Istimewa dan Janji Rumah Singgah untuk Anak-Anak di Seluruh Indonesia
- 18 Sep 2026 00:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Produser Film Istimewa, Abdullah Mansuri, berjanji membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia jika film mencapai satu juta penonton.
- Film Istimewa mengangkat pesan bahwa keluarga tidak hanya ditentukan oleh hubungan darah, tetapi juga oleh kehadiran, kasih sayang, penerimaan, dan rasa aman.
- Rumah Singgah yang direncanakan diharapkan menjadi ruang aman bagi teman-teman Istimewa untuk tumbuh, berkarya, dan mendapatkan kesempatan menunjukkan kemampuan mereka.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebuah film tidak selalu berhenti pada cerita yang ditampilkan di layar lebar. Bagi Istimewa, perjalanan menuju bioskop membawa harapan yang lebih luas: menghadirkan ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh, berkarya, dan menemukan tempat pulang.
Harapan itu disertai janji yang disampaikan produser film Istimewa, Abdullah Mansuri. Jika film tersebut berhasil mencapai satu juta penonton, ia berkomitmen membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia.
Janji tersebut menjadi bagian dari pesan kemanusiaan yang diusung film Istimewa, yang tayang serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis, 17 September 2026.
Ketika Rumah Berarti Kehadiran
Film Istimewa mengisahkan perjalanan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul dalam mencari sosok Ayah, Pak Mahendra. Bagi anak-anak di Rumah Istimewa, Pak Mahendra bukan sekadar figur yang hadir dalam keseharian. Ia menjadi tempat bergantung, sumber kasih sayang, sekaligus sosok yang membuat mereka merasa diterima.
Namun, ketika kondisi kesehatan sang Ayah mulai memburuk, ketakutan kehilangan hadir dalam kehidupan mereka. Potongan adegan terbaru yang dirilis Kairos Film memperlihatkan pergulatan emosional anak-anak saat menghadapi kondisi tersebut.
Tangisan yang muncul bukan hanya menggambarkan kesedihan, tetapi juga kedekatan dan rasa aman yang mereka temukan dalam sosok Ayah.
Melalui kisah ini, Istimewa mengajak penonton melihat keluarga dari perspektif yang lebih luas. Hubungan keluarga tidak selalu ditentukan oleh ikatan darah, melainkan juga oleh pilihan untuk hadir, menjaga, dan menerima satu sama lain.
Janji yang Melampaui Layar Lebar
Bagi Abdullah Mansuri, film Istimewa memiliki makna yang lebih panjang daripada sekadar produksi sinema. Setelah mengikuti perjalanan teman-teman Istimewa dalam waktu yang panjang, ia ingin film ini menjadi sarana untuk membuka kesempatan yang lebih besar bagi mereka.
"Buat saya, Istimewa bukan hanya tentang membuat sebuah film, tapi bagaimana kita bisa terus memberikan ruang bagi teman-teman Istimewa untuk tumbuh, berkarya, dan punya tempat yang aman untuk pulang," ujar Abdullah Mansuri, Produser Istimewa.
Ia kemudian mengungkapkan janji yang ingin diwujudkan apabila film mencapai satu juta penonton.
"Kalau Istimewa bisa mencapai satu juta penonton, saya ingin membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia. Saya ingin film ini tidak berhenti sebagai cerita yang kita tonton, tetapi bisa menjadi langkah untuk menghadirkan ruang nyata bagi mereka," katanya.
Komitmen tersebut menghubungkan keberhasilan film dengan gagasan menghadirkan ruang yang lebih inklusif. Rumah singgah yang dijanjikan diharapkan dapat menjadi tempat bagi teman-teman Istimewa untuk mendapatkan kesempatan berkembang dan berkarya.
Meski demikian, pembangunan rumah singgah tersebut masih merupakan rencana yang dikaitkan dengan pencapaian target satu juta penonton.
Melihat Anak-Anak sebagai Manusia Utuh
Pesan tentang penerimaan juga menjadi perhatian Mathias Muchus, pemeran Pak Mahendra. Ia melihat hubungan antara tokoh Ayah dan anak-anak dalam film sebagai gambaran keluarga yang dibangun melalui ketulusan dan kepedulian.
"Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan," ujar Mathias.
Sementara itu, Ruben Adrian menyoroti proses membangun karakter bersama para pemeran anak-anak. Film ini, menurutnya, dirancang agar penonton dapat menikmati unsur hiburan sekaligus mengenal kehidupan dan kepribadian para tokohnya.
"Sejak awal kami ingin menghadirkan film yang bisa mengubah cara pandang seseorang dan dinikmati semua kalangan. Ada tawa, ada petualangan, ada momen-momen yang hangat, tetapi di saat yang sama penonton juga diajak mengenal anak-anak ini sebagai manusia yang utuh," kata Ruben Adrian.
Pernyataan tersebut menegaskan upaya film untuk menghadirkan anak-anak Rumah Istimewa bukan hanya sebagai karakter yang mengundang rasa iba, tetapi sebagai individu dengan mimpi, kepribadian, dan cerita masing-masing.
Dari Cerita Menuju Harapan
Perjalanan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul mencari sang Ayah menghadirkan rangkaian cerita tentang persahabatan, keluarga, kehilangan, keberanian, dan penerimaan.
Di balik petualangan mereka, film ini membawa pertanyaan tentang arti sebuah rumah. Apakah rumah hanya berupa bangunan, ataukah ia juga dapat ditemukan melalui orang-orang yang memilih untuk tetap hadir?
Pertanyaan tersebut menjadi penghubung antara cerita di layar dan harapan yang disampaikan Abdullah Mansuri. Rumah Singgah Istimewa yang dijanjikan bukan sekadar tempat tinggal, tetapi gagasan tentang ruang aman yang memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh dan mengekspresikan kemampuan mereka.
Film Istimewa telah tayang di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026. Target satu juta penonton yang disampaikan produser menjadi bagian dari harapan untuk membuka jalan menuju pembangunan Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi.
Pada akhirnya, Istimewa membawa pesan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar, setiap individu berhak diterima, dan setiap orang membutuhkan tempat untuk pulang.
Aku Istimewa. Kamu Juga Istimewa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....