Anggy Umbara dan Lele Laila Berbagi Pengalaman di '402: Rumah Sakit Angker Kore

  • 07 Jul 2026 03:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film 402: Rumah Sakit Angker Korea mengusung konsep found footage dengan pendekatan produksi yang inovatif.
  • Film dijadwalkan tayang di bioskop mulai 9 Juli 2026 dengan pengalaman horor yang lebih imersif.
  • Sutradara Gonjiam memberikan dukungan dan berharap film sukses sehingga membuka peluang kolaborasi di Indonesia.
  • Lele Laila menegaskan adaptasi film mempertahankan semangat cerita asli dengan penyesuaian budaya Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Film ‘402: Rumah Sakit Angker Korea’ menghadirkan konsep found footage dengan pendekatan produksi yang berbeda dari film horor pada umumnya. Proyek adaptasi ini memadukan inovasi teknis dan penyesuaian cerita agar lebih dekat dengan penonton Indonesia.

Proses produksi film membutuhkan persiapan panjang karena seluruh adegan dirancang menggunakan sudut pandang kamera yang dikenakan para pemain. Tim produksi juga mengembangkan berbagai perangkat khusus untuk mendukung kualitas visual selama proses pengambilan gambar.

Sutradara, Anggy Umbara mengatakan tantangan terbesar adalah menciptakan film found footage yang tetap terasa autentik. Menurutnya, kualitas proses produksi harus sejalan dengan hasil akhir yang ditampilkan kepada penonton.

"Jadi kita pengen bikin film found footage yang bener-bener proses dan hasil nya terjaga banget kualitasnya dan found footage-nya itu bener-bener found footage. Itu bukan yang cuma penggabungan antara found footage dan syuting bohong-bohongan gitu kan,” kata Anggy dalam press conference film 402: Rumah Sakit Angker Korea, di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.

Ia menjelaskan tim membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk merancang perangkat rigging kamera khusus. Perangkat tersebut dikembangkan melalui berbagai percobaan hingga akhirnya diproduksi menggunakan teknologi cetak tiga dimensi.

"Itu prosesnya satu tahun untuk membuat badan boddy rigging itu. Akhirnya, ujung-ujungnya ya kita bikinnya dengan 3D,” ujarnya.

Sementara itu, Creative Producer sekaligus Script Writer, Lele Laila mengatakan adaptasi film tidak dilakukan dengan meniru sepenuhnya versi asli. Tim kreatif memilih mempertahankan semangat cerita sambil menghadirkan unsur yang lebih dekat dengan budaya Indonesia.

"Jadi aku juga bilang sama pemain bahwa yang kita ambil adalah spiritnya, kemudian apa yang dimainkan disana. Karena kita sangat mengambil spiritnya, habis itu kita menambahkan spirit-spirit lain yang sangat Indonesia banget gitu,” kata Laila.

Ia menjelaskan karakter para content creator dan sejumlah elemen cerita disesuaikan dengan kebiasaan yang akrab bagi penonton Indonesia. Pendekatan tersebut dilakukan tanpa menghilangkan karakter utama film yang menjadi inspirasi adaptasi.

Laila juga mengungkapkan pesan Sutradara Gonjiam yang memberikan dukungan terhadap adaptasi film tersebut. Pesan itu disampaikan sebelum keduanya berpisah setelah acara world premier di BIFAN 2026.

“Direkturnya Gonjiam terakhir kali sebelum perpisahan dia bilang gini. Laila bilang sama orang Indonesia harus nonton film ini, semoga film ini sukses secara box office laris manis, karena kalau film ini sukses, gantian saya yang akan ke Indonesia buat ke rumah sakit horror di Indonesia,” ungkapnya.

Film ini diharapkan mampu memberikan pengalaman horor yang imersif sekaligus memperkuat posisi adaptasi lokal di industri perfilman nasional. Dengan pendekatan teknis dan pendekatan local, film ditargetkan menarik minat penonton 9 Juli 2026 nanti di bioskop. (Sarah Maulida Ali)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....