Kenapa Pelari dengan Pace Sama Bisa Memiliki Heart Rate yang Berbeda?

  • 29 Jul 2026 10:57 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Dua orang dapat berlari dengan pace yang sama, misalnya 7 menit per kilometer, tetapi detak jantungnya bisa berbeda jauh. Ada yang hanya berada di 145 denyut per menit (bpm), sementara yang lain sudah mencapai 170 bpm. Perbedaan tersebut merupakan hal yang normal dan tidak selalu menandakan kondisi jantung yang bermasalah.

Heart rate merupakan jumlah denyut jantung dalam satu menit yang menggambarkan seberapa keras jantung bekerja mengalirkan darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), saat aktivitas fisik meningkat, kebutuhan oksigen otot juga meningkat sehingga jantung akan berdetak lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Salah satu faktor yang paling memengaruhi adalah tingkat kebugaran aerobik. Pelari yang rutin berlatih umumnya memiliki jantung yang lebih efisien memompa darah. Dalam satu kali denyutan, volume darah yang dipompa lebih banyak sehingga kebutuhan oksigen dapat dipenuhi tanpa harus membuat jantung berdetak terlalu cepat. Sebaliknya, pelari pemula sering kali memiliki heart rate lebih tinggi meskipun berlari dengan pace yang sama karena tubuhnya masih beradaptasi terhadap latihan.

Selain kebugaran, suhu dan kelembapan udara juga berpengaruh. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa saat beraktivitas di lingkungan yang panas, tubuh akan meningkatkan aliran darah ke permukaan kulit untuk membantu melepaskan panas. Proses ini membuat jantung bekerja lebih keras sehingga heart rate dapat meningkat walaupun kecepatan lari tidak berubah. Karena itu, berlari pada pagi yang sejuk dan siang yang terik bisa menghasilkan heart rate yang berbeda meskipun pace yang ditempuh sama.

Faktor lain yang sering tidak disadari adalah kondisi tubuh sebelum berlari. Kurang tidur, dehidrasi, stres, kelelahan akibat latihan sebelumnya, hingga konsumsi kafein dalam jumlah tertentu dapat membuat detak jantung lebih tinggi dari biasanya. Itulah sebabnya seorang pelari bisa mencatat heart rate yang berbeda meski berlari di rute dan pace yang sama.

Usia juga memengaruhi cara membaca heart rate saat berolahraga. Sebagai ilustrasi, seseorang berusia 25 tahun memiliki perkiraan denyut jantung maksimum sekitar 195 bpm dengan rumus sederhana 220 dikurangi usia. Berdasarkan pedoman intensitas aktivitas fisik, kisaran 50–70 persen dari denyut jantung maksimum umumnya digunakan untuk latihan intensitas sedang, sedangkan 70–85 persen termasuk intensitas tinggi. Pada usia 25 tahun, kisaran tersebut setara dengan sekitar 98–137 bpm untuk intensitas sedang dan 137–166 bpm untuk intensitas tinggi. Namun, angka tersebut hanya digunakan sebagai panduan karena respons setiap orang dapat berbeda.

Oleh karena itu, membandingkan heart rate dengan pelari lain bukanlah cara yang tepat untuk menilai kebugaran. Yang lebih penting adalah membandingkan perkembangan diri sendiri. Sebagai contoh, jika beberapa bulan lalu seseorang berlari dengan pace 8 menit per kilometer dan mencatat heart rate 165 bpm, kemudian setelah rutin berlatih heart rate turun menjadi 150 bpm pada pace yang sama, hal tersebut menunjukkan tubuh menjadi lebih efisien menggunakan oksigen dan kebugaran aerobiknya meningkat.

Dengan demikian, heart rate bukan sekadar angka yang muncul di smartwatch. Angka tersebut merupakan salah satu indikator bagaimana tubuh merespons latihan. Memahami faktor-faktor yang memengaruhinya dapat membantu pelari mengatur intensitas latihan secara lebih tepat, menghindari latihan yang terlalu berat, serta meningkatkan performa secara bertahap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....