Kisah Menarik di Balik Kartun 'Winnie The Pooh'

  • 19 Jan 2024 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih saat ini telah menjadikan masyarakat dengan mudah mengakses informasi. Terutama untuk mengetahui peristiwa-peristiwa apa saja yang pernah terjadi di belahan dunia ini.

Seperti halnya tanggal 18 Januari, beberapa peringatan dalam sejarah. Di antaranya ada peringatan Museum Selfie Day, Peringatan, Pecking Duck Day, dan Peringatan Hari Winnie The Pooh.

Peringatan Hari Winnie The Pooh menjadi satu peringatan di tanggal 18 Januari yang paling menarik untuk diketahui. Karena Winnie the Pooh yang merupakan salah satu karakter kartun yang cukup populer di dunia.

Dilansir dari berbagai sumber, ternyata ada sebuah kisah yang menjadi cikal bakal film dari Winnie The Pooh. Dikarenakan tanggal 18 Januari tersebut merupakan kelahiran Alan Alexander Milne, pencipta Winnie the Pooh.

Namanya adalah Christopher Robin, seorang anak kecil dengan boneka beruangnya, anak dari seorang editor kondang A.A. Milnes dan bonekanya yang bernama "Winnie". Ia menginspirasi salah satu karakter terkenal di dunia.

Kisah hidup Christoper Robin bisa dibilang cukup tragis dan penuh dengan strange moments. Ya tentunya tidak seperti yang ditayangkan di film Disney.

Didandani layaknya seorang perempuan

Keluarga Milnes ternyata menginginkan seorang anak perempuan, mereka juga akan memberikan nama Rosemary pada anak itu. Pada tanggal 21 Agustus 1920, hari dimana Christopher Robin lahir yang notabene seorang laki-laki.

Orang tuanya cukup kecewa dengan apa yang terjadi. Mereka membesarkan Christopher layaknya seorang anak perempuan.

Memanjangkan rambutnya seperty style anak perempuan saat itu dan memaikan pakaian perempuan pada Christopher. Bahkan mereka lebih menyayangi anak tetangga mereka yang bernama Anne Darlington layaknya anak sendiri.

Memiliki hubungan yang renggang dengan Ayahnya

Kesibukan A.A. Milne sebagai seorang penulis mungkin membuat Christopher Robin tidak mendapatkan kasih sayang seperti anak-anak lain dapatkan. Selain sibuk dengan pekerjaan, Milne juga sering pergi ke luar kota.

Ia juga menghadiri beberapa interview dengan klien. Ditambah pula rasa kekecewaan orang tuanya karena tidak mendapat anak perempuan.

Hal ini tentu membuat masa kecil Christopher menjadi suram. Ia justru dibesarkan oleh babysitter disewa orang tuanya, Olive Rand, yang menjaganya selama 8 tahun sejak ia lahir.

Inspirasi palsu buku Winnie the Pooh

A.A. Milne menyatakan bahwa inspirasi dari Winnie the Pooh adalah anaknya, yang mana hal ini menjadi sweet moment antara ayah dan anak. Namun nyatanya ide untuk menulis buku tersebut datang dari istrinya.

Ketika istrinya dan Christopher sedang pergi ke tempat penitipan anak. Sembari menunggu pelayanan, ibunya bertanya kepada Christopher tentang imajinasinya.

Nah, ibu Chris kemudian mengutarakan imajinasi Chris kepada Milne, sebagai seorang penulis kondang. Milne ke trigger dengan cerita istrinya, sehingga muncullah imajinasi-imajinasi luar biasa.

Salah satunya membuat buku Winnie the Pooh. Buku ini menceritakan tentang kedekatan ayah dan anak.

Popularitas Christopher justru membuatnya dibully

Ketika mencapai umur 9 tahun, Chris mulai masuk ke sekolah yang mempunyai asrama. Saat pertama masuk asrama, ia menjadi bahan bully oleh teman-temannya.

Ini karena gerak-geriknya yang feminim dan sempat menggunakan sepatu wanita saat itu. Ia juga sering dihajar oleh teman-temannya sembari diejek "mana boneka Winnie mu?"

Hampir setiap hari Chris mendapat lebam di wajahnya akibat pukulan dari teman-temannya. Hal tersebut terus terjadi sampai Chris berumur 13 tahun, ia mulai berlatih tinju di tempat gym sebagai langkah self-defense.

Christopher tumbuh menjadi anak yang membenci ayahnya

Setelah mencapai umur dewasa pada tahun 1950, ia bekerja sebagai penjual tudung lampu. Ia tidak punya keahlian khusus untuk bekerja, bahkan ia mengatakan bahwa namanya memang terkenal.

Namun ketenarannya itu hanya digunakan ayahnya untuk mendapat keuntungan pribadi. Tentunya tidak meninggalkan apapun untuk Chris.

Ia juga membenci ayahnya karena telah merenggut masa kecilnya yang harusnya ia tumbuh dan besar di bawah asuhan orang tua, tapi ia justru dititipkan di asrama sekolahnya.

Christopher menikahi saudari sepupunya

Tumbuh menjadi anak yang pembangkang, Chris mulai menjalin hubungan asmara dengan saudari sepupunya yaitu Lesley de Selincourt. Lesley adalah anak dari adik ibunya.

Orang tua Chris sempat kaget ketika mendapat undangan pernikahan Chris dan Lesley. Ibunya sangat marah ketika mendengar hal itu karena ayah Lesley dan ibu Chris mempunyai masalah keluarga.

Ini dijalani selama 30 tahun mereka tidak pernah berbicara satu sama lain. Milne pun tidak setuju dengan keputusan Chris.

Yaitu dengan adanya hubungan sedarah tidak memungkinkan mereka untuk menikah. Akhirnya, Chris mengambil jalan untuk kimpoi lari dengan Lesley, menjauh dari keluarga masing-masing.

Anak Christopher lahir dengan gangguan Cerebral Palsy

Setelah menikah, mereka hanya memiliki satu anak yang diberi nama Clare. Clare lahir dengan penyakit lumpuh otak.

Kekurangan dana untuk pengobatan anaknya, Chris akhirnya mengunjungi setiap toko yang menjual boneka Winnie the Pooh. Kedatangannya untuk meminta uang royalti atas penggunaan nama Winnie.

Ibunya menolak untuk bertemu dengan Chris

Saat Chris masih remaja, ia sempat berjanji bahwa suat saat ia akan menulis. Yaitu tentang bagaimana perlakuan orang tuanya terhadap Chris.

Ia menepati janjinya, memulai berbagai interview dengn pihak publisher. Chris menceritakan bagaimana jahatnya orang tuanya dan tidak bertanggung jawab dalam membesarkannya.

Ibunya menjadi sangat kecewa dan marah karena tindakannya itu, ia pun memutus segala macam hubungan dengan Christopher. Bahkan ketika sedang terbaring sakit, Chris yang ingin menemui ibunya tidak diperbolehkan oleh penjaga rumah sakit.

Akhirnya, Chris tidak pernah melihat ibunya. Bahkan sampai ibunya dimakamkan.

Nasib boneka asli Winnie the Pooh

Setelah tidak lagi tinggal bersama orang tua, Chris meninggalkan boneka Winnie dengan ayahnya. Setelah orang tuanya meninggal, boneka Winnie didonasikan ke New York Public Library.

Christopher tidak ingin menerima boneka itu, dengan alasan ia tidak ingin mengingat kembali masa kecilnya yang suram. Bagi para fans buku Milne, kehidupan Christopher adalah sebuah tragedi cukup sedih, mengingat ayahnya adalah seorang penulis kondang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....