Wagub Surya Ingin Museum Pusaka Nias Jadi Destinasi Wisata Sejarah Kelas Dunia

  • 23 Jul 2026 11:33 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gununsgitoli - Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Surya menginginkan Museum Pusaka Nias di Kota Gunungsitoli berkembang menjadi destinasi wisata sejarah berkelas dunia.

Hal itu disampaikan Surya saat mengunjungi Museum Pusaka Nias, Kamis 22 Juli 2026. Kunjungan itu didampingi Staf Ahli I TP PKK Sumut Titiek Sugiharti dan Wali Kota Gunungsitoli Sowa'a Laoli.

Ia menilai kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat Ono Niha yang tersimpan di museum tersebut merupakan aset berharga yang layak diperkenalkan lebih luas sekaligus menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.

"Ternyata Nias ini dalam sejarah tercatat di mancanegara. Kami akan bawa ini untuk ditularkan kepada generasi muda di luar Kepulauan Nias," ujar Surya.

Menurutnya, berbagai peninggalan di Museum Pusaka Nias memiliki nilai sejarah dan budaya sangat tinggi. Karena itu pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.

"Ini tanggung jawab Pak Walikota untuk menjaganya. Begitu juga Pemerintah Provinsi Sumatera Utara punya kewajiban untuk menjaga dan melestarikan ini. Sekaligus nanti harapan ini akan kami bawa dan sampaikan kepada Bapak Gubernur Bobby Nasution. Semoga bisa diakomodir," katanya.

Surya menyebut komitmen itu sejalan dengan langkah Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution yang "berkantor" di Kepulauan Nias guna mempercepat pembangunan dan menghapus status daerah tertinggal.

Direktur Museum Pusaka Nias Nata'alui Duha menjelaskan, secara historis Kepulauan Nias terbagi menjadi dua kawasan budaya besar, yakni Nias Utara dan Nias Selatan. Perbedaannya tampak dari bentuk rumah adat, dialek bahasa, hingga tradisi.

"Kalau di Selatan, bentuk rumahnya segi empat. Sedangkan di Utara itu oval. Bahasanya juga agak berbeda di sini dan di Telukdalam. Jadi jauh sebelum ada pemekaran kabupaten/kota, Nias ini satu dan terbagi antara Utara dan Selatan," ucap, Nata.

Ia juga mengungkap sejarah kelam masa kolonial. Sejumlah warga Nias dijadikan objek penelitian oleh ilmuwan Belanda dengan cara wajah mereka dicetak menggunakan gipsum selama berjam-jam. Cetakan itu kemudian dibawa ke Belanda sebagai bahan penelitian.

"Jadi ini sejarah bagaimana orang Nias dijadikan bahan riset, tetapi caranya dipaksa dan terkesan disiksa. Cetakan itu kemudian dibawa ke Belanda sebagai bahan penelitian. Dan gambar-gambar ini adalah mereka yang dicetak bentuk wajahnya," katanya, menegaskan..

Nata berharap perhatian Gubernur Bobby Nasution dan Wagub Surya dapat mendorong pelestarian sekaligus pengembangan museum sebagai destinasi wisata sejarah unggulan. Dengan demikian warisan budaya masyarakat Nias semakin dikenal luas dan memberi manfaat bagi pariwisata serta perekonomian Kepulauan Nias.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....