Tayang di Berlinale 2026, 'Monster Pabrik Rambut' Dapat Respons Positif Penonton

  • 01 Jun 2026 19:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film Monster Pabrik Rambut mendapat sambutan positif dari penonton internasional saat world premiere di Berlinale 2026 dengan penayangan penuh di teater berkapasitas 2.000 orang.
  • Penonton luar negeri merasa dekat dengan isu eksploitasi kerja dan overwork yang diangkat film karena dianggap relevan secara global.
  • Palari Films sejak awal menyiapkan strategi agar film Indonesia mampu bersaing di festival internasional melalui cerita universal dan kolaborasi lintas negara.

RRI.CO.ID, Jakarta - Film Monster Pabrik Rambut mendapat respons positif dari penonton internasional usai menjalani world premiere di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Film horor karya sutradara Edwin itu dinilai berhasil menghadirkan isu yang dekat dengan kehidupan banyak orang di berbagai negara.

Edwin mengatakan film horor Indonesia kini semakin dikenal di kancah internasional karena memiliki ciri khas tersendiri. Menurutnya, penonton luar negeri mulai tertarik melihat pesan dan keresahan yang disampaikan lewat film horor asal Indonesia.

“Film Indonesia itu cukup terkenal, khususnya di horor. Horor Indonesia ini semakin unik dan semakin muncul di festival-festival internasional,” kata Edwin dalam sesi doorstop film Monster Pabrik Rambut di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin 1 Juni 2026.

Ia mengaku sempat terkejut ketika Monster Pabrik Rambut diputar di salah satu teater terbesar di Berlinale. Film tersebut ditayangkan pada Sabtu malam dengan kapasitas sekitar 2.000 penonton.

“Waktu film ini diputar kami cukup kaget juga karena ditaruh di teater paling besar, 2.000 orang, di jam yang enak banget. Studionya saat itu juga penuh,” ujarnya.

Menurut Edwin, banyak penonton internasional yang merasa terhubung dengan isu eksploitasi kerja yang diangkat dalam film tersebut. Meski tidak semua bekerja di pabrik, mereka memahami bagaimana sistem industri global saling berkaitan.

“Eksploitasi dan segala macam juga bisa mereka rasakan. Mereka pahami mungkin tidak langsung kerja di pabrik, tapi kita satu dunia ini berhubungan,” katanya

Ia mencontohkan berbagai produk global yang proses produksinya melibatkan negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Karena itu, tema overwork dan tekanan kerja dalam film dianggap dekat dengan realitas kehidupan masyarakat internasional.

Sementara itu, produser Meiske Taurisia mengatakan sejak awal rumah produksi Palari Films memang memiliki visi membawa film Indonesia masuk ke festival film internasional. Menurutnya, film Indonesia memiliki daya saing global jika dipersiapkan dengan strategi yang tepat.

“Kita percaya film Indonesia itu berdaya saing global kok. Jadi kita harus memikirkan strategi supaya sinema Indonesia masuk dalam sinema global,” kata Meiske.

Ia menjelaskan ide awal Monster Pabrik Rambut muncul dari diskusi tentang film horor modern yang relevan dengan kehidupan saat ini. Tema dunia kerja dipilih karena dianggap dapat dirasakan masyarakat di berbagai negara.

“Orang kerja di tempat kerja itu bisa jadi lebih horor dari film horor. Itu relevan di mana-mana, mau di Asia, Indonesia, atau Eropa,” ujarnya.

Selain mengangkat cerita yang universal, ia mengatakan kualitas produksi juga dipersiapkan agar mampu bersaing secara internasional. Film ini melibatkan kolaborasi lintas negara, mulai dari Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, hingga Perancis.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya membantu pendanaan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran perspektif kreatif antara sineas Indonesia dan internasional. “Antara perspektif yang dalam negeri sama luar dan kita kolaborasi bareng,” ucapnya.

Film Monster Pabrik Rambut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Film ini dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Kiki Narendra, Sal Priadi, hingga Didik Nini Thowok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....