Ekoteologi Jadi Menu Utama MPLS di SMKN 1 Tuhemberua bersama KUA

  • 15 Jul 2026 15:45 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Penyuluh Agama Kristen, Marihot Pandapotan Sirait, S.Th., menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Aula SMKN 1 Tuhemberua, Selasa 14 Juli 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh peserta didik baru kelas X dengan mengusung tema "Bukan Cuma Jaga Iman, Yuk Kita Jaga Alam."

Dalam pemaparannya, Marihot Sirait mengajak para siswa untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Indonesia, seperti kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor, tidak terlepas dari perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab terhadap alam.

"Hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti membuang sampah sembarangan atau membiarkan hutan dan lahan gundul dieksploitasi tanpa kendali, menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan. Semua itu berawal dari sikap tidak peduli dan kurangnya rasa hormat terhadap alam," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan. Oleh karena itu, para pendidik diharapkan mampu menjadi teladan dalam menumbuhkan budaya hidup bersih, sehat, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Menurut Marihot, kesadaran ekologis harus terlebih dahulu dimiliki oleh para guru dan tenaga pendidik. Tanpa contoh nyata dari pendidik, akan sulit menanamkan sikap peduli lingkungan kepada peserta didik.

Dalam perspektif iman Kristiani, Marihot juga memperkenalkan konsep ekoteologi, yakni pemahaman bahwa merawat dan melestarikan ciptaan Tuhan merupakan bagian dari wujud iman yang nyata. Melalui pemahaman tersebut, siswa diharapkan mampu mencintai lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Ia berharap kegiatan kebersihan di sekolah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter. Peserta didik didorong untuk berpikir kreatif dalam memanfaatkan sampah, misalnya dengan mengumpulkan botol plastik bekas untuk didaur ulang atau dijual sehingga memiliki nilai ekonomi.

"Melalui kegiatan sederhana seperti menjaga kebersihan dan mengelola sampah, siswa belajar bahwa tidak ada keberhasilan yang diperoleh secara instan. Semua membutuhkan proses, kerja sama, dan kerja keras," ucap Marihot.

Lebih lanjut, Ia menekankan bahwa sekolah merupakan institusi strategis dalam membentuk generasi yang memiliki karakter cinta lingkungan. Oleh sebab itu, budaya tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan merawat lingkungan sekolah harus terus ditanamkan sejak dini.

Ia mengajak seluruh warga sekolah untuk memulai langkah nyata dalam mencintai lingkungan dengan menumbuhkan pemahaman ekologi serta membangun kebiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab.

"Menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Mari kita mulai dari lingkungan sekolah, dari hal-hal kecil, dan mulai hari ini," pungkasnya.

Marihot juga mengajak peserta didik untuk menanam pohon agar bisa mencegah bencana seperti tanah longsor dan banjir yang telah banyak menelan korban.

Marihot sangat berterimakasih kepada keluarga besar SMKN 1 Tuhemberua, khususnya Kepala Sekolah, Vin's Enjelin T. Zega, Wakasek, dan majelis guru yang telah mengundang menjadi narasumber dalam kegiatan MPLS ini.

Page break

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....