‘Jangan Buang Ibu’ Buktikan Kisah Keluarga Masih Diminati Penonton Indonesia

  • 22 Jul 2026 03:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film 'Jangan Buang Ibu' telah mencapai pencapaian penonton sebanyak 3,2 juta di bioskop Indonesia sejak dirilis.
  • Film ini melakukan perluasan pasar ke Malaysia dengan debut tayang mulai 16 Juli 2026 dengan harapan sambutan positif dari penonton.
  • Kesuksesan film bertema keluarga ini membuktikan bahwa genre keluarga masih mampu bersaing dan menarik minat penonton di tengah dominasi film-film produksi Hollywood.

RRI.CO.ID, Jakarta – ‘Jangan Buang Ibu telah sukses mengumpulkan 3,2 juta penonton dan berhasil debut di Malaysia sejak 16 Juli 2026. Keberhasilan tersebut menunjukkan film bertema keluarga masih mampu menarik minat penonton di tengah persaingan dengan film-film Hollywood.

“Sekarang ‘Jangan Buang Ibu’ sudah menyentuh 3,2 juta penonton di bioskop. Lalu, tanggal 16 kemarin mulai tayang di Malaysia dan mudah-mudahan disambut hangat dan ditonton oleh banyak orang,” kata Produser ‘Jangan Buang Ibu’, Agung Saputra, dalam kegiatan Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri dan Nonton Bareng Film Nasional ‘Jangan Buang Ibu’ dan ‘Takkan Kubiarkan Kau Menangis’ di CGV Depok Mall, Depok, Selasa, 21 Juli 2026.

Agung mengatakan film tersebut diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wahyu Derapriyangga. Naskah kemudian dikembangkan bersama penulis Widya sebelum akhirnya disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu.

Agung menjelaskan proses kreatif film berangkat dari pengalaman hidup yang dekat dengan kehidupan keluarga Indonesia. Menurutnya, kisah kasih sayang orang tua dan lika-liku kehidupan diramu sebaik mungkin agar mampu menyentuh emosi penonton.

“Kita mulai dari membuat skrip yang dekat dulu dengan kita, karena biasanya hidup itu tidak selalu lurus-lurus saja. Lika-liku kehidupan, kasih sayang orang tua, kami ramu jadi satu sehingga menjadi film utuh,” ujarnya.

Ia mengakui tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan pemeran yang sesuai dengan karakter dalam cerita. Selain itu, tim produksi juga harus bersaing dengan sejumlah film Hollywood yang tayang pada waktu bersamaan.

Untuk memperkenalkan Jangan Buang Ibu kepada masyarakat, tim produksi menggelar promosi di 20 kota Indonesia sebelum penayangan nasional. Usaha tersebut berhasil dengan banyaknya jumlah penonton tertarik dengan film ini.

“Kami datang ke dua puluh kota di Indonesia untuk membawa pesan kami punya film bagus yang layak ditonton. Alhamdulillah, setiap kota yang kami datangi, peserta yang nonton duluan itu sekitar 3.000 sampai 6.500,” katanya.

Agung berharap penonton dapat memanfaatkan waktu bersama keluarga sebelum terlambat menyesal di kemudian hari. Ia mengatakan banyak respons emosional diterima tim produksi setelah penonton menyaksikan film tersebut.

Sementara itu, Lembaga Sensor Film (LSF) menegaskan bahwa klasifikasi usia penting untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif tontonan. Jangan Buang Ibu sendiri telah memperoleh klasifikasi usia 13 tahun ke atas, sehingga cocok untuk ditonton bersama keluarga.

“Klasifikasi usia tadi ada 4 macam, semua umur, 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas, dan 21 tahun ke atas. Film Jangan Buang Ibu contohnya, itu 13 tahun ke atas,” ucap Ketua Komisi I LSF, Tri Widyastuti Setyaningsih, pada kesempatan yang sama.

Tri mengajak masyarakat menerapkan budaya sensor mandiri dengan selalu memperhatikan klasifikasi usia sebelum menonton film. Ia menegaskan langkah tersebut membuat manfaat film sebagai media budaya, pendidikan, dan hiburan dapat dirasakan secara optimal. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....