Makna dan Filosofi Pembakaran Dupa Saat Imlek

  • 11 Feb 2026 10:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pembakaran dupa atau Hio adalah salah satu tradisi sakral dalam perayaan Imlek yang dilakukan di rumah, klenteng, atau kuil. Dupa dibakar sebagai sarana ungkapan doa dan harapan baik menuju kekuatan yang lebih tinggi.

Asap dupa dipercaya merupakan jembatan antara dunia manusia dan dunia spiritual, mengantarkan doa kepada leluhur dan para dewa. Filosofi ini mencerminkan nilai penghormatan serta hubungan antara yang hidup dan yang telah berpulang.

Dalam sejarah Tiongkok, Dupa atau Hio telah digunakan lebih dari dua ribu tahun lalu dalam ritual keagamaan. Awalnya dupa dipakai dalam upacara istana dan kuil, kemudian menyebar ke rumah biasa, terutama saat perayaan seperti Imlek.

Dalam tradisi Imlek, jumlah dupa yang dibakar biasanya tiga batang, melambangkan langit, bumi, dan manusia dalam kepercayaan kosmologi Tionghoa. Konsep ini mencerminkan keharmonisan antara dunia langit, alam, dan manusia dalam kehidupan.

Namun pembakaran dupa juga bisa dalam jumlah ganjil. Seperti 1, 3, 7, atau 9 batang. 

Ritual sembahyang ini biasanya dilakukan di meja altar keluarga. Diringi doa untuk kesehatan, keberuntungan, dan kesejahteraan tahun baru. 

Selain di rumah, banyak umat mengunjungi klenteng atau tempat ibadah di hari pertama Imlek untuk membakar dupa bersama ribuan orang. Pelaksanaan ini makin populer bahkan di kalangan generasi muda yang mencari kekuatan spiritual.

Jenis dupa yang digunakan bisa berbeda-beda, tapi biasanya berupa batang dupa (stick incense) yang mudah dibakar di altar. Aromanya sering dipilih untuk memberi suasana yang tenang dan khusyuk, sekaligus membersihkan energi negatif di rumah.

Secara filosofis, pembakaran dupa saat Imlek bukan sekadar ritual formal. Pembakaran dupa merupakan ekspresi rasa hormat, penghormatan leluhur, permohonan keselamatan, serta simbol harapan baru.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....