Benarkah Betis Disebut “Jantung Kedua” Tubuh?
- 21 Mei 2026 10:30 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Gaya hidup modern membuat banyak orang semakin jarang bergerak. Aktivitas bekerja di depan komputer, duduk berjam-jam, hingga terlalu lama menggunakan gawai membuat tubuh minim aktivitas fisik. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut tidak hanya memengaruhi kebugaran tubuh, tetapi juga berdampak pada sistem peredaran darah.
Dalam dunia kesehatan, otot betis kerap disebut sebagai “jantung kedua” tubuh. Istilah ini bukan tanpa alasan. Betis memiliki peran penting membantu mengalirkan darah dari kaki kembali menuju jantung.
Ketika seseorang berjalan atau menggerakkan kaki, otot betis akan berkontraksi dan menekan pembuluh darah vena di area tungkai. Proses ini membantu mendorong darah naik melawan gravitasi agar dapat kembali ke jantung dengan lancar. Karena fungsinya menyerupai pompa tambahan, betis kemudian dijuluki sebagai “second heart” atau jantung kedua.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat memperlambat sirkulasi darah, terutama pada bagian bawah tubuh. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association juga menyebutkan bahwa duduk terlalu lama berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kardiovaskular dan metabolisme tubuh.
Selain itu, penelitian dari University of Houston pernah menjelaskan bahwa otot soleus di bagian betis berperan penting dalam membantu menjaga sirkulasi darah dan metabolisme tubuh saat seseorang berdiri maupun bergerak ringan.
Namun ketika seseorang terlalu lama duduk tanpa bergerak, fungsi pompa alami pada betis menjadi kurang aktif. Kondisi ini sering diibaratkan sebagai “betis mati suri” karena otot jarang bekerja membantu aliran darah.
Akibatnya, darah cenderung berkumpul lebih lama di area kaki dan dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti kaki pegal, kesemutan, terasa berat, hingga pembengkakan ringan. Dalam jangka panjang, pola hidup minim gerak juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
Karena itu muncul istilah populer bahwa “kursi adalah musuh jantung”. Maksudnya bukan kursinya yang berbahaya, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama tanpa diselingi aktivitas fisik.
Para ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk rutin bergerak di sela aktivitas harian. Kebiasaan sederhana seperti berdiri setiap satu jam, berjalan kaki singkat, menggunakan tangga, atau melakukan peregangan ringan dapat membantu menjaga kerja otot betis tetap aktif dan mendukung kelancaran sirkulasi darah.
Meski fungsi utama memompa darah tetap dilakukan oleh jantung, peran otot betis sebagai pendukung sirkulasi darah tidak bisa dianggap sepele. Di tengah gaya hidup serba praktis saat ini, menjaga tubuh tetap aktif menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dan tubuh secara keseluruhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....