Avarta Media Resmi Diluncurkan, Siap Berkolaborasi di Industri Perfilman
- 11 Des 2025 07:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Industri perfilman nasional kembali diramaikan oleh pemain baru. Avarta Media diluncurkan sebagai perusahaan media terintegrasi terbaru di Indonesia, yang menggabungkan keahlian pendanaan film Virtuelines Entertainment, dan telah terbukti dengan visi berani untuk perfilman Indonesia.
Perusahaan ini didirikan oleh pengusaha kembar Ardi dan Arya Setiadharma. Keduanya tercatat dalam Fortune Indonesia 40 Under 40, bersama aktris peraih Piala Citra, Acha Septriasa, yang kariernya membintangi lebih dari 55 film telah menjadikannya salah satu aktris paling ikonik di Indonesia.
Kali ini, Avarta Media mengintegrasikan Virtuelines Entertainment, sebuah fund perfilman yang didirikan oleh kakak-beradik Setiadharma, yang secara bertahap telah membangun portofolio film Indonesia yang beragam. Sejak 2023, Virtuelines telah berinvestasi di lebih dari 8 film layar lebar yang menjangkau lebih dari 4 juta penonton, termasuk film box office Qodrat 2 (2 juta+ penonton, tayang di 9 negara) dan film horor eksorsisme Katolik pertama di Indonesia, Kuasa Gelap (1,47 juta penonton).
"Perfilman Indonesia sedang mengalami era keemasan pangsa pasar lokal 65 persen, 126 juta tiket terjual tahun lalu, dan penonton yang haus akan konten berkualitas. Avarta Media hadir untuk memenuhi permintaan tersebut," kata CEO Avarta Media, Arya Setiadharma, pada acara peluncuran Avarta Media di Technogym Gunawarman Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).
Ia menuturkan, Avarta Media membawa disiplin modal ventura ke dalam penceritaan kreatif mengidentifikasi talenta, mengelola risiko melalui slate yang terdiversifikasi, dan membangun franchise dengan nilai jangka panjang. "Dengan rekam jejak Virtuelines dan visi kreatif Acha, kami siap memproduksi film yang sukses secara komersial maupun artistik," ujarnya menambahkan.
Tim pendiri menggabungkan keahlian langka di bidang kewirausahaan, keuangan, modal ventura, dan hiburan. Ardi dan Arya Setiadharma adalah Co-Founder PT Prasetia Dwidharma, sebuah perusahaan induk multisektor. Melalui divisi investasinya, Prasetia Ventures, perusahaan ini telah menjadi salah satu investor startup tahap awal paling aktif di Indonesia dengan lebih dari 70 perusahaan portofolio termasuk Cakap, Mekari, Qiscus, Fresh Factory, Goers, dan Doogether.
Ketajaman investasi mereka telah mendorong pendekatan Virtuelines yang terdiversifikasi dalam berbagai genre film. Mulai dari horor, drama, komedi musikal, hingga folk horror.
Acha Septriasa melengkapi keahlian bisnis ini dengan pengalaman 20 tahun di layar kaca, pendidikan formal di bidang produksi film dari Limkokwing University. Serta, pemahaman langsung tentang apa yang membuat penonton Indonesia terhubung dengan sebuah cerita.
"Setelah 20 tahun dan 55 film di depan kamera, saya memahami apa yang membuat penonton Indonesia tertawa, menangis, dan berpikir. Sebagai Co-Founder Avarta Media, saya tidak sekadar meminjamkan nama saya aktif membentuk slate kreatif kami, tetapi juga berkomitmen pada cerita yang menghibur sekaligus bermakna," ucap Acha.
Portofolio Unggulan Virtuelines Entertainment:
• Qodrat 2 (Maret 2025) — 2 juta+ penonton, tayang di 9 negara termasuk Malaysia;
Qodrat 3 dalam pengembangan
• Kuasa Gelap (Oktober 2024) — 1,47 juta penonton, film horor eksorsisme Katolik
pertama di Indonesia
• Tak Ingin Usai di Sini (Juni 2025) — 200 ribu+ penonton dalam 3 hari, viral di TikTok
• Ambyar Mak Byar (Januari 2025) — IMDb 6.9, komedi musikal Jawa, tayang diNetflix
• Pemukiman Setan (Januari 2024) ~492 ribu penonton, tayang di Netflix
• Tumbal Darah (Oktober 2025) — ~340 ribu penonton
• Darah Nyai (Agustus 2025) — IMDb 7.0, premiere JAFF 2024, film revenge horror B-movie yang dipuji kritikus
• Suka Duka Tawa (Januari 2026) — Film Penutup JAFF 2025, tiket habis dalam satuhari
• Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? (Januari 2026)
Avarta Media, melalui Virtuelines Entertainment, telah membangun hubungan strategis dengan rumah produksi terkemuka Indonesia, termasuk MAGMA Entertainment, Paragon Pictures, BION Studios, Wahana Kreator, dan Caravan Studio. Model kolaboratif ini memungkinkan perusahaan untuk berpartisipasi dalam beragam proyek sambil berbagi risiko dan mengakses talenta kreatif terbaik.
Ke depan, Avarta Media mengumumkan pengembangan film "9 Aku, Cinta Tanpa Syarat", sebuah drama orisinal tentang seorang wanita yang hidup dengan Dissociative Identity Disorder.
Diproduksi melalui Kerja Sama Operasi (KSO) dengan Shanaya Films, proyek ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap penceritaan yang berdampak sosial. Film ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental dan kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak, sambil menghadirkan hiburan yang memikat.
"Kami membangun Avarta Media untuk jangka panjang. Indonesia adalah pasar film terbesar ke-9 di dunia, dan kami ingin membantu industrinya naik ke level berikutnya," ujar CFO Avarta Media, Ardi Setiadharma, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....