Ebru Aydin Hadirkan Nuansa Visual Personal lewat Kamera Analog
- 19 Mei 2026 23:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fotografer Ebru Aydin menggunakan kamera analog dalam pameran 'Labbayk: Here I Am' untuk menghadirkan nuansa visual yang lebih personal, intim, dan bermakna.
- Ia menyatakan proses pengambilan gambar didukung oleh kepercayaan subjek, keterbukaan komunitas Muslim, serta seleksi yang dilakukan melalui jaringan sosial dan media digital.
- Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menilai pameran tersebut relevan dengan Indonesia karena menampilkan pesan keberagaman sebagai kekuatan budaya dan sosial.
RRI.CO.ID, Jakarta - Fotografer Muslimah, Ebru Aydin menyampaikan bahwa pameran fotografi 'Labbayk: Here I Am' juga memanfaatkan pendekatan kamera analog. Pendekatan tersebut, kata dia, dilakukan untuk menghadirkan nuansa visual yang lebih personal dan bermakna.
Ia mengatakan, sejumlah karya dalam pameran tersebut menggunakan kamera analog untuk menangkap momen ibadah haji dengan lebih intim. Ia menyebut setiap karya dipilih dan dikurasi secara khusus agar dapat merepresentasikan pengalaman spiritual secara lebih mendalam.
"Jadi ide saya adalah karena ini seperti hadiah dari Makkah. Saya ingin menampilkan foto-foto ini dengan cara yang lebih menarik," ujarnya kepada wartawan usai pameran fotografi 'Labbayk: Here I Am', Pusat Kebudayaan Belanda (Erasmus Huis), Jakarta Selatan, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia menambahkan, kepercayaan dari para subjek menjadi faktor penting dalam proses pengambilan gambar. Menurutnya, kedekatan identitas sebagai sesama Muslim membuat para jamaah lebih terbuka dan nyaman untuk difoto.
Ia menjelaskan, proses pemilihan subjek dilakukan melalui berbagai cara, termasuk panggilan terbuka di media sosial. Dari proses tersebut, banyak orang yang menunjukkan minat untuk terlibat dalam proyek fotografi yang ia jalankan.

Dua buah kamera haji yang di dalamnya terdapat karya foto dari fotografer Ebru Aydin dalam pameran fotografi 'Labbayk: Here I Am' Pusat Kebudayaan Belanda (Erasmus Huis), Jakarta Selatan, Selasa, 19 Mei 2026. (Foto: RRI/Annisa Ramadhannia)
"Keberagaman subjek menjadi hal penting dalam proyek ini agar dapat merepresentasikan identitas Muslim yang lebih luas. Jadi bukan hanya kelompok tertentu," ucapnya.
Ia menegaskan bahwa keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial turut membantu membangun kepercayaan komunitas Muslim terhadap karyanya. Sehingga proses dokumentasi dapat berjalan lebih lancar dan inklusif.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen mengatakam pesan yang dihadirkan dalam pameran sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Terutama sebagai negara yang memiliki keberagaman etnis, budaya, dan agama.
"Indonesia memiliki kekuatan luar biasa dalam keberagaman budaya dan agama. Hal ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....