Angkatan Puisi Esai adalah Angkatan Sastra Sui Generis
- 14 Des 2024 06:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Angkatan Puisi Esai adalah fenomena internasional, dan merupakan angkatan sastra “sui generis,” yang berarti unik dalam jenisnya sendiri. Angkatam ini juga sangat khas, dan tidak ada bandingannya dalam sejarah sastra Indonesia sebelumnya, bahkan dunia.
Hal itu dikatakan Pengamat Sastra Indonesia asal Jerman Berthold Damshäuser. Ini disampaikan dalam dialog Angkatan Puisi Esai di acara Festival Puisi Esai Jakarta II.
Acara ini diselenggarakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada 13-14 Desember 2024. Dialog hari pertama yang dimoderatori Ahmad Gaus itu menghadirkan penyair dan pengamat.
Di antaranya Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, dan pengamat sastra Berthold Damshäuser. Berthold akrab dipanggil “Pak Trum.”
Menurut Pak Trum, Angkatan Puisi Esai disebut “sui generis” karena belum pernah ada generasi. Atau aliran dalam dunia sastra yang diberi nama genre sastra.
Dalam konteks Indonesia, baru kali ini ada gerakan sastra yang telah berkembang menjadi sebuah angkatan yang sanggup menembus kerangka nasional. Dengan melintasi perbatasan Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura.
"Angkatan Puisi Esai adalah fenomena internasional,” kata dia. Keunikan lainnya, kata Pak Trum, dalam sejarah sastra tak pernah ada genre yang digagas oleh satu individu.
"Juga, tak pernah ada genre sastra yang dalam waktu demikian singkat. Yakni telah mengalami perkembangan sedahsyat puisi esai," kata dia.
Sedangkan Agus R. Sarjono menyatakan, jika Angkatan 2000 yang dikemukakan Korrie Layun Rampan dijadikan patokan, dalam 15 tahun. Atau 25 tahun setelah Angkatan 2000.
Dalam perjalanan sastra Indonesia harus diakui bahwa tidak ada sesuatu baru apapun yang muncul. Kecuali puisi esai.
“Sejak muncul buku puisi esai ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA pada 2012. Bermunculan buku demi buku kumpulan puisi esai, yang memiliki basis estetika dan tema yang sama,” ujar Agus.
Singkatnya, dalam sastra Indonesia selama rentang 12 dan 24 tahun setelah Angkatan 2000. Saat itu secara besar-besaran diisi oleh fenomena baru, yakni puisi esai.
"Bahkan, polemik yang dilibatkan oleh puisi esai melampaui semua perdebatan angkatan sastra di Indonesia. Yakni digabung menjadi satu,” kata Agus.
Sedangkan Jamal D. Rahman sepakat dengan Agus. Ia juga menyatakan, masa depan genre puisi esai dan Angkatan Puisi Esai akan banyak ditentukan oleh generasi Z (Gen Z).
Di era yang sudah akrab dengan kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence). Generasi muda masa kini yang juga sangat akrab dengan media sosial.
Jamal juga mengapresiasi gagasan puisi esai bahwa “yang bukan penyair boleh ambil bagian.” Menurut Jamal, ini menghilangkan aura keangkeran dalam dunia kepenyairan.
"Ini membuka pintu bagi banyak orang dari berbagai latar belakang. Untuk mendukung genre puisi esai dan keberlanjutan Angkatan Puisi Esai," kata dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....