Sampah Organik Menjadi Tantangan Pembudidaya Maggot, Andai Saja...

  • 24 Feb 2026 14:57 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Polianus Zebua selaku pembudidaya maggot merasakan tantangan dalam melakukan usaha budidaya maggot karena terbatasnya sampah yang bisa dia kumpulkan.

Seperti diketahui maggot adalah larva dari lalat black soldier fly (BSF) yang efektif mengurangi limbah organik seperti sisa buah, sayur dan makanan dalam jumlah besar, bahkan 1 kg maggot dapat menghabiskan 2-5 kg sampah per hari.

Poli mengaku dirinya kadang kesulitan untuk mendapatkan sampah. Sampah organik biasanya ia dapatkan dari rumahnya sendiri dan beberapa tetangga yang bersedia menyisihkan sampah organiknya. Kadang-kadang ia bahkan memulung sampah di pasar hanya untuk mendapatkan sampah sisa sayur atau buah.

Padahal menurutnya akan menjadi sebuah simbiosis mutualisme jika ada kerjasama antara dinas lingkungan hidup kota Gunungsitoli dengan peternak maggot, dimana sampah organik warga diberikan kepada mereka.

“Maggot ini bisa menjadi solusi penanganan sampah organik di kota Gunungsitoli, daripada dibuang-buang di TPA lebih baik dikasih ke kami sampah tersebut, sampah yang sudah dipilah khusus sampah organik,” kata Poli, Selasa 24 Februari 2026.

Ia mengaku ide ini pernah ia lontarkan kepada pihak terkait namun sayang belum ditindaklanjuti. Meski demikian usaha budidaya maggot ini tetap ia jalankan dengan sepenuh hati karena ia mendapatkan manfaat yang luar biasa.

Selain ia bisa mengolah sampah organiknya sendiri melalui maggot, maggot pun ia gunakan untuk menjadi pakan ayam kampung serta ikan lele dan ikan tawar lainnya uang ia pelihara. Ia sangat bisa berhemat karena menggunakan pakan maggot lebih murah dibandingkan pakan ayam pabrikan yang lebih mahal.

Selain itu karena mengkomsumsi maggot dan kotoran ayam langsung diurai oleh maggot, lingkungan rumah yang berdekatan dengan ternak ayam tidak mengalami polusi bau.

Page break

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....