Kisah Kairi ONIC Diangkat ke Layar Lebar, Film 'Nobody Loves Kay' Tayang Juni 2026

  • 05 Mei 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengangkat kisah coming of age tentang perjuangan anak muda di dunia e-sport
  • Film Nobody Loves Kay tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop
  • Disutradarai Bernardus Raka, dengan Giovanni Rahmadeva sebagai Produser Eksekutif

RRI.CO.ID, Jakarta – Film Nobody Loves Kay dijadwalkan tayang di bioskop mulai 4 Juni 2026. Film ini diperkenalkan dalam sesi media bersama tim produksi dan jajaran cast, di Jakarta.

Film ini turut dibintangi oleh Bima Azriel, Rey Bong, Aurora Ribero, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, Basboi, Melati Putri Rahel Sesilia, Dewa Dayana, Anton E. Girgis, Aya Strophile, Putri Intan, Anif Bulbul, Adam Farrel, Ayu Inten, Abun Hadi, Wina Marrino, serta Berti Galang Dwi Febrianto.

Acara tersebut menghadirkan sutradara Bernardus Raka dan Produser Eksekutif Giovanni Rahmadeva sebagai narasumber utama. Keduanya menjelaskan proses kreatif, latar cerita, serta tantangan produksi film tersebut.

Film ini mengangkat kisah perjuangan seorang tokoh bernama Kairi ONIC dalam meraih mimpi di dunia e-sport. Cerita dikemas sebagai film coming of age yang menyoroti pencarian jati diri generasi muda.

Sutradara Bernardus Raka mengungkapkan keterkaitan personal dengan cerita yang diangkat dalam film tersebut. Ia menyebut pengalaman hidupnya memiliki kemiripan dengan perjalanan karakter utama.

“Karena saat pertama kali aku mendengar cerita dari Kairi, seperti melihat cerita aku. Lebih ke pengalaman personal, antara perjuangan karakter utama dan perjuangan aku itu sama, terasa relate sampe dititik ini,” kata Bernandus Raka, dalam Media Gathering Film Nobody Loves Kay di ONIC STF (Super Training Facility), Jakarta, Selasa 5 Mei 2026.

Raka sebelumnya telah mengembangkan cerita ini dalam format film pendek bersama beberapa pihak. Versi panjang kemudian digarap karena dinilai memiliki kedalaman cerita yang lebih kuat.

“Gamer dan non-gamer memang menjadi satu hal yang yang didiskusikan antara aku dan produser. Tapi, selama proses penulisan dan akhirnya melihat hasilnya, gamer dan non-gamer sama-sama manusia, ya ceritanya sama,” ujarnya

Ia mengaku proses produksi tidak mudah karena banyak keraguan saat penulisan hingga pengambilan keputusan saat syuting. Namun, hal tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan cerita yang autentik.

Produser Giovanni Rahmadeva menilai proyek ini layak dikembangkan karena kedekatan cerita dengan realitas. Ia juga telah lama bekerja sama dengan Raka dalam berbagai proyek kreatif sebelumnya.

Pendekatan produksi dilakukan dengan memastikan cerita dapat diterima berbagai kalangan penonton. Film ini dirancang agar relevan bagi generasi muda hingga penonton yang lebih tua.

“Ketika Raka bilang underprivileged, itu yang harus ikut dirasakan, kalau menurut Raka dia belum punya skill, kami tetap yakin filmnya akan baik. Tapi disaat saat knangis dan bisa reflect ke diri sendiri, berarti artinya udah kena,” kata dia

Tim produksi juga mempertimbangkan sudut pandang beragam karakter dalam cerita, untuk memperluas keterhubungan emosi penonton. Hal ini diharapkan membuat film tetap dapat dinikmati, baik oleh gamer maupun non-gamer.

Selain itu, isu mimpi, pengorbanan, dan tekanan sosial menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh elemen cerita. Tema tersebut dinilai universal dan dekat dengan kehidupan banyak orang. (Sarah Maulida Ali)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....