Sederet Fakta Mengejutkan Film Pengepungan di Bukit Duri

  • 11 Apr 2025 11:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Joko Anwar kembali dengan film barunya berjudul Pengepungan di Bukit Duri yang ia tulis dan sutradarai. Ini menjadi film ke-11 sekaligus karya thriller-aksinya setelah Gundala pada 2019.

Film ini mengangkat kekerasan di kalangan remaja dengan latar Indonesia tahun 2027 yang tengah kacau. Cerita menggambarkan masyarakat di ambang kehancuran akibat diskriminasi dan kebencian berbasis ras.

Dilansir dari berbagai sumber terpercaya, berikut adalah fakta-fakta menarik film Pengepungan di Bukit Duri :

1. Mengkat isu kekerasan di kalangan remajaB

Bukit Duri. Karya ini menjadi film ke-11 yang digarap oleh sang sutradara, sekaligus karya thriller-aksi pertamanya sejak terakhir kali menggarap film Gundala pada 2019.

Pengepungan di Bukit Duri menjadi film Joko Anwar pertama yang fokus pada isu kekerasan remaja. Film ini dibintangi aktor muda berbakat dan terinspirasi dari kondisi sosial masyarakat saat ini.

Joko menyoroti pentingnya peran remaja dan tanggung jawab orang dewasa membentuk mereka. Setiap karakter hadir dengan latar kompleks untuk merefleksikan berbagai sudut pandang terhadap kekerasan remaja.

2. Penulisan skenarionya sejak 17 tahun yang lalu

Meski baru tayang 2025, naskah film ini telah ditulis Joko Anwar sejak tahun 2007 silam. Prosesnya berlangsung lama karena skenario ini merupakan proyek pertama Joko saat masuk dunia film.

Riset film dimulai sejak 2002, melibatkan wawancara remaja dan para pendidik terkait isu kekerasan remaja. Joko mendalami pengalaman mereka untuk membentuk fondasi cerita yang kuat dan realistis.

Menurut Joko, proyek ini membutuhkan kematangan teknis dan emosional agar pesan film tersampaikan tepat. Ia juga menyesuaikan naskah agar tetap relevan dan tidak memuliakan kekerasan dalam penyajiannya.

3. Sebuah proyek kolaborasi bersama Hollywood

Film Pengepungan di Bukit Duri merupakan hasil kolaborasi Come and See Pictures dengan Amazon MGM Studios. Ini menjadi kerja sama perdana Amazon MGM Studios dengan rumah produksi Asia Tenggara untuk film bioskop.

Produser kerja sama sendiri dapat terjadi karena kedua pihak sedang membuka peluang kolaborasi internasional. Kolaborasi dimulai tahun 2021 dan akhirnya selesai diproduksi pada 2024 lalu.

4. Set dunia film yang memukau

Film Pengepungan di Bukit Duri berlatar Indonesia tahun 2027, menggambarkan Jakarta dalam kondisi kacau dan mundur. Lokasi SMA Bukit Duri dibangun di bangunan bersejarah Laswi Heritage yang berada di Bandung.

Dalam cerita, SMA Bukit Duri dulunya merupakan penjara, sehingga tim artistik mendesain dua versi bangunan. Mereka membangun 22 titik set, termasuk ruang kelas, lorong, dan ruang kepala sekolah.

Selain sekolah, ada juga latar pecinan bawah tanah yang mencerminkan kemunduran sosial. Lingkungan digambarkan penuh sampah, coretan, dan suasana luar yang makin kacau.

5. Proses casting selama 4 bulan

Dengan bantuan casting director, Joko mencari pemain film ini selama kurang lebih empat bulan. Ia sempat merasa frustrasi karena sulit menemukan aktor yang sesuai kebutuhan cerita.

Proses audisinya sangat ketat, tiap karakter diikuti rata-rata 20 peserta audisi. Akhirnya, sejumlah aktor dan aktris muda terpilih membintangi film dengan judul bahasa Inggrisnya, The Siege at Thorn High. (Najwa Anisa)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....