Lookman A. Ang Menginspirasi Film Dokumenter “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah”

  • 14 Agt 2026 16:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Maluku Tengah - Pertemuan tim Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira dengan budayawan sekaligus penulis Lookman A. Ang, penulis buku Tanah Pala: Budaya, Arkeologi & Arus Sejarah Dunia, menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan produksi film dokumenter “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah.”

Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ruang bertukar cerita mengenai sejarah Banda, tetapi juga membuka kembali sumber inspirasi utama yang melatarbelakangi lahirnya film dokumenter tersebut. Buku Tanah Pala karya Lookman A. Ang menjadi salah satu referensi yang memberikan perspektif lebih luas kepada tim mengenai Banda Neira sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban, jalur perdagangan, kebudayaan, serta sejarah dunia.

Buku tersebut membawa pembaca menelusuri perjalanan panjang Tanah Pala, mulai dari kehidupan masyarakat Banda sebelum kedatangan VOC, jejak perdagangan dengan Tiongkok dan India, perkembangan Islam, kedatangan Portugis, hingga dinamika Banda di bawah kekuasaan VOC.

Salah satu bagian yang secara khusus menarik perhatian tim adalah pembahasan “Jejak Naga di Tanah Pala”, yang menggambarkan jejak peradaban dan akulturasi budaya Tionghoa di Banda. Buku tersebut juga mengangkat hubungan Banda dengan jaringan perdagangan dunia serta bagaimana rempah-rempah menjadikan kepulauan kecil ini berada dalam pusaran sejarah global.

Bagi tim Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira, gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah pertanyaan besar: bagaimana generasi hari ini dapat merawat warisan sejarah dan kekayaan alam Banda untuk masa depan?

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya film dokumenter “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah.”

Film dokumenter ini akan membawa cerita Banda Neira dari perspektif generasi muda, dengan menghubungkan sejarah, budaya, masyarakat, lingkungan, serta masa depan kawasan kepulauan yang memiliki posisi penting dalam sejarah perdagangan rempah dunia.

Dalam pertemuan tersebut, Lookman A. Ang berbagi pandangan mengenai pentingnya melihat Banda secara lebih utuh. Berdasarkan gagasan yang dibangun dalam buku Tanah Pala, keberadaan berbagai komunitas dan jejak kebudayaan di Banda merupakan bagian dari sejarah panjang perjumpaan berbagai peradaban.

Lookman menekankan bahwa jejak sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan atau artefak besar. Tradisi, bahasa, ritual, situs pemakaman, simbol, hingga kebiasaan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari ingatan sejarah yang penting untuk dirawat.

“Banda jangan hanya dilihat sebagai tempat penghasil pala dan fuli. Di balik rempah-rempah itu ada perjalanan manusia, ada perjumpaan berbagai kebudayaan, ada perdagangan, ada akulturasi, dan ada sejarah dunia yang pernah berputar di tanah ini. Karena itu, jejak-jejak yang masih tersisa harus dibaca, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.” ujar Lookman A. Ang.

Gagasan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung film “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah”, yakni melihat Banda bukan semata-mata sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai ruang hidup yang masa depannya perlu diperjuangkan bersama.

Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Arianti Vinton, menyampaikan bahwa film dokumenter tersebut menjadi bagian dari ikhtiar generasi muda untuk membawa cerita Banda Neira ke ruang internasional.

Menurut Aurelia, selama ini Banda lebih sering dikenal melalui narasi sejarah kolonial dan kejayaan rempah. Melalui film dokumenter ini, tim ingin menghadirkan perspektif yang lebih dekat dengan masyarakat, budaya, lingkungan, serta harapan generasi muda terhadap masa depan Banda.

“Kami ingin Banda Neira tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah rempah dunia, tetapi juga sebagai rumah bagi masyarakat, kebudayaan, pengetahuan lokal, dan kekayaan alam yang sampai hari ini masih hidup. Melalui film ini, kami ingin membawa cerita tersebut ke Paris dan memperkenalkan Banda dari perspektif generasi muda Indonesia.**” ungkap Aurelia.

Film “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah” direncanakan untuk ditayangkan dalam rangkaian Simposium PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa di Paris, Prancis, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Banda kepada masyarakat Indonesia di luar negeri maupun komunitas internasional.

Bagi Aurelia, perjalanan produksi film ini juga menjadi bentuk pengabdian yang tidak hanya meninggalkan dokumentasi visual, tetapi juga membangun jembatan antara masyarakat Banda dengan generasi muda Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Sementara itu, Wanda Syahputra, S.E., dari Kawan Alam Indonesia, mengungkapkan ketertarikannya untuk melanjutkan kolaborasi dengan Lookman A. Ang melalui kegiatan yang lebih luas di Bali.

Menurut Wanda, buku Tanah Pala tidak hanya menarik karena mengungkap sejarah Banda, tetapi juga karena memperlihatkan bagaimana kebudayaan lokal menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban Nusantara.

“Saya pribadi tertarik untuk mengajak Bapak Lookman A. Ang tidak berhenti pada pertemuan ini. Kami ingin membuka ruang kolaborasi lebih jauh, salah satunya melalui kegiatan bedah buku di Bali. Kami melihat ada banyak pengetahuan tentang budaya, arkeologi, sejarah, dan kearifan lokal Nusantara yang sangat penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda.” ujar Wanda.

Wanda menambahkan bahwa Bali dan Banda memiliki karakter yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.

“Kita ingin menunjukkan bahwa keindahan Indonesia bukan hanya pada alamnya, tetapi juga pada cerita, tradisi, pengetahuan lokal, dan masyarakat yang menjaganya. Apa yang ditulis Lookman tentang Banda adalah contoh bagaimana sebuah daerah memiliki cerita besar yang perlu terus diwariskan. Kami ingin membawa semangat itu ke Bali dan membuka ruang agar lebih banyak kearifan lokal Nusantara dapat dikenal, didiskusikan, dan dirawat bersama.” lanjutnya.

Pertemuan antara tim Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira dan Lookman A. Ang pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar. Buku Tanah Pala memberikan pintu masuk untuk memahami Banda melalui sejarah, sementara film “Merawat Masa Depan di Ujung Rempah” mencoba meneruskan percakapan tersebut melalui perspektif generasi muda.

Jika buku mencatat jejak panjang Banda dalam arus sejarah dunia, film ini ingin mengajak penonton melihat pertanyaan yang lebih jauh: setelah seluruh dunia datang mencari rempah-rempah dari Banda, apa yang akan dilakukan generasi hari ini untuk menjaga tanah, laut, budaya, dan masyarakat yang masih hidup di dalamnya?

Dari tanah pala yang dahulu menjadi rebutan berbagai kekuatan dunia, generasi muda kini ingin menghadirkan cerita baru—bukan lagi tentang perebutan, melainkan tentang perawatan, kolaborasi, keberlanjutan, dan masa depan.

Melalui kolaborasi PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa dan Kawan Alam Indonesia, cerita Banda Neira diharapkan dapat bergerak lebih jauh: dari tanah pala di Kepulauan Banda menuju panggung dialog generasi muda Indonesia di Paris, Prancis.

Karena Banda bukan hanya cerita tentang masa lalu. Banda adalah pesan tentang bagaimana kita merawat masa depan di ujung rempah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....