Karakter Pertiwi Buka Pandangan Putri Marino soal Perempuan
- 02 Okt 2026 19:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Putri Marino memerankan karakter Pertiwi dalam film 'Empat Musim Pertiwi' yang memperdalam pemahamannya tentang pengalaman perempuan.
- Melalui proses mendalami karakter, aktris tersebut memahami ketidakadilan sistemik yang dialami perempuan di ranah domestik, lingkungan sosial, dan pekerjaan.
- Pengalaman bermain dalam film ini memberikan wawasan mendalam kepada Putri Marino tentang isu-isu gender dan realitas hidup perempuan Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Putri Marino pemeran karakter Pertiwi di Film 'Empat Musim Pertiwi' mengatakan, karakter yang diperankan membuatnya memahami pengalaman perempuan lebih dalam. Pemahaman tersebut, menurut dia, didapatnya melalui proses pada saat mendalami karakternya.
“Aku baca buku dan akhirnya pelan-pelan mulai mengerti tentang rasa yang dialami seorang perempuan. Ketidakadilan tanpa henti yang dialami oleh perempuan di daerah domestiknya, di lingkungan tempat dia bertumbuh, tempat dia bekerja,” ujarnya dalam Konferensi Pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Putri menjelaskan, dirinya berdiskusi dengan Sutradara sekaligus Penulis dari Film 'Empat Musim Pertiwi', Kamila Andini, untuk memahami karakter Pertiwi. Ia mengatakan, diberikan buku 'Perempuan di Titik Nol' untuk dibacanya.
“Banyak sekali perbedaan antara karakter Pertiwi dan Putri lalu kompleksnya karakter Pertiwi. Aku memutuskan hal yang paling penting aku lakukan adalah berdiskusi dengan Kak Dini,” ujarnya.
Putri mengatakan, sebelum memerankan Pertiwi, dirinya merasa mampu melakukan berbagai hal seorang diri. Tetapi setelah itu, ia menilai, pandangan tersebut berubah setelah melihat karakter Pertiwi.
“Aku bisa handle semuanya sendiri, tapi setelah terlibat disini dan melihat betapa kuat dan rapuhnya Pertiwi, itu beda. Jadi emang aku belajar banyak hal tentang kekuatan dari film ini dan kebersamaan itu sendiri,” katanya.” katanya.
Menurutnya, Pertiwi memiliki sisi kuat dan rapuh dalam menghadapi berbagai keadaan. Ia juga mengatakan, orang-orang di sekitar Pertiwi dapat menjadi kekuatan bagi dirinya.
“Setelah terlibat di 'Empat Musim Pertiwi dan melihat betapa kuatnya Pertiwi dan juga rapuhnya Pertiwi. Tapi dia juga bisa menjadi kekuatan untuk orang-orang di sekitarnya,” ucapnya.
Putri mengatakan, proses memerankan Pertiwi membuatnya belajar mengenai kekuatan dan kebersamaan. Menurutnya, hal tersebut sebagai bagian yang dipelajarinya melalui film ini.
“Jadi emang aku belajar banyak hal tentang kekuatan dari film ini. Dan tentunya tentang kebersamaan itu sendiri,” ujarnya.
Selanjutnya, Kamila mengatakan, proses memahami pengalaman perempuan juga dilakukan melalui perbincangan dengan para penyintas. Ia menyebut, pengalaman tersebut memberikan perspektif berbeda dalam melihat kasus yang diangkat.
“Kita melihat Pertiwi tidak pernah sebenarnya, walaupun dia mampu tidak pernah membantu karakter lain tanpa dengan keputusannya Pertiwi. Pertiwi selalu atas kebutuhannya si karakter tersebut,” kata Kamila.
Menurutnya, keberpihakan kepada korban setiap perempuan tidak hanya berkaitan dengan perkataan. Ia menyebut, penerapannya dalam kehidupan menjadi hal yang masih terus dipelajarinya.
“Berpihak pada korban itu kata-kata yang mudah sekali. Tapi sebenarnya implementasinya sulit sekali, bahkan saya pun masih belajar sampai titik ini,” katanya. (Nadya Syifa Syauqiyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....