Fenomena El Nino Tidak Berpengaruh Signifikan diWilayah Kepulauan Nias

  • 07 Mei 2026 10:49 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli – Fenomena El Nino tidak terlalu berdampak signifikan di wilayah kepulauan Nias, demikian disampaikan Forecaster BMKG Stasiun Metereologi Binaka Gunungsitoli, Inlim Rumarhobo, Kamis 7 Mei 2026.

Disebutkannya, El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. El Nino memiliki dampak yang beragam dalam lingkup skala global. Pemanasan suhu muka laut akan meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik sehingga mengurangi curah hujan di Indonesia.

Meski demikian Inlim mengungkapkan karena wilayah kepulauan Nias yang berada di wilayah Indonesia Barat dan lebih dekat dengan Samudera Hindia maka fenomena ini tidak terlalu berpengaruh pada cuaca di wilayah Kepulauan Nias disebabkan El Nino terjadi di Samudera Pasifik atau sebelah Timur Papua Nugini.

“El Nino atau Enso ini diperkirakan akan aktif di sekitar Juni, Juli dan Agustus. Ini dampaknya akan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. Artinya ketika El Nino kuat maka wilayah Indonesia cenderung kering atau kemarau. Namun ini lebih berpengaruh di wilayah Indonesia tengah dan Indonesia Timur,” katanya.

Dijelaskannya El Nino nantinya akan aktif di level moderat atau menengah.

Sementara itu Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” kata Faisal seperti dikutip dari keterangan di situs resmi BMKG, Minggu 5 April 2026.

Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.

“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....