Mengapa Film Horor Begitu Populer di Indonesia?
- 30 Sep 2026 20:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Film horor secara konsisten memenuhi layar bioskop Indonesia meskipun genre lain silih berganti menjadi tren populer.
- Masyarakat Indonesia sejak kecil sudah terbiasa dengan berbagai cerita hantu dan kisah makhluk gaib seperti kuntilanak dan pocong.
- Sosok-sosok makhluk gaib dalam budaya Indonesia dapat dengan mudah diadaptasi ke berbagai media hiburan termasuk film layar lebar.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketika genre lain silih berganti menjadi tren, film horor justru terus memenuhi layar bioskop Indonesia. Kondisi tersebut berkaitan dengan budaya masyarakat Indonesia.
Melansir Voice of America, masyarakat Indonesia sejak kecil akrab dengan berbagai cerita hantu dan kisah makhluk gaib. Berbagai sosok seperti kuntilanak dan pocong dapat diangkat ke berbagai media hiburan, film layar lebar misalnya.
Kekayaan cerita rakyat, mitos, dan legenda Indonesia turut membuat horor memiliki bahan cerita yang melimpah. Kedekatan tersebut membuat penonton lebih mudah mengenali tokoh, suasana, serta konflik supranatural yang muncul dalam film horor.
Film horor juga menawarkan pengalaman psikologis yang berbeda karena penonton sengaja mencari ketegangan, kejutan, dan sensasi adrenalin. Melansir Universitas Pasundan, rasa takut dalam film dapat membuat penonton merasa terlibat ke dalam cerita.
Film horor dapat menciptakan aktivitas sosial ketika penonton menyaksikannya bersama teman atau keluarga. Ketakutan bersama dapat mempererat hubungan dan mendorong penonton membicarakan pengalaman setelah film selesai.
Selain itu, jalan cerita yang relatif sederhana membuat penonton lebih mudah mengikuti alurnya. Film horor dapat menyampaikan konflik tanpa membutuhkan pemahaman cerita yang terlalu rumit.
Faktor ekonomi turut mendorong rumah produksi memilih horor karena genre ini dapat menggunakan anggaran produksi relatif lebih rendah. Potensi keuntungan yang besar kemudian mendorong produser terus menghadirkan film horor baru.
Melansir Universitas Airlangga, promosi digital dapat menarik perhatian sebelum film resmi tayang. Fenomena viral juga mendorong rumah produksi mengadaptasi cerita yang sudah populer di media sosial menjadi film layar lebar.
Misalnya, film 'KKN di Desa Penari' yang lebih dulu viral melalui utas Twitter pada 24 Juni 2019.
Kesuksesannya di media sosial kemudian mendorong adaptasinya menjadi novel dan film pada 2022, hingga meraih sepuluh juta penonton.
"Film-film yang bergenre horor maupun kriminal sebenarnya terbantu oleh aspek lain di luar narasi. Bisa dibilang promosi yang masif juga memberikan efek positif, bahkan sebelum film itu dirilis,” kata dosen Ilmu Komunikasi UNAIR Igak Satrya Wibawa, dikutip dari laman Universitas Airlangga, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Cerita horor juga dapat menyentuh sisi spiritual penonton melalui konflik manusia dengan entitas supernatural dan nilai keagamaan. Unsur spiritual membuat sebagian penonton dapat merefleksikan keyakinannya melalui cerita yang mereka saksikan.
Karena itu, banyaknya film horor di Indonesia bukan sekadar mengikuti tren, tetapi juga mencerminkan selera penonton. Film horor bertahan karena industri mampu mengolah ketakutan menjadi hiburan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....