Bangun Image Positif Masyarakat tentang Penggunaan Alat KB

  • 09 Jun 2026 19:30 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli – Membangun image positif tentang penggunaan alat KB memang membutuhkan upaya yang cukup kuat di kalangan masyarakat dari minset yang mengarah pada pembatasan menjadi perencanaan keluarga demi masa depan yang sehat dan sejahtera. Edukasi terus digencarkan serta berpusat pada hak kesehatan reproduksi, pemulihan fisik ibu serta peningkatan kualitas hidup keluarga. Hal itu disampaikan Oktavia Harefa SKM selaku Kepala Bidang KB dan K3 Dinas P5A kota Gunungsitoli.

Dikatakannya, Informasi tentang KB ini kadang didengar dari masyarakat bahwa penggunaannya kadang cocok dan kadang tidak ditubuh akseptor. Untuk kondisi ini, para Penyuluh Keluarga Berencana PKB dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana PLKB terus giat melakukan pelayanan dan penyuluhan kepada masyarakat bagaimana merubah mindset masyarakat mengenai penggunaan alat kontrasepsi atau ber KB ini. Sesuai dengan tujuannya yakni untuk menciptakan keluarga berkualitas mulai dengan perencanaan berkeluarga.

Lebih lanjut dikatakannya, mungkin ada yang berpikiran bahwa menggunakan alat KB sudah nggak akan dapat anak lagi padahal lebih tepatnya adalah mengatur jarak kehamilan agar kondisi ibu lebih sehat.

" Terkait dengan kecocokan penggunaan alat KB sendiri, kami sarankan untuk melakukan pemeriksaan secara keseluruhan kepada dokter spesialis obgyn. Menurut kami itu banyak faktornya misalnya riwayat pekerjaannya apa, bagaimana asupan gizi yang masuk, sehingga harus disesuaikan dengan alat kontrasepsi yang akan digunakan. Sehingga masyarakat sebenarnya bisa berkonsultasi di puskesmas terdekat karena pelayanan seperti itu bersifat gratis,” ujarnya, Selasa 9 Juni 2026.

Hal yang sama juga dilakukan Ikatan Bidan Indonesia IBI kota Gunungsitoli. IBI terus membangun citra positif Keluarga Berencana melalui edukasi langsung dan layanan serentak yang mana dan nyaman. Yurniwati Harefa Ketua IBI kota Gunungsitoli mengatakan, bidan berperan sebagai konselor utama untuk menepis hoaks atau mitos dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengatuan jarak kehamilan.

Sebelum masyarakat menentukan pilihannya, mereka terlebih dahulu diedukasi oleh petugas kesehatan, termasuk metode kontrasepsi yang mau mereka pakai. Dan pemeriksaan kesehatan itu memang benar-benar kita laksanakan terlebih dahulu misalnya mengecek riwayat penyakitnya karena alat kontrasepsi itu ada yang hormonal dan non hormonal.

" Contoh penderita tyroid tidak cocok menggunakan alat KB hormonal tapi non homronal. Jadi tidak perlu takut, walaupun semua alat kontrasepsi itu memang ada efek sampingnya namun petugas akan tetap memberikan edukasi terbaik, karena ketika kita sudah memberikan pemahaman maka tetap saja masyarakat yang menentukan alat kontrasepsi apa yang ingin digunakan. Ini yang cocok dan tidak menimbulkan efek samping. Sejauh ini peran dari PKB dan PLKB di lapangan sudah maksimal sehingga dari sekian banyaknya pengguna alat kontrasepsi tidak pernah ada kasus efek samping yang membutuhkan penanganan serius,” ucap Ketua IBI Kota Gunungsitoli.

Kerja sama antara Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (UPTD P5A) dan ibu-ibu penggerak/kader kesehatan sangat krusial untuk membangun citra atau image positif masyarakat terhadap penggunaan alat Keluarga Berencana (KB). Langkah ini bertujuan untuk mengikis mitos negatif, menekan angka kehamilan tidak direncanakan, serta meningkatkan kualitas kesejahteraan keluarga.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....