Cerminan Program Pemerintah di Sektor Pendidikan Nonformal

  • 02 Okt 2026 15:01 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membawa perubahan nyata hingga ke wilayah kepulauan Nias. Dua sosok perempuan, Febertina Mendrofa dan Mesra Zebua, menjadi bukti bagaimana program prioritas pemerintah menyentuh langsung masyarakat akar rumput di Kota Gunungsitoli.

Febertina Mendrofa, ibu rumah tangga yang sebelumnya mengalami buta aksara, kini merasakan hidup baru setelah mengikuti program keaksaraan yang diselenggarakan oleh PKBM ZONA di bawah naungan Yayasan Gozena Bangkit Berkarya. Program pemberantasan buta aksara yang menjadi salah satu perhatian pemerintah Prabowo-Gibran inilah yang menjadi titik balik bagi Febertina.

“Saya Febertina Mendrofa, salah satu peserta program keaksaraan yang diselenggarakan oleh PKBM ZONA menjadi langkah awal yang sangat berharga untuk membuka peluang-peluang baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Melalui pembelajaran yang dilaksanakan ini, saya kini semakin lancar dalam membaca," ucap Febertina. Kemampuan barunya itu tidak hanya membuatnya lebih percaya diri saat berinteraksi, tetapi juga membantunya tidak lagi bergantung pada orang lain untuk memahami informasi.

Lebih dari itu, program ini juga membekali Febertina kemampuan berhitung dasar yang sangat vital. "Saya kini dapat menghitung pengeluaran dan pendapatan keluarga sedikit demi sedikit. Pemahaman ini menjadi bekal penting baginya untuk tidak mudah tertipu dan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam hal keuangan," katnya.

Kisah inspiratif kedua datang dari Mesra Zebua, pelaku UMKM kerajinan tangan tas rajut di Gunungsitoli. Mesra adalah peserta pelatihan berbasis kompetensi dari kementerian terkait yang difasilitasi oleh LPK Ziona, Yayasan Gozena Bangkit Berkarya. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Prabowo-Gibran untuk meningkatkan kompetensi kerja dan mendorong UMKM naik kelas.

"Perkenalkan, nama saya Mesra Zebua. Saya adalah pelaku UMKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan, khususnya membuat tas rajut. Saya saat ini mengikuti pelatihan di LPK Ziona untuk menambah pengetahuan dan keterampilan," ujar Mesra. Bagi Mesra, pelatihan ini sangat transformatif. Ia tidak hanya belajar membuat produk yang lebih kreatif, tetapi juga dibekali ilmu pemasaran digital dan pembuatan konten promosi.

"Melalui pelatihan ini, saya mendapatkan banyak manfaat, mulai dari meningkatkan kemampuan dalam membuat produk yang lebih kreatif dan menarik, memahami cara memasarkan produk, membuat konten promosi yang lebih baik, hingga belajar bagaimana mengembangkan usaha agar lebih dikenal oleh masyarakat," kata Mesra.

Ia berharap ilmu tersebut dapat ia terapkan untuk mengembangkan usaha tas rajutnya agar menjangkau lebih banyak pelanggan di luar Nias.

Pendiri Yayasan Gozena Bangkit Berkarya, Rido Favorit Saronitehe Waruwu, membenarkan bahwa dua kisah tersebut adalah cerminan keberhasilan program pemerintah di sektor pendidikan nonformal."Saat ini saya sebagai pendiri yayasan merasakan dampak dari program-program prioritas dari pemerintahan Prabowo-Gibran. Beliau cukup memperhatikan sektor pendidikan khususnya di pendidikan nonformal karena pendidikan nonformal ini menyentuh akar rumput," ujar Rido.

Ia berharap program-program yang telah dirasakan manfaatnya oleh Febertina dan Mesra ini dapat terus berkelanjutan dan pemerataannya merata di seluruh Indonesia, tidak hanya sebagai pilot project.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....