Tanjidor, Warisan Musik Betawi Berakar Sejarah Panjang
- 04 Feb 2026 15:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tanjidor merupakan kesenian tradisional Betawi berbentuk orkes yang dimainkan secara berkelompok dalam berbagai kegiatan masyarakat. Musik ini menampilkan pengaruh kuat tradisi Eropa, terutama melalui dominasi penggunaan alat musik tiup logam.
Dilansir dari Indonesia Kaya, istilah tanjidor kerap disingkat menjadi tanji yang bermakna menabuh atau memainkan alat musik. Sebutan tersebut berkembang karena dominasi instrumen tambur yang menghasilkan bunyi khas dor-dor-dor.
Asal-usul kesenian tanjidor hingga kini belum dapat dipastikan secara pasti oleh para sejarawan. Namun, sejumlah kajian menyebutkan adanya kemungkinan pengaruh kebudayaan Islam dan Eropa dalam pembentukannya.
Paramita Rahayu Abdurachman dalam Bunga Angin Portugis di Nusantara menyebut tanjidor mungkin berasal dari sisa kebudayaan Islam. Ia juga menyoroti kemiripan istilah tanjidor dengan sejumlah kosakata dalam bahasa Portugis.
Secara etimologis, kata tanger merujuk pada aktivitas memainkan alat musik dalam bahasa Portugis. Sementara itu, tangedor dan tangedores digunakan untuk menyebut pemusik luar ruang dan kelompok brass band parade.
Meski sama-sama menggunakan tangga nada diatonik, musik Portugis memiliki karakter berbeda dengan tanjidor Betawi. Tanjidor justru lebih menekankan kekuatan permainan alat musik tiup sebagai unsur utama pertunjukan.
Kemunculan tanjidor kerap dikaitkan dengan kebiasaan para tuan tanah dan pejabat di Batavia masa kolonial. Mereka umumnya memiliki ensambel musik pribadi yang dimainkan oleh para budak terlatih.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah awal tanjidor adalah Augustijn Michiels atau Mayor Jantje dari Citeureup. Perannya diulas sejarawan Mona Lohanda dalam pengantar buku Mayor Jantje karya Johan Fabricius.
Mayor Jantje diketahui memiliki berbagai ensambel musik, mulai dari musik Eropa hingga gamelan. Sebanyak tiga puluh budak bermusik membentuk Korps Musik Papang di kediamannya.
Para pemusik tersebut bertugas menghibur tuannya dalam pesta dan jamuan makan resmi. Mereka memainkan musik sambil berbaris mengelilingi meja tamu undangan.
Setelah Mayor Jantje wafat pada 1833, para musisi budak beserta instrumennya dilelang keluarga. Peristiwa ini menjadi salah satu titik awal penyebaran tanjidor ke masyarakat luas.
Usai penghapusan perbudakan, para mantan budak bermusik membentuk kelompok mandiri bernama tanjidor. Awalnya mereka membawakan lagu-lagu Eropa seperti polka, mars, dan musik dansa.
Seiring waktu, repertoar tanjidor berkembang dengan memasukkan lagu Betawi, Melayu, serta berbagai lagu daerah. Kesenian ini menyebar ke wilayah penyangga Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang.
Kini, tanjidor kerap tampil dalam arak-arakan pengantin dan penyambutan tamu kehormatan masyarakat Betawi. Kesenian ini tetap bertahan sebagai musik perayaan yang hidup dalam tradisi lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....