Menekraf Inginkan Indonesia Selalu Jadi Lokasi Syuting Film Internasional
- 09 Agt 2026 16:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menekraf, Teuku Riefky Harsya, menginginkan Indonesia selalu menjadi destinasi utama produksi film internasional.
- Produksi film "Happy Eyes" melibatkan sekitar 70 persen kru Indonesia dan menjalani syuting selama 40 hari di Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, menginginkan Indonesia selalu dijadikan destinasi utama lokasi syuting film internasional. Demikian disampaikannya saat meninjau proses syuting film Happy Eyes di Taman Safari Indonesia, Bogor, Jumat, 7 Agustus 2026.
Film tersebut merupakan hasil kolaborasi Moana Films dari Prancis dan Jungle Run Productions Indonesia. Proses syuting berlangsung sepenuhnya di Indonesia selama 40 hari, dengan lokasi utama di Taman Safari dan Tanjung Lesung, Banten.
Menekraf menegaskan kekayaan alam, keanekaragaman hayati, budaya, serta talenta lokal menjadi daya tarik Indonesia bagi produksi film internasional. Menurut dia, kolaborasi produksi film asing dengan pelaku industri kreatif membuka peluang transfer pengetahuan dan teknologi.
"Indonesia ingin semakin membuka diri untuk produksi-produksi film dari berbagai negara,” ujarnya, Minggu 9 Agustus 2026. “Kita ingin alam, tim produksi dan talenta-talenta Indonesia bisa semakin berkolaborasi.
Produksi film Happy Eyes melibatkan lebih dari 200 kru, di mana sekitar 70 persen berasal dari Indonesia. Menekraf menilai masuknya produksi film internasional memberikan dampak berganda bagi perekonomian.
Mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penggerakan sektor perhotelan, kuliner, UMKM, transportasi, logistik, dan pariwisata. Menurut dia, pemerintah juga terus berupaya memperkuat dukungan bagi produksi film asing.
Di antaranya melalui koordinasi antarlembaga serta kemudahan visa, perizinan, dan keluar-masuk peralatan produksi. Executive Producer Happy Eyes, Joe Yaggi, mengapresiasi dukungan pemerintah dan menilai kru mampu bekerja dalam standar produksi internasional.
“Kru dari Prancis sangat senang bekerja sama dengan kami,” ujarnya. Joe berharap film seperti ini lebih banyak diproduksi karena kru lokal bisa bekerja dengan standar internasional.
Direktur Utama Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, mengatakan produksi film Happy Eyes dapat menjadi sarana storytelling. Tujuannya untuk memperkenalkan upaya konservasi kepada masyarakat luas.
“Ini adalah suatu cerita yang bisa dipakai untuk mendorong konservasi sebagai salah satu pilar Taman Safari Indonesia,” ucapnya. “Menjadi bagian dari hal-hal besar seperti ini adalah impian Taman Safari ke depan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....