Reza Rahadian: 'Pangku' Menjadi Refleksi Dari Sebuah Realitas

  • 04 Des 2025 19:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Sutrada film ‘Pangku’, Reza Rahadian berbagi cerita fenomena sosial pekerja “kopi pangku” di Indramayu menjadi latar belakang pembuatan film ini. Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan Penayangan dan Bedah Film Hak Asasi Manusia (HAM), Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Perjuangan para perempuan di tengah kompleksitas kehidupan menjadi salah satu pembelajaran bagi Reza. Menurutnya, film ‘Pangku’ yang digarapnya merupakan "surat cinta" bagi para perempuan yang berjuang di luar sana.

Riset dilakukan dengan melibatkan para pekerja secara langsung. Dari proses itu, ditemukan banyak perempuan yang bekerja demi kebutuhan mendasar keluarga, dari menyediakan makanan hingga menyekolahkan anak.

Lebih lanjut, Reza menegaskan bahwa film ‘Pangku’ tidak dibuat untuk mengeksploitasi kemiskinan dan realitas pedih sebagai sensasi visual. "Bukan tentang kemiskinannya, tapi bagaimana seorang manusia berusaha sekeras mungkin untuk bertahan hidup," ujarnya, Kamis (4/12/2025).

Dibanding dengan dokumenter, Reza mengatakan film 'Pangku' lebih cocok disebut sebagai bentuk refleksi dari sebuah realitas. "Kalau dokumenter menunjukkan realitas yang ada, (film) ini merupakan refleksi, itu alasan penting kenapa film ini dibuat," kata Reza.

Di satu sisi, Staf Khusus Menteri Menteri HAM, Yosef Sampurna Nggarang menilai bahwa media sinema memiliki kekuatan besar dalam menggerakkan kesadaran publik. Ia mengapresiasi bagaimana ‘Pangku’ menampilkan potret perempuan dalam situasi ekonomi rentan, serta mengenai ketidakadilan struktural yang mereka hadapi.

Yosef menyampaikan bahwa karya seni dapat menjadi sarana merawat empati dan membuka percakapan penting mengenai hak-hak perempuan. Ia menekankan bahwa narasi film seperti ‘Pangku’ bisa memperluas jangkauan advokasi HAM dengan cara yang mudah dijangkau masyarakat.

Dengan penayangan dan diskusi publik ini, Kementerian HAM berharap film ‘Pangku’ dapat menjadi pemicu dialog yang lebih luas terkait perlindungan perempuan. “ini menjadi protes bersama kita melalui visualisasi yang berasal dari film,” ujarnya.

Film ini juga diharapkan dapat memantik kolaborasi berbagai pihak termasuk para pemangku kebijakan. Bekerja sama untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok marginal. (Zahfa Putri Afriandita)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....