musik lainnya. Kayu-kayu ini berbunyi pada saat ketika diletakkan diantara dua batang pisang dan dimainkan dengan dipukul."
"Alat musik tradisional kelentangan ditemukan pada tahun 1960. Gede Mat Yasin adalah warga Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Banyuasin III yang menemukan alat musik ini. Gede Mat Yasin menemukan kayu mahang menjadi alat musik secara kebetulan ketika sedang beristirahat di kebunnya. Ia mengambil kayu-kayu saat istirahat lalu memukul potongan kayu. Kebetulan kayu mahang kering yang berada di dekat pondoknya itu sedang di atas tumpukan batang pisangm. Kayu itu ternyata menimbulkan nada-nada musik," kata Kusmawati.
Kayu-kayu mahang yang sudah kering tadi diletakkannya di antara dua potongan batang pisang malahan mengeluarkan nada musik yang indah, tidak kalah dengan alat musik modern seperti sekarang.
Menurut penjelasan Raden Gunawan seniman dan pelaku budaya Banyuasin menceritakan tentang asal usul kelentangan mahang, "Alat musik ini pada awal ditemukan hanya ditabuh saat orang-orang peladang beristirahat menunggu kebunnya sambil menghilangkan rasa lelah dalam bekerja, namun sekarang alat musik ini dilestarikan oleh masyarakat Desa Tanjung Beringin sebagai kesenian tradisional desa mereka." ujarnya.
Musik Kelentangan akhirnya berkembang tidak hanya ditabuh di kebun-kebun, tetapi juga sudah mulai dibunyikan untuk mengiringi berbagai kegiatan persiapan hajatan pernikahan di kampung-kampung bahkan ditabuh ketika ada tamu kehormatan
Raden Gunawan menambahkan, "sekarang alat musik ini sudah ditampilkan di luar negeri.
Pada saat hajatan pernikahan, alat musik ini ditabuh terus selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut secara bergiliran sambil Ibu-Ibu membuat kue-kue untuk acara pernikahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....